Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kota Sumenep melaksanakan silaturahmi dengan Pimpinan Ma’had Tahfidz Qur’an Al Uswah Sumenep, Selasa (11/8/2026). Pertemuan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.
Silaturahmi tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk saling mengenal, tetapi juga menjadi momentum membangun sinergi dalam bidang pendidikan, dakwah, kaderisasi, dan pelayanan sosial bagi masyarakat.
Pimpinan dan Pengasuh Ma’had Tahfidz Qur’an Al Uswah, Ust. Seno Abu Khoir, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kunjungan PCM Kota Sumenep. Ia memaknai kehadiran Muhammadiyah di Al Uswah bukan sekadar kunjungan kelembagaan, melainkan bentuk perhatian, kasih sayang, dan penguatan ukhuwah.
“Saat dunia mengucilkan kita, ada Muhammadiyah yang mau hadir bersama kita. Kami bersyukur bisa dikunjungi oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kota Sumenep.”
Menurutnya, Al Uswah memiliki banyak hal yang dapat dipelajari dari pengalaman dan nilai perjuangan Muhammadiyah. Salah satunya prinsip, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Nilai tersebut dinilai relevan dalam membangun budaya kelembagaan yang menempatkan pengabdian dan kemanfaatan sebagai orientasi utama.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan tidak menjadikan perbedaan dalam persoalan khilafiyah sebagai penghalang untuk bekerja sama. Semangat tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
“Ukhuwah perlu kita dahulukan daripada memperbesar perbedaan khilafiyah. Semoga silaturahmi ini terus berkembang menjadi sinergi, saling mengenal, saling menguatkan, dan bersama-sama memberikan manfaat bagi umat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kota Sumenep menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya pertemuan tersebut. Ia mengajak Al Uswah dan Muhammadiyah melihat berbagai potensi yang dapat dipertemukan dan dikembangkan bersama.
Pesan penguatan juga disampaikan Drs. KH. M. Yasin, M.H.I., Penasehat dan Sesepuh Muhammadiyah yang juga Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Sumenep. Ia menegaskan, kekuatan besar akan terbentuk ketika berbagai potensi dan elemen umat berhimpun dalam satu orientasi perjuangan.
Menurutnya, hubungan antara kader Muhammadiyah dan kader Tahfidz Al Uswah dapat menjadi bentuk penyatuan kekuatan, baik dalam aspek pemikiran, kaderisasi, maupun kerja-kerja konkret di tengah masyarakat.
Namun, setiap kekuatan tentu memiliki tantangan. Karena itu, tantangan perlu dibaca sebagai bagian dari proses untuk mencapai cita-cita dan agenda besar bersama.
“Sambung silaturahmi, sambung kasih sayang,” pesannya.
Al Uswah dan Muhammadiyah Punya Kedekatan Sejarah
Dalam kesempatan tersebut, Ust. Nur Amin, salah satu muassis dan perintis Al Uswah, menyampaikan sekilas sejarah perjalanan lembaga yang mulai dirintis pada 1996–1997.
Ia menjelaskan, perkembangan Al Uswah hingga saat ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Sementara itu, Ust. Ashari selaku Ketua Yayasan Al Uswah menuturkan bahwa sejak awal, sejumlah tokoh pergerakan yang terlibat dalam perjalanan Al Uswah memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah. Ia sendiri pernah aktif di Lembaga Dakwah Khusus Muhammadiyah.
Menurutnya, secara umum terdapat kedekatan yang cukup kuat antara Al Uswah dan Muhammadiyah, baik dalam aspek akidah maupun fikih. Perbedaan yang ada merupakan bagian dari dinamika keilmuan yang tidak semestinya menghalangi kerja sama dalam wilayah yang lebih luas.
“Garapan kita masih banyak untuk kemanfaatan umat. Muhammadiyah ke Al Uswah, Al Uswah ke Muhammadiyah. Monggo bersinergi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kebersamaan merupakan titik awal yang penting. Dari silaturahim yang terjaga, komunikasi dapat berkembang menjadi penyatuan program dan kerja kolaboratif yang lebih konkret.
“Sing penting kumpul, nanti terus bersinergi dan menyatukan program,” tuturnya.
Pertemuan tersebut dihadiri jajaran PCM Kota Sumenep, Yayasan Al Uswah, para muassis dan perintis Al Uswah, serta para asatidz Ma’had Tahfidz Qur’an Al Uswah.
Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Ust. Seno Abu Khoir, M.Pd.
Silaturahim ini diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk membangun kepercayaan, menyatukan potensi, dan merumuskan kerja sama yang konkret.
Muhammadiyah dan Al Uswah memiliki ruang pengabdian yang luas untuk bersama-sama memperkuat pendidikan, kaderisasi, dakwah, serta menghadirkan kemanfaatan yang lebih besar bagi umat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments