Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia semakin sibuk mengejar berbagai target duniawi. Karier, jabatan, harta, popularitas, dan pengakuan sosial seolah menjadi ukuran utama keberhasilan.
Ironisnya, semakin banyak yang berhasil mengumpulkan semuanya, semakin sedikit pula yang memiliki waktu untuk bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa semua ini? Ke mana akhirnya perjalanan hidup ini?
Islam mengajarkan bahwa kecerdasan sejati bukan hanya diukur dari tingginya pendidikan, kecanggihan berpikir, atau kepiawaian mengelola dunia.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam justru memberikan ukuran yang jauh lebih mendalam. Beliau bersabda:
“Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini menghadirkan definisi kecerdasan yang berbeda dari ukuran dunia.
Orang cerdas bukanlah mereka yang sekadar menguasai ilmu pengetahuan dan sukses mengumpulkan kekayaan.
Tetapi juga yang rajin melakukan muhasabah—mengoreksi diri—serta mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal.
Mengingat kematian bukanlah ajakan untuk menjadi pesimis. Sebaliknya, ia adalah cara agar manusia hidup lebih realistis.
Kesadaran bahwa usia memiliki batas membuat seseorang lebih berhati-hati dalam berbicara, bertindak, dan mengambil keputusan.
Ia tidak mudah tergoda oleh keuntungan sesaat yang dapat merugikan kehidupan akhirat.
Sebaliknya, ketika kematian terlupakan, hawa nafsu dengan mudah mengambil alih kendali.
Ambisi menjadi tidak terbatas, menegakkan kejujuran melalui tawar-menawar, dan secara perlahan menggadaikan prinsip demi kepentingan sesaat.
Inilah yang Rasulullah gambarkan sebagai kelemahan sejati: mengikuti hawa nafsu sambil berharap Allah tetap memberikan keselamatan tanpa usaha memperbaiki diri.
Fenomena ini terasa sangat relevan dalam kehidupan sekarang. Tidak sedikit orang yang mengaku beriman, tetapi masih menganggap dosa sebagai sesuatu yang ringan selama tidak banyak orang mengetahuinya.
Ada pula yang menunda taubat dengan alasan masih muda atau merasa masih memiliki banyak kesempatan. Padahal tidak seorang pun mengetahui kapan perjalanan hidupnya akan berakhir.
Mengingat kematian justru melahirkan energi positif. Seseorang menjadi lebih menghargai waktu, menjaga amanah, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta lebih berhati-hati dalam mencari rezeki.
Ia memahami bahwa setiap harta, setiap jabatan, bahkan setiap ucapan kata akan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Al-Qur’an mengingatkan, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185).
Ayat ini bukan sekadar pemberitahuan, tetapi pengingat bahwa kematian adalah kepastian yang menyamakan seluruh manusia.
Tidak ada kekuasaan, kekayaan, maupun teknologi yang mampu menghindarkannya.
Mengisi Sisa Usia
Karena itu, mengingat kematian semestinya tidak menjadikan seseorang takut menjalani hidup, melainkan takut menyia-nyiakan hidup.
Orang yang sadar akan akhir perjalanan justru akan mengisi setiap harinya dengan amal terbaik.
Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, beribadah dengan ikhlas, mencintai keluarganya dengan tulus, dan memberikan manfaat bagi masyarakat karena memahami bahwa semua itu adalah investasi akhirat.
Pada akhirnya, kehidupan bukanlah tentang siapa yang paling lama hidup, melainkan siapa yang paling baik memanfaatkan kesempatan hidup.
Dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhirat adalah tujuan yang sesungguhnya.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang disebut Rasulullah sebagai al-kayyis.
Yaitu orang-orang yang cerdas—yang senantiasa mengevaluasi diri, menundukkan hawa nafsunya, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk bertemu dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sebab, ketika kematian datang, yang menemani bukan lagi harta, jabatan, ataupun popularitas, melainkan amal saleh yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan.***





0 Tanggapan
Empty Comments