Surah Al-Fatihah tidak semestinya berhenti sebagai bacaan wajib dalam salat. Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang setiap hari itu dapat menjadi kerangka berpikir sekaligus peta jalan seorang muslim dalam menjalani kehidupan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Pengajian Keluarga Sakinah yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan di Masjid Al-Azhar, Jalan Dupak Bandarejo Nomor 25, Surabaya, Ahad (6/9/2026).
Guru Besar Ilmu Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Uril Bahruddin, MA, yang menjadi pemateri, mengajak jemaah tidak hanya membaca Al-Fatihah secara lisan, tetapi memahami pesan yang terkandung di dalamnya dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan.
Menurut dia, Al-Fatihah memiliki posisi sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Surah ini dibaca berulang dalam salat setiap hari dan menjadi surah yang memiliki kedudukan khusus dalam ibadah tersebut.
“Al-Fatihah juga dikenal sebagai Ummul Kitab dan As-Sab’ul Matsani, yakni tujuh ayat yang diulang-ulang,” katanya.
Namun, timpal dia, pengulangan itu semestinya tidak sekadar menghasilkan rutinitas bacaan. Ada pesan kehidupan yang perlu dibawa keluar dari ruang salat.
Uril menjelaskan, ayat 1 hingga 4 Al-Fatihah memberikan gambaran tentang orientasi hidup manusia.
“Orientasi berarti tujuan atau arah. Karena itu, kehidupan tidak seharusnya dijalani tanpa tujuan yang jelas,” katanya.
Tujuan diperlukan setidaknya untuk dua hal. Pertama, mengoptimalkan seluruh usaha dan potensi agar bergerak ke arah yang benar. Kedua, memungkinkan seseorang melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dikerjakannya.
“Kalau tidak ada tujuan, bagaimana kita bisa mengevaluasi pencapaian?” demikian substansi yang ditekankan Prof. Uril dalam paparannya.
Prinsip tersebut selaras dengan pesan Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 agar setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok.
Dengan demikian, evaluasi dalam kehidupan seorang muslim tidak berhenti pada ukuran duniawi. Ada dimensi akhirat yang menjadi tujuan akhirnya.
“Orientasi utama seorang muslim adalah mencari rida Allah,” cetus Uril.
Dari sini, kata dia, Al-Fatihah mengajarkan bahwa setiap aktivitas perlu memiliki arah. Bahkan pekerjaan yang sederhana sekalipun akan lebih bermakna ketika ditempatkan dalam orientasi yang benar.
Ayat pertama, misalnya, mengajarkan untuk memulai kebaikan dengan menyebut nama Allah. Ayat kedua meneguhkan bahwa Allah adalah Rabb seluruh alam, termasuk sumber rezeki manusia.
“Karena itu, persoalan rezeki bukan sekadar tentang bagaimana mendapatkannya, tetapi juga bagaimana mempertanggungjawabkan sumber dan penggunaannya,” papar Uril.
Ayat ketiga menghadirkan kesadaran tentang keluasan kasih sayang Allah melalui sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Sementara ayat keempat mengarahkan kesadaran manusia kepada Yaum ad-Din, hari pembalasan.
“Rangkaian tersebut membangun satu kesadaran penting: kehidupan dunia tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan kehidupan akhirat,” ujar dia.
Kesadaran inilah yang menurut Prof. Uril dapat melahirkan sikap optimistis sekaligus bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Bukan Hanya Tujuan, tetapi Juga Sistem
Jika ayat 1 hingga 4 berbicara tentang orientasi, ayat 5 hingga 7 memberikan gambaran tentang sistem dan jalan hidup.
Ayat kelima menegaskan, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” — hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Menurut Prof. Uril, ibadah tidak boleh dipersempit hanya pada aktivitas ritual. Ibadah merupakan jalan hidup yang mencakup seluruh tindakan yang diridai Allah.
“Karena itu, bekerja, belajar, mengelola keluarga, bermasyarakat, menjalankan amanah, bahkan aktivitas sosial dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dalam kerangka mencari rida Allah,” paparnya.
Uril juga mengingatkan bahwa makna dasar ibadah berkaitan dengan upaya perbaikan. Artinya, kehidupan seorang muslim semestinya bergerak menuju keadaan yang lebih baik.
Pesan tersebut diperkuat dengan Surah Adz-Dzariyat ayat 56 tentang tujuan penciptaan jin dan manusia untuk beribadah kepada Allah.
“Menentukan tujuan dan sistem hidup tidak berarti perjalanan akan selalu mudah,” katanya.
Ayat keenam Al-Fatihah mengajarkan permohonan, “Ihdinash-shirathal mustaqim” — tunjukilah kami jalan yang lurus.
Uril menjelaskan, manusia akan selalu menghadapi tantangan dalam menjalankan kehidupannya. Tantangan itu dapat muncul dari dalam diri maupun dari lingkungan.
Karena itu, manusia membutuhkan pertolongan Allah. Doa bukan sekadar permintaan ketika seseorang berada dalam kesulitan, tetapi bagian dari sistem kehidupan seorang muslim.
“Ada kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan karena itu membutuhkan bimbingan serta pertolongan Allah dalam setiap langkahnya,” tutr Uril
Al-Fatihah Mengajarkan Belajar dari Model Kehidupan
Ayat terakhir kemudian membawa manusia pada persoalan keteladanan.
Allah menunjukkan jalan orang-orang yang mendapatkan nikmat sekaligus memperlihatkan jalan orang-orang yang dimurkai dan tersesat.
“Pesannya sederhana tetapi mendalam: manusia perlu memilih siapa yang akan diteladani dan jalan mana yang akan ditempuh,” jelas Uril.
Dalam kehidupan, seseorang tidak cukup hanya memiliki tujuan. Ia juga membutuhkan model untuk mencapai tujuan tersebut.
Karena itu, kisah para nabi, syuhada, dan orang-orang saleh tidak sekadar menjadi cerita masa lalu. Mereka merupakan contoh konkret bagaimana nilai-nilai kebenaran dijalankan dalam kehidupan.
Sebaliknya, jalan orang-orang yang menyimpang menjadi pelajaran agar tidak diikuti.
“Dari rangkaian tersebut, Al-Fatihah dapat dipahami sebagai sebuah kerangka kehidupan yang utuh: menentukan orientasi, menjalankan sistem, memohon pertolongan Allah, lalu memilih jalan dan teladan yang benar,” jabar Uril.
Pengajian Keluarga Sakinah PCM Krembangan akhirnya tidak sekadar mengajak jemaah memahami tafsir sebuah surah. Lebih jauh, pengajian tersebut mengajak menghadirkan Al-Fatihah dalam keputusan dan perilaku sehari-hari.
Al-Fatihah yang dibaca dalam salat seharusnya memiliki konsekuensi dalam kehidupan setelah seseorang mengucapkan salam.
Jika Al-Fatihah mengajarkan orientasi kepada Allah, maka kehidupan harus diarahkan kepada rida-Nya. Jika Al-Fatihah mengajarkan ibadah, maka seluruh aktivitas perlu ditempatkan dalam kerangka pengabdian.
Jika Al-Fatihah mengajarkan permohonan jalan yang lurus, maka setiap keputusan harus terus diuji agar tidak keluar dari jalan tersebut.
Dengan cara pandang itu, Al-Fatihah bukan sekadar surah yang paling sering dibaca, tetapi juga peta yang membantu seorang muslim menentukan ke mana hidup diarahkan, bagaimana menjalaninya, dan siapa yang layak dijadikan teladan.
Pesan inilah yang menjadi ruh Pengajian Keluarga Sakinah PCM Krembangan: menjadikan bacaan yang terus diulang setiap hari itu benar-benar hidup dalam pikiran, sikap, keluarga, dan kehidupan sosial. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments