Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Meneladani Rasulullah di Era Digital: Membangun Islam Berkemajuan, Menyiapkan Generasi Masa Depan

Iklan Landscape Smamda
Meneladani Rasulullah di Era Digital: Membangun Islam Berkemajuan, Menyiapkan Generasi Masa Depan
Muchamad Arifin saat menyampaikan kajiannya. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Alfain jalaluddin ramadlan

Meneladani Rasulullah Saw tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah kelahiran dan perjuangan beliau. Keteladanan Nabi Muhammad Saw justru harus dihadirkan dalam kehidupan hari ini agar umat Islam mampu membaca perubahan zaman, menjawab berbagai tantangan, dan menyiapkan generasi yang tangguh menghadapi masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Al Falah, Perumahan Citra Harmoni, Taman, Sidoarjo, Ahad (30/8/2026).

Dalam kajian tersebut, Muchamad Arifin mengajak jamaah untuk memaknai keteladanan Rasulullah ﷺ secara kontekstual. Menurutnya, kecintaan kepada Nabi tidak cukup diwujudkan melalui peringatan dan seremonial, tetapi harus diterjemahkan menjadi kemampuan umat dalam menghadapi perubahan zaman.

“Dari Rasulullah ﷺ kita belajar menghadapi zaman. Dari Islam kita membangun kemajuan. Dan dari hari ini kita menyiapkan generasi masa depan,” demikian pesan yang menjadi salah satu pokok kajian.

Menurutnya, pesan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan dunia yang berlangsung begitu cepat. Perkembangan teknologi digital, derasnya arus informasi, media sosial, hingga hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan.

Kemajuan teknologi menghadirkan peluang besar. Namun, pada saat yang sama, muncul tantangan yang tidak kalah besar. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, tetapi kebenarannya tidak selalu dapat dipastikan. Media sosial dapat menjadi ruang dakwah dan pendidikan, tetapi juga dapat menjadi tempat berkembangnya hoaks, ujaran kebencian, provokasi, dan berbagai perilaku yang merusak.

Karena itu, menurut Muchamad Arifin, keteladanan Rasulullah ﷺ tidak boleh berhenti sebagai kisah masa lalu. Sirah Nabi harus menjadi sumber nilai untuk menghadapi kehidupan masa kini dan menata masa depan.

Allah SWT menegaskan bahwa dalam diri Rasulullah ﷺ terdapat teladan yang baik bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab: 21).

Ayat tersebut menegaskan posisi Rasulullah ﷺ sebagai uswah hasanah, teladan yang relevan untuk setiap zaman. Meneladani beliau bukan sekadar meniru bentuk kehidupan masa lalu, tetapi mengambil nilai, prinsip, akhlak, keberanian, kecerdasan, dan visi perjuangan beliau untuk diterapkan sesuai konteks kehidupan yang terus berubah.

Rasulullah ﷺ, lanjutnya, adalah sosok yang membangun manusia sebelum membangun peradaban. Beliau membentuk akhlak, menanamkan ilmu, membangun persaudaraan, menegakkan keadilan, dan menyiapkan generasi yang mampu melanjutkan risalah.

“Kemajuan tidak boleh kehilangan arah, dan kecanggihan tidak boleh kehilangan nilai,” tegasnya.

Islam Berkemajuan di Tengah Perubahan

Muchamad Arifin menjelaskan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya untuk takut terhadap perubahan. Islam justru mendorong manusia untuk terus belajar, mengembangkan ilmu pengetahuan, memanfaatkan teknologi, dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan.

Al-Qur’an mengajarkan sebuah doa: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114).

Menurutnya, ayat tersebut memberikan pesan bahwa pencarian ilmu merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Karena itu, menghadapi era digital dan kecerdasan buatan tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi.

Generasi Muslim juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis, membedakan yang benar dan salah, serta memilih mana yang bermanfaat dan mana yang merusak.

Di tengah derasnya arus informasi, seorang Muslim tidak boleh menjadi sekadar konsumen informasi. Ia harus menjadi manusia yang memiliki budaya tabayyun, yakni memeriksa dan memastikan kebenaran sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah informasi.

SMPM 5 Pucang SBY

Allah SWT mengingatkan agar orang beriman meneliti kebenaran suatu berita yang datang kepadanya. (QS. Al-Hujurat: 6).

Prinsip tersebut semakin penting di era media sosial dan AI. Informasi dapat dibuat, dikemas, dan disebarkan dalam hitungan detik. Karena itu, literasi digital harus berjalan bersama literasi agama dan pembentukan akhlak.

Menyiapkan Generasi Masa Depan

Di hadapan jamaah Kajian Ahad Pagi, Muchamad Arifin juga menekankan pentingnya menyiapkan generasi masa depan.

Generasi masa depan tidak cukup hanya dipersiapkan agar cerdas secara akademik. Mereka harus tumbuh sebagai generasi yang beriman, berilmu, berakhlak, kritis dalam berpikir, bijak bermedia sosial, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan bangsa.

Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan bahwa membangun masa depan berarti menyiapkan manusia. Sebab perubahan besar selalu berawal dari kualitas manusia yang mampu membawa perubahan tersebut.

Karena itu, Maulid Nabi ﷺ semestinya tidak berhenti pada perayaan dan pengagungan secara seremonial. Maulid harus menjadi momentum untuk melakukan refleksi: sudah sejauh mana akhlak Rasulullah ﷺ hadir dalam kehidupan kita? Sudahkah ilmu kita melahirkan kemanfaatan? Sudahkah teknologi yang kita gunakan menjadi sarana kebaikan? Dan sudahkah kita menyiapkan generasi yang lebih baik daripada generasi kita hari ini?

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. (HR. Ahmad).

Pesan tersebut, menurut Muchamad Arifin, semakin relevan di tengah kemajuan teknologi. Dunia mungkin semakin canggih, tetapi tanpa akhlak kecanggihan dapat kehilangan arah. AI dapat membantu manusia menghasilkan berbagai hal, tetapi manusialah yang menentukan untuk apa kecerdasan tersebut digunakan.

Karena itu, Islam berkemajuan bukanlah Islam yang meninggalkan nilai-nilai agama demi mengejar modernitas. Islam berkemajuan adalah Islam yang menjadikan wahyu sebagai sumber nilai, ilmu pengetahuan sebagai instrumen kemajuan, teknologi sebagai sarana kemaslahatan, dan akhlak sebagai fondasi kehidupan.

Dari Rasulullah ﷺ kita belajar menghadapi zaman. Dari Islam kita membangun kemajuan. Dan dari hari ini kita menyiapkan generasi masa depan.

Inilah makna keteladanan Rasulullah ﷺ: bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjadikan pesan beliau sebagai cahaya untuk menuntun umat menghadapi masa depan.

Sebab tugas kita bukan hanya mewariskan dunia kepada generasi berikutnya. Tugas kita adalah menyiapkan generasi yang mampu menjaga iman, mengembangkan ilmu, memanfaatkan teknologi, merawat persatuan, dan menghadirkan rahmat bagi semesta.

Allah SWT menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya: 107).

Maka, meneladani Rasulullah  pada akhirnya adalah menghadirkan rahmat di tengah perubahan zaman—mengubah ilmu menjadi kemanfaatan, teknologi menjadi sarana kebaikan, dakwah menjadi pencerahan, dan pendidikan menjadi jalan untuk melahirkan generasi masa depan yang beriman, berilmu, berakhlak, serta mampu membawa Islam sebagai kekuatan peradaban yang mencerahkan. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 30/08/2026 14:01
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu