Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammadiyah Tak Cukup Beridentitas, Harus Mampu Menjawab Tantangan Zaman

Iklan Landscape Smamda
Muhammadiyah Tak Cukup Beridentitas, Harus Mampu Menjawab Tantangan Zaman
Dr. Sholik Al Huda, M.Fil.I (tiga dari kiri). menyampaikan tausiyah dalam Kajian Ahad Pagi PCM Wiyung, Surabaya, Ahad (6/9/2026). Foto: Istimewa

Muhammadiyah menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan identitas sebagai organisasi Islam. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang cepat, ideologi Muhammadiyah dituntut melahirkan cara berpikir dan gerakan yang mampu menjawab persoalan zaman.

Karena itu, menjadi warga Muhammadiyah tidak cukup hanya mengenal simbol, tradisi, maupun identitas persyarikatan. Nilai-nilai Muhammadiyah harus menjelma menjadi keberanian berpikir, keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, kemampuan membaca perubahan, dan kerja nyata yang memberi kemaslahatan.

Pandangan tersebut disampaikan Dr. Sholik Al Huda, M.Fil.I., dalam Kajian Ahad Pagi Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiyung, Surabaya, Minggu (6/9/2026).

Menurut Sholik, inti dari ideologi Muhammadiyah adalah Islam Berkemajuan. Konsep itu menempatkan Islam bukan sekadar sebagai seperangkat ajaran yang diyakini, tetapi sebagai sumber nilai untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

“Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi identitas. Ideologi harus menjadi cara berpikir, cara bersikap, dan cara bergerak dalam kehidupan,” tegas dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya itu.

Ideologi yang Menghasilkan Manusia Merdeka

Sholik menjelaskan, karakter ideologi Muhammadiyah tercermin dalam al-Khasha’ish al-Khams atau lima karakter utama.

Pertama adalah tauhid. Bagi Muhammadiyah, tauhid tidak berhenti pada pengakuan teologis, tetapi harus membentuk manusia yang merdeka.

“Tauhid yang murni seharusnya melahirkan manusia yang merdeka, kritis terhadap ketidakadilan, dan optimistis menghadapi masa depan,” ujarnya.

Manusia bertauhid, dengan demikian, tidak mudah tunduk kepada kepentingan, kekuasaan, maupun berbagai bentuk penghambaan selain kepada Allah.

Karakter kedua adalah menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber ajaran dengan pemahaman yang mendalam, komprehensif, dan kontekstual.

“Di sinilah Muhammadiyah membangun tradisi intelektual keagamaannya. Teks agama tidak cukup dibaca secara kaku, tetapi perlu dipahami pesan dan tujuannya agar mampu menjawab persoalan kehidupan,” ujar Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Umsura ini.

Karakter ketiga adalah ijtihad dan tajdid. Perubahan zaman menuntut keberanian untuk berpikir kritis, rasional, kreatif, dan inovatif.

Bagi Sholik, semangat tajdid penting agar keberagamaan tidak terjebak dalam romantisme masa lalu. Tantangan baru membutuhkan jawaban baru, sementara prinsip dasar agama tetap menjadi pijakan.

Karakter keempat adalah wasathiyah atau moderasi. Sikap ini menempatkan keberagamaan secara proporsional, tidak berlebihan tetapi juga tidak meremehkan prinsip agama.

Sedangkan karakter kelima adalah rahmatan lil ‘alamin. Nilai-nilai Islam harus dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan manusia.

“Ukuran keberagamaan tidak hanya seberapa banyak kita berbicara tentang Islam, tetapi seberapa besar kehadiran Islam memberikan kemaslahatan bagi manusia,” kata Sholik.

SMPM 5 Pucang SBY

Ukuran Kemajuan Ada pada Kemanfaatan

Pandangan tersebut membawa konsekuensi penting bagi Muhammadiyah. Kemajuan tidak cukup diukur dari besarnya organisasi, banyaknya anggota, atau jumlah amal usaha.

“Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai lembaga sosial Muhammadiyah harus dipahami sebagai instrumen untuk menghadirkan nilai Islam dalam kehidupan,” terang Sholik.

Dengan perspektif itu, amal usaha bukan sekadar aset organisasi. Ia merupakan sarana dakwah dan pelayanan yang harus menghasilkan perubahan sosial.

Sholik menyebut profil Muslim Berkemajuan harus dibangun dari sejumlah karakter: memiliki tauhid yang kuat, berpikiran terbuka, mencintai ilmu, adaptif terhadap perubahan, memiliki etos kerja, dan tetap kokoh pada prinsip keislaman.

“Terbuka bukan berarti kehilangan prinsip. Modern bukan berarti meninggalkan agama. Islam Berkemajuan menuntut kita mempertemukan iman, ilmu, dan amal,” tegasnya.

Persoalannya kemudian bukan apakah Muhammadiyah memiliki identitas yang kuat, melainkan apakah identitas tersebut menghasilkan manusia dan gerakan yang mampu memberikan jawaban atas persoalan masyarakat.

Karena itu, penguatan ideologi harus berjalan beriringan dengan pembenahan praksis persyarikatan.

Kajian, pendidikan kader, pengembangan amal usaha, hingga digitalisasi tata kelola perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses membangun Muhammadiyah yang semakin responsif terhadap zaman.

Ketua PCM Wiyung H. Suri Marzuki, S.E., misalnya, mendorong kajian rutin menjadi ruang penguatan kapasitas warga Muhammadiyah.

“Kajian jangan hanya menjadi rutinitas, tetapi harus menjadi ruang untuk menambah wawasan, memperkuat ideologi, dan membangun kemampuan warga Muhammadiyah agar mampu menghadapi perubahan zaman serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris PCM Wiyung Ferry Yudi Antonis Saputro, M.Pd.I., mengajak anggota, pimpinan, guru, dan karyawan amal usaha melakukan migrasi NBM ke E-KTAM.

“Digitalisasi administrasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola persyarikatan yang lebih tertib dan terintegrasi,” katanya.

Namun, imbuh dia, seluruh proses tersebut pada akhirnya harus kembali kepada tujuan yang lebih besar: memastikan Muhammadiyah tidak hanya dikenal karena identitasnya, tetapi karena gagasan, ilmu, karakter, dan manfaat yang dihasilkannya.

“Sebab, menjadi gerakan Islam berkemajuan berarti tidak berhenti pada pertanyaan siapa kita, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih penting: apa yang bisa kita lakukan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik,” tutupnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 06/09/2026 19:55
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA
Search
Menu