Ketika hendak berkata, kemudian terlebih dahulu kita memikirkan manfaat dan mudaratnya, sebenarnya kita sedang belajar berpikir menggunakan logika. Berpikir sesuai logika berarti menggunakan akal untuk mempertimbangkan sesuatu sehingga perkataan dan tindakan yang dilakukan dapat membawa manfaat.
Berpikir menjadi bagian penting dalam kehidupan. Apa yang kita pikirkan akan memengaruhi apa yang kita katakan dan lakukan. Karena itu, seseorang perlu membiasakan diri berpikir sebelum berkata maupun bertindak.
Berpikir Sebelum Berkata dan Bertindak
Berpikir sebelum berkata atau bertindak, terutama terhadap hal-hal yang menyimpang, merupakan sesuatu yang penting. Sebaliknya, bertindak atau berbicara tanpa pertimbangan dapat menimbulkan kerugian, bahkan dapat mengarah pada kebohongan.
Dengan terlebih dahulu mempertimbangkan manfaat dari sesuatu yang akan disampaikan, perkataan yang kita ucapkan menjadi lebih teratur, tidak ngawur, apalagi ngelantur.
Keteraturan dalam berkata dapat terlihat dari argumentasi yang dikemukakan serta susunan sebab-akibat yang jelas sehingga mudah dipahami.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Ahzab ayat 70:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”
Orang-orang beriman diperintahkan bertakwa kepada-Nya. Ini menjadi pertanda bahwa orang yang mengaku beriman harus membuktikan keimanannya, bukan sekadar berkata, “Kami beriman”, tetapi tidak melakukan apa-apa.
Selanjutnya, manusia diperintahkan berkata dengan tepat dan benar, tidak mengandung kebohongan maupun sesuatu yang dapat memicu pertengkaran. Perkataan yang baik semestinya membawa kedamaian.
Berkata Baik atau Diam
Dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi was Sallam, beliau bersabda:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” Muttafaq ‘alaih:
Hadis tersebut memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seseorang seharusnya menggunakan lisannya.
Jika perkataan yang disampaikan baik dan didasari pikiran positif, tentu tidak menjadi masalah untuk berbicara. Namun, jika banyak berbicara justru lebih banyak menghasilkan kesalahan, asal bunyi, atau perkataan yang tidak sesuai dengan logika, maka lebih baik diam.
Diam akan lebih berharga daripada berbicara tanpa berpikir.
Berpikir juga dianjurkan dalam Islam. Hal ini diterangkan Al-Qur’an dalam berbagai hal.
Pertama: Kehidupan Akhirat Lebih Baik
Kehidupan dunia bersifat sementara, seperti permainan dan senda gurau. Hal ini diterangkan dalam Surat Al-An’am ayat 32:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”
Ayat ini mengajak kita berpikir dan memahami bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya.
Dengan berpikir dan menyadari bahwa kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia, langkah kita selama hidup di dunia semestinya diarahkan untuk meniti jalan yang benar.
Kedua: Tidak Sama Orang yang Buta dan Melihat
Dalam Surat Al-An’am ayat 50, Allah berfirman:
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
“Mengatakan: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukanku. Mengatakan: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”
Ayat ini menggugah kesadaran kita untuk berpikir dan memahami sesuatu dengan menggunakan akal.
Orang yang buta secara fisik tidak dapat melihat apa yang ada di sekitarnya. Karena itu, ia lebih rentan menabrak sesuatu, bahkan dapat terjatuh karena tersandung batu atau benda lainnya.
Gambaran tersebut dapat menjadi pelajaran bahwa manusia membutuhkan kemampuan untuk melihat, memahami, dan mempertimbangkan sesuatu sebelum menentukan langkah.
Ketiga: Pakaian Takwa Lebih Baik
Dalam Surat Al-A’raf ayat 26 diterangkan tentang pakaian yang digunakan manusia dalam menjalani kehidupan dunia:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu mengingatnya.”
Pada ayat tersebut terdapat pilihan antara pakaian untuk menutup aurat, pakaian sebagai perhiasan, dan pakaian takwa.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala memilihkan bahwa pakaian takwa adalah yang lebih baik. Sebab, pakaian takwa merupakan bentuk pakaian yang tersemat dalam hati dan memiliki nilai yang sangat tinggi, meskipun tidak tampak oleh pandangan mata.
Seseorang akan dipandang mulia oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala apabila mengamalkan hal-hal baik yang diridai-Nya.
Berpikir untuk Menghasilkan Kebaikan
Itulah beberapa contoh pentingnya berpikir dalam kehidupan. Perkataan yang baik lahir dari pikiran yang tertata, sedangkan tindakan yang baik juga membutuhkan pertimbangan yang matang.
Sebaliknya, ketika cara berpikir dan perkataan seseorang tampak tidak teratur, hal tersebut dapat menyebabkan perkataan sulit diterima, tidak masuk akal, dan menimbulkan berbagai masalah.
Karena itu, mari membiasakan diri untuk berpikir sebelum berkata dan bertindak. Pertimbangkan manfaat dan mudaratnya, gunakan akal dengan baik, serta jadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman.
Semoga kita selalu mampu berkata dan bertindak dengan sesuatu yang membawa manfaat serta tidak mengundang masalah yang bernuansa negatif.





0 Tanggapan
Empty Comments