Orang tua tidak cukup hanya membatasi penggunaan gawai pada anak. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan pendampingan yang kuat sejak usia dini agar anak tidak tumbuh mengikuti arus digital tanpa arah. Orang tua juga perlu waspada mendampingi anak digital native sejak usia dini.
Pesan itu disampaikan praktisi pendidikan Najib Sulhan, MA saat menjadi narasumber Parenting Education dan Sosialisasi Program Tahun Ajaran 2026/2027 di KB Aisyiyah 7 dan TK Aisyiyah 31, Sabtu (11/7/2026).
Kegiatan yang diikuti lebih dari 50 orang tua tersebut mengangkat tema “Mendidik Anak di Era Digital Native” sebagai bekal menghadapi tantangan pengasuhan di era teknologi.
Untuk menggugah kesadaran peserta, Najib membuka sesi dengan dua pertanyaan sederhana. “Siapa yang tidak punya HP?” tanyanya.
Tidak satu pun peserta mengangkat tangan. Seluruh orang tua hanya tersenyum, menandakan bahwa gawai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
“Kalau semua memiliki gawai, berarti gawai sudah menjadi kebutuhan. Karena itu orang tua harus mampu memanfaatkannya secara bijak sekaligus waspada dalam penggunaannya,” ujarnya.
Pertanyaan berikutnya tak kalah menarik. “Saat bangun tidur, apa yang pertama kali dilakukan?”
Sekitar separo peserta serempak menjawab bahwa mereka langsung membuka telepon genggam, baik untuk melihat waktu, membaca pesan yang masuk, maupun mengecek informasi lainnya.
Jawaban tersebut, menurut Najib, menjadi gambaran betapa teknologi telah mengubah kebiasaan keluarga. Karena itu, orang tua perlu lebih sadar bahwa anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari teladan yang mereka lihat setiap hari.
Dalam pemaparannya, Najib kemudian mengajak peserta kembali kepada konsep pendidikan keluarga dalam Al-Qur’an, khususnya kisah keluarga Imran yang termuat dalam Surah Ali Imran ayat 35–37.
“Meski Imran bukan nabi maupun rasul, namanya diabadikan menjadi salah satu surah dalam Al-Qur’an. Dari kisah tersebut, terdapat lima prinsip pengasuhan yang tetap relevan diterapkan di era digital,” ujarnya.
Kelima prinsip tersebut, sebut Najib, meliputi bernazar atau memiliki komitmen sejak anak masih dalam kandungan, selalu berprasangka baik kepada anak sebagai amanah Allah, memberikan nama terbaik, mendoakan agar anak mendapat perlindungan dari godaan setan, serta menghadirkan pendamping atau guru yang mampu membimbing tumbuh kembang anak.
Najib lalu menjelaskan, Allah SWT menghadirkan Nabi Zakariya sebagai pendamping bagi Maryam. Setiap kali Nabi Zakariya memasuki mihrab, seluruh kebutuhan Maryam telah tercukupi. Kisah itu menunjukkan pentingnya lingkungan yang baik dan pendamping yang tepat dalam proses pendidikan anak.
Dia juga menegaskan bahwa Allah mengabulkan doa Hannah, ibu Maryam. Hal tersebut menjadi bukti bahwa doa seorang ibu memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk masa depan anak.
“Di era digital native seperti sekarang, peran orang tua justru semakin penting. Teknologi tidak bisa dijauhkan dari anak, tetapi anak harus didampingi agar mampu memanfaatkannya secara benar,” tegasnya.
Menurut Najib, anak merupakan peniru yang sangat kuat. Apa yang didengar akan ditirukan, apa yang dilihat akan dicontoh, dan apa yang dirasakan akan membentuk cara berpikir maupun perilakunya. Karena itu, pengawasan dan keteladanan orang tua menjadi kunci utama dalam pengasuhan di era digital.
Usai sesi parenting, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi program pembelajaran KB Aisyiyah 7 dan TK Aisyiyah 31 untuk Tahun Ajaran 2026/2027. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments