Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Orasi Perjuangan Ketua Baru STAIM Paciran: Jabatan Ini Amanah, Saatnya Bergerak dan Bangkit Bersama

Iklan Landscape Smamda
Orasi Perjuangan Ketua Baru STAIM Paciran: Jabatan Ini Amanah, Saatnya Bergerak dan Bangkit Bersama
Serah terima jabatan Ketua STAIM Paciran. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Gelora optimisme dan semangat perubahan membuncah memenuhi Ruang Auditorium ketika Dr. Hj. Ummi Rosyidah, M.Pd., berdiri menyampaikan pidato perdananya sebagai Ketua STAI Muhammadiyah Paciran masa bakti 2026–2030.

Momentum tersebut bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan biasa. Di tengah derasnya tantangan dunia pendidikan tinggi Islam yang semakin kompetitif, sambutan itu menjelma menjadi seruan perjuangan, ajakan kebangkitan, sekaligus penegasan bahwa lembaga pendidikan Islam harus bergerak lebih maju, lebih berani, dan lebih visioner menghadapi masa depan.

Dengan suara mantap dan penuh keyakinan, Dr. Ummi Rosyidah menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menjadikan jabatan sebagai ambisi pribadi ataupun simbol kehormatan.

Baginya, kepemimpinan adalah amanah besar yang menuntut pengorbanan, keikhlasan, dan tanggung jawab yang tidak ringan.

“Saya tidak datang untuk mencari kebanggaan. Jabatan ini bukan kedudukan untuk dimuliakan. Ini adalah amanah perjuangan yang akan dipertanggungjawabkan,” tegasnya disambut perhatian penuh seluruh hadirin.

Pernyataan tersebut menjadi titik awal pidato yang sarat energi moral dan semangat pengabdian. Di saat banyak orang berlomba mengejar posisi dan kekuasaan, Dr. Ummi Rosyidah justru menghadirkan wajah kepemimpinan yang berpijak pada nilai perjuangan dan pelayanan.

Di hadapan civitas akademika, para dosen, pimpinan unit pendidikan, dan tokoh Muhammadiyah Karangasem, ia kemudian mengutip sebuah syair Arab penuh makna yang menggugah semangat:

“Jika engkau memiliki impian, jangan pernah berhenti hingga engkau mampu menggapai setinggi langit.”

Syair tersebut seolah menjadi api yang menyala di tengah ruang auditorium. Kalimat itu bukan sekadar motivasi, melainkan manifesto perjuangan untuk membawa STAI Muhammadiyah Paciran melompat lebih jauh menuju perguruan tinggi Islam yang unggul, modern, kompetitif, namun tetap kokoh dalam nilai-nilai keislaman dan tradisi pesantren.

Sebagai perempuan yang kini mengemban tongkat kepemimpinan perguruan tinggi Islam, Dr. Ummi Rosyidah juga menegaskan bahwa kiprah perempuan di ruang publik bukanlah hal yang bertentangan dengan syariat.

Ia mengutip pandangan ulama besar Wahbah Zuhaili yang menyebut perempuan dapat berperan aktif di ruang publik selama tetap menjaga nilai-nilai agama dan ridha keluarga.

Pernyataan itu disampaikan bukan sekadar sebagai legitimasi, melainkan penegasan bahwa perempuan muslimah mampu tampil sebagai penggerak perubahan, pemimpin pendidikan, sekaligus penjaga nilai moral di tengah arus zaman yang terus berubah cepat.

Namun pidato tersebut tidak berhenti pada semangat simbolik. Dr. Ummi Rosyidah langsung memetakan tantangan besar yang kini berada di depan mata.

Ia menyebut dunia pendidikan tinggi Islam sedang menghadapi tekanan besar: kompetisi global, percepatan teknologi, perubahan pola pikir generasi muda, hingga tuntutan mutu dan profesionalisme lembaga.

Karena itu, ia menolak pola kepemimpinan yang eksklusif dan berpusat pada satu figur. Sebaliknya, ia memilih membangun kepemimpinan kolektif yang bergerak bersama, saling menguatkan, dan saling melayani.

SMPM 5 Pucang SBY

Dengan penuh optimisme, ia memperkenalkan tiga fondasi kepemimpinan yang akan menjadi arah perjuangan STAI Muhammadiyah Paciran lima tahun ke depan.

Pertama, servant leadership, yaitu kepemimpinan yang hadir untuk melayani, bukan dilayani. Pemimpin harus menjadi pelayan bagi kemajuan civitas akademika dan kebutuhan umat.

Kedua, authentic leadership, kepemimpinan yang menjunjung tinggi kejujuran, keterbukaan, integritas, dan transparansi dalam setiap kebijakan.

Ketiga, distributed leadership, yakni kepemimpinan kolaboratif yang menghapus ego sektoral dan mengedepankan musyawarah serta kebersamaan dalam membangun institusi.

“Tidak boleh ada keegoisan. Tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kita harus bergerak bersama, berpikir bersama, dan berjuang bersama,” ujarnya penuh semangat.

Pidato itu berkali-kali disambut anggukan dan perhatian serius para hadirin. Sebab yang disampaikan bukan sekadar konsep kepemimpinan teoritis, melainkan ajakan nyata untuk membangun budaya kerja baru yang lebih progresif, terbuka, dan penuh semangat pengabdian.

Ia juga mengingatkan bahwa sebesar apa pun visi yang dibangun, semuanya tidak akan berjalan tanpa keikhlasan dan rasa tanggung jawab bersama.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh unsur pendidikan di bawah naungan Karangasem Muhammadiyah Paciran untuk saling menguatkan dan menjaga kekompakan dalam menghadapi berbagai pekerjaan rumah besar ke depan.

“Kami memohon doa, dukungan, kritik, dan masukan dari seluruh kepala sekolah dan keluarga besar Karangasem. Amanah ini terlalu berat jika dipikul sendiri,” tuturnya dengan nada haru namun tetap penuh keteguhan.

Pidato perdana itu kini menjadi pembicaraan hangat di lingkungan akademik Karangasem. Banyak pihak menilai sambutan tersebut bukan hanya menghadirkan harapan baru, tetapi juga membangkitkan energi perjuangan bagi kemajuan pendidikan Islam di kawasan pesisir Lamongan.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak sangat cepat, STAI Muhammadiyah Paciran tampak ingin menegaskan satu hal penting: pendidikan Islam tidak boleh tertinggal.

Ia harus tampil sebagai pusat lahirnya generasi yang cerdas, tangguh, berintegritas, dan siap memimpin peradaban. Dan dari podium sederhana di Karangasem Paciran itu, semangat perjuangan tersebut mulai dikobarkan.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 25/05/2026 15:58
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡