Lini masa media sosial kita belakangan ini diwarnai oleh sebuah diskursus yang menggelitik sekaligus memprihatinkan, yakni maraknya tagar atau narasi “marriage is scary” (pernikahan itu menakutkan). Generasi Z dan milenial mengadopsi fenomena global ini secara masif bukan tanpa alasan.
Di era digital saat informasi mengalir tanpa filter, layar gawai kita setiap hari membombardir pengguna dengan komodifikasi konflik domestik. Komodifikasi ini mulai dari kasus perselingkuhan yang viral, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian tragis, hingga gugatan finansial yang rumit.
Paparan pernikahan yang dianggap menakutkan ini secara perlahan menggeser orientasi masa depan anak muda yang tengah berada pada fase transisi menuju kedewasaan. Mereka yang semula memandang keluarga sebagai tempat singgah aman kini melihatnya sebagai tempat yang menekan, memaksa (tidak menjadi diri sendiri), dan penuh risiko traumatis.
Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 pada tanggal 29 Juni 2026 ini seakan hadir sebagai alarm sosiologis yang tepat. Momen ini bukan hanya sekadar agenda birokratis tahunan yang berisi pidato normatif dan pembagian pamflet keluarga berencana saja.
Maka dari itu, kita harus menjadikan Harganas tahun ini sebagai momentum refleksi kultural untuk mendekonstruksi ketakutan kolektif tersebut. Kita perlu mengajukan sebuah pertanyaan akademis yang mendasar kepada publik.
Apakah institusi pernikahan itu sendiri yang secara inheren cacat dan menakutkan? Ataukah kita sebagai mahasiswa atau generasi muda yang kurang menyiapkan modalitas yang cukup untuk menavigasi bahtera domestik?
Menepis pesimisme terhadap opini marriage is scary memerlukan langkah nyata melalui sebuah rekayasa sosial berbasis edukasi kebahagiaan keluarga yang mendalam, bukan sekadar penyangkalan. Secara teoritis, kacamata sosiologi keluarga membedah bahwa ketakutan anak muda hari ini bersumber dari bias kognitif akibat asimetri informasi.
Media sosial bekerja dengan algoritma yang mengutamakan keterikatan emosional tingkat tinggi. Sayangnya, penderitaan serta skandal domestik jauh lebih menjual daripada keharmonisan yang tenang di ruang digital.
Akibatnya, distorsi realitas terjadi di tengah masyarakat. Anak muda menginternalisasi bahwa kegagalan pernikahan adalah sebuah keniscayaan, sementara keberhasilan hanyalah sebuah anomali.
Beban psikologis pra-nikah menjadi kian berlipat ganda karena tantangan struktural zaman ini, seperti tekanan ekonomi makro, krisis kepemilikan hunian, dan fenomena sandwich generation. Menghadapi kompleksitas ini, pendekatan konvensional yang hanya menekankan aspek keagamaan secara dogmatis tanpa menyentuh realitas empiris tentu tidak lagi memadai.
Di sinilah edukasi kebahagiaan keluarga memegang peranan krusial sebagai kontra narasi yang ilmiah. Edukasi kebahagiaan keluarga bukan hanya sebuah doktrin utopis yang menggambarkan pernikahan sebagai cerita dongeng tanpa celah.
Sebaliknya, kita harus merancang keluarga bahagia sebagai sebuah kurikulum kehidupan yang realistis, adaptif, dan multidimensional. Faktor pertama yang mendesak untuk diintegrasikan adalah kecakapan manajemen konflik dan komunikasi yang jujur, jelas, serta tegas.
Mahasiswa dan generasi muda perlu memahami bahwa konflik dalam rumah tangga bukanlah sebuah kegagalan, melainkan konsekuensi logis dari penyatuan dua insan. Cara mengelola masalah tanpa mengorbankan martabat kemanusiaan masing-masing pasangan menjadi pembeda utama antara keluarga bahagia dan keluarga disfungsional.
Faktor kedua yang paling penting adalah literasi finansial domestik. Kita tidak dapat memungkiri bahwa faktor ekonomi sering memicu tingginya tingkat perceraian di Indonesia pada zaman sekarang.
Edukasi finansial sejak dini mengenai pembagian beban ekonomi, skala prioritas pembelanjaan, mitigasi utang, hingga perencanaan investasi jangka panjang akan mereduksi kecemasan pragmatis anak muda. Kita perlu melihat pernikahan secara objektif sebagai sebuah entitas ekonomi mikro yang membutuhkan tata kelola manajerial yang akuntabel, bukan sekadar ikatan romantisme yang abai akan realitas isi dompet.
Selanjutnya, ada edukasi yang mengambil konsep kemitraan gender yang setara (egalitarian partnership). Perempuan muda menganggap pernikahan sebagai kondisi yang menakutkan karena menuntut mereka hanya berperan dalam urusan rumah tangga saja.
Kondisi tersebut menimpakan seluruh beban pengasuhan anak dan urusan dapur pada satu pihak tanpa memberikan peran di ruang publik. Begitu pula bagi laki-laki muda, beban sebagai satu-satunya penopang finansial di tengah ketidakpastian ekonomi global melahirkan kecemasan tersendiri.
Edukasi keluarga modern harus menekankan bahwa pernikahan adalah sebuah kerja tim. Para pasangan harus mendasarkan pembagian kerja domestik, pengasuhan anak (co-parenting), dan pencarian nafkah pada wilayah negosiasi yang cair serta asas saling meringankan, menghormati, dan mendukung aktualisasi diri.
Sebagai mahasiswa yang berpijak pada nilai-nilai akademis dan kebangsaan, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menyiarkan edukasi ini ke ruang publik. Kita harus menjadi agen yang menata ulang, mengubah, atau menempatkan kembali cara pandang dan pemahaman seseorang terhadap keluarga.
Keluarga termasuk unit terkecil dari ketahanan nasional yang membentuk karakter bangsa ini. Jika ketakutan pra-nikah yang tidak beralasan merapuhkan keluarga, maka struktur sosial makro kita pun akan ikut kacau.
Oleh karena itu, kita harus mengarusutamakan edukasi kebahagiaan keluarga secara masif, baik melalui kurikulum formal, sosialisasi, hingga kampanye kreatif di ruang digital yang akrab dengan kehidupan generasi Z.
Melalui peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 ini, mari kita sepakati bersama bahwa kita tidak perlu menakuti pernikahan secara berlebihan. Namun, kita juga tidak boleh melakukannya hanya dengan modal nekat tanpa persiapan yang matang.
Kita bisa menghilangkan narasi “marriage is scary” dengan mengubah ketakutan yang melumpuhkan (paralyzing fear) menjadi kewaspadaan yang berbasis pada kesiapan (prepared awareness). Dengan membekali diri melalui edukasi yang matang mengenai esensi kebahagiaan keluarga, kita sedang membangun fondasi peradaban yang lebih sehat, waras, dan harmonis dari dalam rumah.***





0 Tanggapan
Empty Comments