Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengenal Penyakit Serakah dan Suka Harta Berlimpah

Iklan Landscape Smamda
Mengenal Penyakit Serakah dan Suka Harta Berlimpah
Serakah merupakan salah satu penyakit qalbu yang berbahaya. Bahayanya bukan hanya menimpa diri sendiri, tapi juga sesama manusia. (Muhsin MK/PWMU.CO).

Mengobati Serakah

Solusi dalam mengobati penyakit serakah dan keserakahan perlu dilakukan agar tidak membuat semakin parah. Sebab keserakahan itu, bukan hanya melahirkan kecurangan, melainkan juga hal -hal mudharat lainnya. Bila penyakit itu dibiarkan akan menular kepada orang-orang di sekitarnya. Itulah bahaya penyakit qalbu, baik serakah, hasad dan lain-lain.

1. Memperkuat iman dan taqwa. Iman dan taqwa ini akan mengendalikan dan membersihkan diri manusia dari berbagai penyakit qalbu dan dosa, termasuk penyakit serakah. Orang beriman dan bertakwa tidaklah mungkin menghimpun dan menumpuk harta berlimpah dengan cara-cara yang batil dan haram. (QS. Al Baqarah:177, An Nisa:29).

Orang-orang beriman dan bertaqwa akan mengeluarkan zakat, infaq dan sedekah dari harta bendanya dalam keadaan apapun. (QS. Al Baqarah:177, Ali Imran:134) Mereka tidak mungkin melakukan perbuatan maksiat dan Munkar. Mereka juga tidak akan berbisnis dengan cara batil dan bertentangan dengan syari’at Islam. (QS. Al Baqarah:188).

Karena iman dan taqwa mereka mendapatkan kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan dan keberkahan. (QS. Al Araf:96) Mereka juga memperoleh kemudahan dan Rezki yang tidak di sangka- sangka. Berbagai kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sepanjang hayatnya tidak akan menderita dan mengalami kesulitan hidup dalam keadaan apapun.(QS. Ath-Thalaq:2-3, Ali Imran:134).

2. Banyak beramal shaleh dan dzariah. Orang- orang yang senantiasa beramal shaleh dan beramal dzariah tidak akan mungkin hidupnya tamak atau serakah pada harta benda dan cinta dunia. Justru dirinya berusaha menghindari perbuatan dosa itu agar amal shaleh dan jariahnya benar- benar murni, tulus dan ikhlas agar diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Para Nabi dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi Sallam telah memberikan contoh dalam beramal shaleh dan amal dzariah dengan ikhlas. Diantaranya Nabi Nuh alaihi sallam telah memberikan contoh beramal shaleh dan amal dzariah membuat bahtera (kapal besar) untuk mengangkut pengikutnya dan hewan yang ada sepasang- sepasang. Beliau melakukan hal itu tanpa meminta upah tapi ikhlas karena perintah dan bimbingan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (QS. Hud:37-38).

SMPM 5 Pucang SBY

3. Berusaha mencari rezeki yang halal. Karena itu Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak melakukan pencucian uang. (QS. Al Baqarah: 188). Uang dan harta bendanya yang diperoleh nya benar-benar dari usaha, kerja dan bisnis yang halal dan berkah. (Al Baqarah:168) Sebagaimana bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Tidak ada unsur riba, gharar, penipuan, dan cara-cara haram lainnya. Beliau juga bersabda, Akan datang suatu masa, orang- orang sudah tidak peduli lagi dengan apa dia mendapatkan harta. Apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram ? (HR. al-Bukhari).

4. Bertaawun dalam kebaikan. Keserakahan juga dapat diatasi dengan bertaawun atau saling tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa. Tolong-menolong akan mengikis keserakahan dalam masyarakat. Namun tolong-menolong dalam keburukan dan kejahatan akan sebaliknya menimbulkan keserakahan, seperti pinjol dan judol. Karena hidupkan taawun di masyarakat dalam kebaikan dan cegah dalam keburukan dan dosa.(QS. Al Maidah:2).

5. Beramal makruf nahi mungkar. Serakah dan menjadi keserakahan seperti yang dilakukan oligarki dalam mengeksploitasi lingkungan, alam dan manusia untuk kepentingan kapitalisme harus dicegah dan ditentang. Dalam nahi mungkar ini resikonya cukup besar sehingga memerlukan keberanian yang tinggi.Orang-orang serakah dan menjalankan aksi keserakahan tidak segan-segan melakukan perbuatan Qabil terhadap adiknya, Habil, yakni pembunuhan atau kekerasan dan intimidasi fisik dan mental. (QS. Ali Imran:104,110, At Taubah:71).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemung- karan, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaan/tindakan); jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya (nasihat); dan jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya (menolak di dalam batin), dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 49).

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 06/06/2026 10:40
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu