Ketika bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) berguncang, yang retak bukan hanya fondasi rumah-rumah di Flores. Rasa aman jutaan jiwa pun ikut terguncang. Gempa dahsyat datang tanpa aba-aba. Dalam sekejap, tawa berubah menjadi tangis, kenyamanan menjadi kecemasan, dan kehidupan yang semula berjalan biasa tiba-tiba dipenuhi ketidakpastian.
Di tengah reruntuhan yang berserakan, muncul sebuah pertanyaan mendasar: ketika alam menunjukkan kedahsyatannya, di manakah letak kemanusiaan kita?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu lahir dari pidato politik atau kebijakan negara. Sering kali, ia justru hadir melalui gerakan-gerakan sunyi yang dilakukan oleh mereka yang memilih datang, membantu, dan berdiri bersama para korban.
Di antara gerakan itu, Muhammadiyah menunjukkan bahwa respons terhadap bencana bukan sekadar persoalan bantuan kemanusiaan. Lebih dari itu, ia merupakan manifestasi dari gagasan tentang kemanusiaan universal yang melampaui batas-batas identitas dan dogma agama.
Muhammadiyah, sebagai organisasi yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam, memahami bahwa iman bukanlah menara gading yang membuat seseorang mengasingkan diri dari penderitaan manusia. Iman justru menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya.
Ketika tim medis dikerahkan, infak salat Jumat dihimpun, dan jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) digerakkan untuk membantu korban di Flores—yang mayoritas beragama Katolik dan Kristen—sesungguhnya sedang dipraktikkan sebuah teologi kasih dalam bentuk yang paling nyata.
Tidak ada pertanyaan tentang agama sebelum selimut diberikan. Tidak ada pemeriksaan keyakinan sebelum obat-obatan disalurkan.
Yang dilihat hanyalah manusia yang sedang menderita, yang didengar hanyalah jeritan mereka yang membutuhkan pertolongan.
Pertanyaan yang muncul bukan, “Siapa agamamu?” melainkan, “Siapakah saudaraku yang sedang kesakitan?”
Melampaui Sekat Identitas
Dalam perspektif filosofis, tindakan seperti ini merupakan penolakan terhadap sektarianisme yang sempit. Muhammadiyah menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak boleh berhenti di batas identitas.
Di bawah puing-puing bangunan, darah yang tumpah memiliki warna yang sama. Air mata yang mengalir pun memiliki rasa asin yang tidak berbeda.
Bencana seakan memaksa manusia melepaskan label-label identitas yang selama ini sering menjadi obyek pertentangan. Pada saat seperti itu, kita kembali pada kenyataan paling mendasar: bahwa manusia adalah makhluk rapuh yang saling membutuhkan.
Tidak ada agama yang membuat seseorang kebal terhadap gempa. Tidak ada identitas yang mampu membangun kembali rumah sendirian.
Dalam situasi bencana, manusia menemukan kembali hakikat persaudaraan yang paling mendasar.
Gerakan lintas keyakinan yang muncul dalam penanganan bencana mengajarkan bahwa solidaritas adalah bahasa universal. Ketika tim kesehatan Muhammadiyah merawat korban tanpa memandang latar belakang kepercayaan, mereka tidak hanya menyembuhkan luka fisik.
Mereka juga sedang merawat luka sosial yang selama ini sering muncul akibat prasangka, kecurigaan, dan perpecahan.
Di tengah masyarakat yang kerap mudah terbelah oleh perbedaan agama, politik, dan identitas, tindakan sederhana berupa menolong sesama justru menjadi pesan yang jauh lebih kuat daripada seribu pidato tentang persatuan.
Di situlah makna dakwah menemukan bentuknya yang paling nyata.
Dakwah tidak selalu hadir melalui suara yang keras. Kadang, dakwah hadir melalui tangan yang terulur untuk mengangkat beban sesama.
Kadang, ia hadir melalui seorang relawan yang tidak mengenal siapa orang yang ditolongnya, tetapi tetap memilih datang.
Kemanusiaan sebagai Perekat Kebangsaan
Kepedulian Muhammadiyah terhadap korban bencana di NTT seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Keberagaman agama di Indonesia tidak seharusnya menjadi tembok pemisah.
Sebaliknya, keberagaman adalah mozaik bangsa yang hanya akan tetap indah jika direkatkan oleh kemanusiaan.
Ketika gereja runtuh, masjid terdekat dapat menjadi tempat berlindung. Ketika umat Kristiani berduka, umat Muslim dapat hadir membawa makanan dan bantuan.
Demikian pula sebaliknya.
Inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya: perbedaan cara berdoa tidak pernah seharusnya menghalangi manusia untuk saling mencintai dan menolong.
Bencana memang datang dalam suasana duka. Namun, dari duka itu sering lahir solidaritas yang memperlihatkan sisi terbaik manusia.
Ia menjadi semacam simfoni toleransi yang dimainkan dalam nada kesedihan, tetapi menghasilkan harmoni harapan.
Karena itu, ukuran kemanusiaan sejati tidak hanya dapat dilihat dari seberapa rajin seseorang menjalankan ritual di tempat ibadah. Kemanusiaan juga diuji oleh kepekaan terhadap penderitaan yang terjadi di luar pintu tempat ibadah itu.
Seberapa cepat kita tergerak ketika mendengar jeritan sesama?
Seberapa besar kita bersedia berbagi ketika orang lain kehilangan segalanya?
Muhammadiyah, dengan segala keterbatasannya, telah menunjukkan salah satu jalan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka bergerak bukan semata karena ingin mendapat pujian, melainkan karena keyakinan bahwa melayani manusia yang menderita adalah bagian dari pengabdian kepada Tuhan.
Semoga bantuan yang terus mengalir dari berbagai penjuru negeri menjadi penguat bagi masyarakat NTT untuk bangkit dari luka.
Semoga pula semangat lintas iman dari Muhammadiyah, para relawan, dan seluruh elemen masyarakat menjadi benih perdamaian yang tumbuh subur di tanah Flobamora.
Sebab, pada akhirnya, bencana selalu mengingatkan manusia tentang satu hal yang sederhana: kita mungkin berbeda dalam banyak hal, tetapi penderitaan membuat kita memahami bahwa kita saling membutuhkan.
Dan ketika bumi akhirnya berhenti berguncang, yang akan tetap tinggal dalam ingatan bukan hanya tentang rumah-rumah yang runtuh.
Yang akan dikenang adalah siapa yang datang. Tentang siapa yang mengulurkan tangan. Dan siapa yang memilih hadir.
Karena pada akhirnya, ketika bumi berhenti berguncang, yang tersisa hanyalah cinta yang kita berikan kepada sesama.***





0 Tanggapan
Empty Comments