Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pencuri Salat Menurut Hadis: Ketika Rukuk dan Sujud Dilakukan Terburu-buru

Iklan Landscape Smamda
Pencuri Salat Menurut Hadis: Ketika Rukuk dan Sujud Dilakukan Terburu-buru
AP Photo
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ketika mendengar kata pencuri, yang terbayang biasanya adalah seseorang yang mengambil harta milik orang lain. Namun, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperkenalkan satu jenis pencurian yang jauh lebih halus dan sering kali tidak disadari, yaitu mencuri dari salatnya sendiri.

Pencurian ini bukan mengambil milik orang lain, melainkan mengurangi hak diri sendiri dalam beribadah kepada Allah. Akibatnya, seseorang kehilangan pahala, kesempurnaan ibadah, bahkan berisiko tidak sah salatnya karena mengabaikan rukun-rukun yang semestinya dipenuhi. Lantas, siapakah pencuri salat menurut hadis?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dari salatnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang mencuri dari salatnya?” Beliau menjawab, “Dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa salat bukan sekadar rangkaian gerakan yang dilakukan untuk menggugurkan kewajiban. Setiap rukuk, sujud, duduk, dan bacaan memiliki aturan yang harus dilaksanakan dengan baik. Ketika seseorang terburu-buru sehingga rukuk dan sujudnya tidak sempurna, ia sebenarnya sedang mengurangi nilai ibadah yang menjadi hak dirinya sendiri.

Salat yang Dilakukan Terburu-buru

Dalam berbagai riwayat, Rasulullah mengingatkan umatnya agar tidak melaksanakan salat dengan tergesa-gesa. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang gerakan salat yang terlalu cepat hingga menyerupai ayam mematuk makanan, atau gerakan yang tidak tenang dan penuh ketergesaan.

Fenomena seperti ini masih sering dijumpai. Ada orang yang salat seolah hanya ingin segera menyelesaikannya. Rukuk dilakukan sekilas, sujud berlangsung sangat singkat, bahkan perpindahan antar gerakan hampir tanpa jeda. Salat yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah berubah menjadi aktivitas rutin yang kehilangan makna.

Padahal, Rasulullah pernah memberikan peringatan keras terhadap orang yang melaksanakan salat dengan cara demikian. Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Jika orang ini mati, maka ia tidak mati di atas agama Muhammad. Ia menyambar salatnya seperti burung elang menyambar daging.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Pentingnya Thuma’ninah

Salah satu unsur penting dalam salat adalah thuma’ninah, yaitu tenang dan mantap pada setiap gerakan. Thuma’ninah bukan sekadar anjuran, melainkan bagian dari rukun salat yang harus dipenuhi.

Hal ini tampak dalam kisah seorang sahabat yang pernah salat di hadapan Rasulullah. Setelah selesai salat, ia menghampiri Rasulullah dan mengucapkan salam. Namun Rasulullah berkata:

“Ulangi salatmu, karena sesungguhnya engkau belum salat.”

Lelaki itu mengulangi salatnya hingga tiga kali, tetapi Rasulullah tetap memberikan jawaban yang sama.

Akhirnya ia bertanya apa kesalahannya. Rasulullah kemudian menjelaskan tata cara salat yang benar, termasuk pentingnya thuma’ninah dalam rukuk, berdiri setelah rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud.

Hadis riwayat Bukhari dan Muslim tersebut menjadi dasar bahwa ketenangan dalam setiap gerakan salat merupakan syarat penting agar salat diterima dan sempurna.

Mengapa Disebut Mencuri Salat?

SMPM 5 Pucang SBY

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud pencuri salat adalah orang yang tidak menyempurnakan pelaksanaan salatnya. Ia mengurangi hak-hak salat dengan cara mengabaikan ketenangan, tidak meluruskan punggung ketika rukuk dan sujud, atau menjalankan gerakan secara tergesa-gesa.

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: “Salat seseorang tidak sempurna apabila dalam rukuk dan sujudnya tulang punggungnya tidak lurus.” (HR. At-Tirmidzi)

Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan bahwa kurangnya kekhusyukan dan thuma’ninah termasuk bentuk pencurian dalam salat. Sebab, ketika seseorang meninggalkan salah satu rukun salat, berarti ia telah mengurangi bagian penting dari ibadah tersebut.

Dengan kata lain, pencurian dalam salat bukanlah tindakan mengambil sesuatu, melainkan menghilangkan kesempurnaan ibadah yang seharusnya diperoleh.

Nasihat Para Sahabat

Peringatan mengenai pentingnya menyempurnakan salat juga datang dari para sahabat Nabi. Diriwayatkan bahwa Hudzaifah RA pernah melihat seseorang salat tanpa menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Setelah salat selesai, beliau berkata:

“Engkau belum salat. Jika engkau meninggal dalam keadaan seperti itu, maka engkau meninggal di luar fitrah yang Allah tetapkan bagi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Al-Bukhari)

Ucapan ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan menyempurnakan rukun-rukun salat. Bukan hanya soal keindahan gerakan, tetapi menyangkut sah atau tidaknya ibadah yang dilakukan.

Menjaga Kesempurnaan Salat

Salat merupakan ibadah yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam Islam. Ia adalah rukun Islam kedua, tiang agama, dan ibadah pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.

Perintah salat pun diberikan langsung kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam melalui peristiwa Isra Mi’raj, tanpa perantara wahyu yang turun ke bumi sebagaimana ibadah lainnya.

Karena itu, salat tidak sepatutnya dilakukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Setiap gerakan harus dijalankan dengan penuh kesadaran, ketenangan, dan penghormatan kepada Allah.

Rukuk yang sempurna, sujud yang khusyuk, serta thuma’ninah dalam setiap gerakan adalah bagian dari menjaga amanah salat.

Jangan sampai kita termasuk orang yang rajin melaksanakan salat, tetapi tanpa sadar justru mencuri dari salat kita sendiri. Sebab, yang paling dirugikan oleh pencurian itu bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri.

Dengan menyempurnakan rukuk, sujud, dan menghadirkan ketenangan dalam ibadah, kita berharap dapat menjalankan salat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 05/06/2026 10:41
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu