Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menggelar Konsolidasi Organisasi dan Monitoring-Evaluasi (Monev) bersama jajaran pengurus MUI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis-Jumat (17-18/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Yogyakarta tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi kelembagaan, menyelaraskan visi, serta mengevaluasi program kerja MUI di tingkat daerah.
Melalui agenda ini, MUI Pusat dan MUI DIY juga berupaya memastikan program organisasi semakin dirasakan manfaatnya oleh umat dan masyarakat di tingkat akar rumput.
Delegasi MUI Pusat yang hadir dalam agenda tersebut antara lain Koordinator Wilayah (Korwil) MUI Pusat sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Hukum MUI Pusat, Dr. M. Ihsan Tanjung; Bendahara MUI, Hj. Diana Dewi, SE.; serta Tim Monev sekaligus Wakil Sekretaris Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) MUI Pusat, Muhammad Abdullah Darraz, MA., M.Ud.
Kedatangan delegasi MUI Pusat disambut jajaran pimpinan MUI DIY, di antaranya Ketua Umum MUI DIY, Prof. Dr. Machasin; Sekretaris Umum, Drs. Wijdan al-Arifi; beserta jajaran pengurus komisi, badan, dan lembaga di lingkungan MUI DIY.
Koordinator Wilayah MUI Pusat sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Hukum MUI Pusat, Dr. M. Ihsan Tanjung, mengatakan konsolidasi dan monev tidak hanya berkaitan dengan aspek administratif organisasi.
“Konsolidasi dan Monev ini bukanlah sekadar agenda administratif tahunan, melainkan bentuk ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa denyut nadi perjuangan MUI Pusat selaras dengan apa yang dikerjakan oleh kawan-kawan di daerah. DIY dengan dinamika keagamaannya yang khas membutuhkan pendekatan dakwah yang kolaboratif, dan MUI siap hadir sebagai tenda besar umat Islam,” ungkap Dr. Ihsan Tanjung dalam pengarahannya.
Sementara itu, Muhammad Abdullah Darraz memberikan penekanan mengenai pentingnya monitoring dan evaluasi untuk menjaga keberlanjutan sekaligus mempercepat pelaksanaan program MUI di tingkat provinsi.
“Monitoring dan evaluasi ini merupakan instrumen fundamental untuk memetakan kekuatan sekaligus tantangan yang dihadapi oleh kepengurusan di tingkat daerah. Kami ingin memastikan bahwa roda pergerakan organisasi MUI, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, semakin terukur, kokoh, dan berdampak luas bagi ummat dan masyarakat,” tegas Darraz.
Menurut Darraz, DIY memiliki posisi strategis karena karakteristiknya sebagai pusat pendidikan dan ruang perjumpaan berbagai budaya.
“Yogyakarta memiliki karakteristik istimewa sebagai episentrum pendidikan dan simpul perjumpaan berbagai budaya. Oleh karena itu, penguatan struktur dan sinkronisasi program melalui monev ini sangat krusial. Harapannya, mesin pergerakan MUI DIY bisa berputar lebih cepat dan efektif, sehingga kehadirannya semakin relevan dan memberikan dampak nyata dalam memandu umat di tengah tantangan zaman,” tambahnya.
Prof. Dr. Machasin selaku tuan rumah menegaskan kesiapan MUI DIY untuk terus melakukan pembenahan dan meningkatkan kapasitas kelembagaan.
Ia juga mengapresiasi kehadiran tim MUI Pusat sebagai ruang dialog yang konstruktif untuk membahas berbagai tantangan dakwah kekinian di Yogyakarta.
Selain konsolidasi internal, delegasi MUI Pusat juga melakukan kunjungan silaturahmi dan dialog kebangsaan ke dua pusat kegiatan keumatan di Yogyakarta, yakni Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak dan Masjid Jogokariyan.
Di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, rombongan MUI berdialog langsung dengan para pengasuh pondok untuk menyerap aspirasi dari kalangan pesantren.
Dialog tersebut membahas pentingnya peran pesantren dalam menjaga tradisi keilmuan Islam atau tafaqquh fiddin, sekaligus mencetak kader ulama masa depan yang memiliki wawasan kebangsaan.
Selanjutnya, rombongan MUI Pusat mengunjungi Masjid Jogokariyan. Kunjungan tersebut difokuskan pada dialog bersama Badan Takmir Masjid.
Dalam kunjungan itu, rombongan mengamati sekaligus bertukar pikiran mengenai tata kelola masjid yang meliputi idarah, imarah, dan ri’ayah.
Masjid Jogokariyan selama ini menjadi salah satu rujukan dalam pengelolaan masjid, khususnya dalam pemberdayaan ekonomi dan sosial jamaah.
Melalui rangkaian agenda selama dua hari tersebut, MUI Pusat berharap konsolidasi organisasi dari tingkat pusat hingga daerah semakin solid dan responsif terhadap berbagai isu keumatan.
Penguatan kelembagaan juga diharapkan dapat mengoptimalkan peran ulama sebagai pelayan umat (khadimul ummah) sekaligus mitra pemerintah (shodiqul hukumah).





0 Tanggapan
Empty Comments