Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bojonegoro menggelar Seminar Nasional sebagai puncak peringatan Milad ke-40 di Pendopo Malowopati, Senin (29/6/2026).
Seminar mengusung tema “Rekonstruksi Pendidikan Berbasis Masyarakat: Transformasi Pendidikan dan Penguatan Karakter sebagai Pilar Kemajuan Bangsa”.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Dra. Hj. Nurul Azizah, M.M., Badan Pengurus Harian (BPH) STIT Muhammadiyah Bojonegoro sekaligus Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro Drs. H. Suwito, M.Si., Ketua STIT Muhammadiyah Bojonegoro M. Arif Susanto, MPdI, jajaran dosen, serta ratusan peserta seminar.
Ketua STIT Muhammadiyah Bojonegoro, M. Arif Susanto, MPdI, mengatakan perguruan tinggi dituntut terus berinovasi dalam menghadapi dinamika global di bidang pendidikan.
Menurutnya, seminar nasional ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sistem pendidikan, mengoptimalkan potensi daerah, sekaligus mencetak generasi masa depan yang produktif.
Momentum Milad ke-40 juga menjadi penegasan visi STIT Muhammadiyah Bojonegoro sebagai perguruan tinggi yang unggul, inovatif, dan berjiwa kewirausahaan.
Seminar turut membahas berbagai tantangan pendidikan, mulai dari pengembangan potensi wilayah pedesaan hingga kesiapan Indonesia menghadapi perubahan global.
“Kita dihadapkan pada tugas besar sebagai pendidik untuk mengelola generasi, melindungi forum masa depan, dan menjawab tantangan kemanusiaan yang sejalan dengan visi kampus ke depan,” ungkapnya.
Selain itu, perguruan tinggi didorong melahirkan berbagai program kewirausahaan mahasiswa agar mampu mengubah pola pikir generasi muda dari konsumtif menjadi produktif dan kreatif.
Ketua PDM Bojonegoro, Drs. H. Suwito, M.Si., menegaskan bahwa guru maupun lembaga pendidikan harus terus memperbarui kemampuan agar mampu mengikuti perkembangan zaman.
Menurutnya, media digital kini telah menjadi pusat pendidikan baru yang melengkapi konsep Tri Pusat Pendidikan.
“Dulu, teori klasik menyebutkan ada Tri Pusat Pendidikan, yaitu rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Namun sekarang, media digital telah menjelma menjadi pusat pendidikan baru. Pengetahuan apa pun kini bisa diakses instan melalui Google,” ujarnya.
Ia juga mengimbau para pendidik, khususnya di tingkat TK dan SD, mulai mengenalkan teknologi informasi serta Artificial Intelligence (AI) kepada peserta didik sejak dini agar mereka siap menghadapi masa depan.
Sebagai penutup, Suwito mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pembentukan karakter.
“Apabila manusia bekerja keras dalam detail digital demi mewujudkan visi Indonesia Emas, maka fondasi utamanya adalah masalah kesucian hati dan keteguhan akhlak. Diskusi dan budaya akademik mahasiswa harus bermuara pada penghargaan terhadap keberagaman, yang kelak membawa manfaat bagi dunia dan keselamatan di akhirat,” pungkasnya.
Dalam keynote speech, Wakil Bupati Bojonegoro, Dra. Hj. Nurul Azizah, M.M., menegaskan bahwa kemajuan pendidikan hanya dapat dicapai melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Ia menyampaikan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus meningkatkan investasi di bidang pendidikan melalui program beasiswa.
Pada 2024, anggaran beasiswa mencapai Rp28 miliar, meningkat menjadi Rp34,5 miliar pada 2025, dan kembali naik menjadi Rp40 miliar pada 2026.
Dana tersebut disalurkan melalui empat program, yaitu Beasiswa 1 Sarjana 1 Desa, Beasiswa Saintis bagi mahasiswa perguruan tinggi negeri, Beasiswa Dua Sarjana per Desa, serta bantuan penyelesaian tugas akhir mahasiswa.
Selain itu, ia mengungkapkan masih terdapat 5.199 anak usia sekolah di Bojonegoro yang belum mengenyam pendidikan. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menargetkan penanganan persoalan tersebut dimulai pada tahun ajaran baru Juli 2026.
“Kami mengajak institusi akademik seperti STIT Muhammadiyah untuk berkolaborasi memberikan rekomendasi kebijakan yang konkret. Kami menyambut baik seminar ini dan berharap menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah kabupaten Bojonegoro,” tutupnya.
Seminar nasional ini menghadirkan tiga narasumber, yakni H. M. Yazid Mar’i, MPdI., Wakil Ketua PDM Bidang Dikdasmen dan PNF, Assoc. Prof. Dr. Ibnu Habibi, MPdI., Anggota Dewan Pendidikan Bojonegoro, serta Prof. Dr. H. Zainuddin Maliki, M.Si., Penasihat Menteri Desa dan PDT.
Acara berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari ratusan peserta yang mengikuti seluruh rangkaian seminar hingga sesi diskusi berakhir.





0 Tanggapan
Empty Comments