Dia mengembangkan formulasi berbasis polimer yang dapat terurai secara alami di dalam tubuh. Dalam penelitiannya, ia memanfaatkan kombinasi antibiotik gentamisin dan minyak jintan hitam (Nigella sativa).
Di tengah proses penelitian, muncul persoalan yang tidak sesuai dengan perkiraan. Kadar obat yang diperoleh jauh lebih rendah daripada yang diharapkan.
Jika eksperimen diteruskan tanpa mengatasi persoalan tersebut, hasilnya berisiko tidak memberikan khasiat sebagaimana yang ditargetkan.
Sanower tidak langsung menyimpulkan bahwa formulasi yang dikembangkannya gagal. Ia meninjau kembali tahapan eksperimen, memeriksa arahan pembimbing, dan menghitung ulang formulasi obat yang digunakan.
Dari pemeriksaan itu, ia menemukan kesalahan perhitungan pada beberapa tahap. Ia kemudian menyusun kalkulasi ulang dan memberanikan diri mempresentasikan temuannya kepada pembimbing. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting dalam perjalanan ilmiahnya.
Bagi Sanower, seorang peneliti tidak boleh menerima setiap instruksi secara kaku tanpa memahami landasan ilmiahnya.
Ketika hasil eksperimen tidak sesuai dengan teori atau perkiraan, peneliti harus berani memeriksa kembali proses yang telah dijalankan.
Kuncinya terletak pada pemahaman konsep, ketepatan perhitungan, dan kemampuan menguji hasil berdasarkan kaidah sains.
“Saya belajar banyak dari kejadian tersebut,” kenangnya.
Pengalaman itu bukan sekadar membantunya menyelesaikan persoalan teknis dalam penelitian. Lebih dari itu, ia belajar bahwa keberanian mempertanyakan sesuatu justru menjadi bagian penting dari tanggung jawab seorang ilmuwan.
Disertasinya kemudian mendapat pengakuan dari IIUM. Pada konvokasi atau wisuda ke-38 IIUM tahun 2022, Sanower menerima penghargaan sebagai mahasiswa terbaik.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu penanda perjalanan akademiknya. Namun, bagi Sanower, proses belajar dan keberanian menghadapi persoalan penelitian tetap menjadi bekal yang jauh lebih penting.
Dari Laboratorium Kembali ke Ruang Kelas
Setelah meraih gelar doktor, Sanower melanjutkan kiprahnya melalui program postdoctoral fellowship di Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah.
Di sana, ia meneliti pemanfaatan limbah pertanian untuk menghasilkan nanomaterial melalui pendekatan yang lebih ramah lingkungan.
Selama sekitar tiga tahun berkecimpung dalam penelitian pascadoktoral, ia semakin memperluas pengalaman ilmiahnya. Laboratorium memberinya ruang untuk mengembangkan gagasan, menguji hipotesis, dan menghasilkan temuan baru.
Namun, ada satu hal yang dirindukannya: berbagi pengetahuan secara langsung dengan mahasiswa.
Kesibukan sebagai peneliti memberinya kesempatan untuk mendalami ilmu, tetapi ruang interaksi di kelas tidak sebanyak yang ia inginkan.
Sanower ingin mahasiswa tidak hanya membaca hasil penelitian yang sudah jadi. Ia ingin mereka memahami bagaimana sebuah temuan diperoleh, bagaimana peneliti menghadapi kegagalan, dan mengapa hasil eksperimen perlu diperiksa secara kritis.
“Posisi akademik itu penting,” tegasnya.
Keinginan untuk menggabungkan penelitian dan pengajaran itulah yang membawanya ke Indonesia.
Sejak Juni 2025, Sanower resmi bergabung sebagai dosen di Fakultas Farmasi UMS. Di kampus ini, ia tidak hanya mengembangkan penelitian, tetapi juga membimbing mahasiswa dalam mengerjakan riset, baik pada jenjang sarjana maupun magister.
Pengalaman internasional yang diperolehnya menjadi bekal untuk memperkenalkan cara berpikir ilmiah kepada mahasiswa. Ia mendorong mereka memahami persoalan penelitian secara mendalam, bukan sekadar mengikuti prosedur demi memperoleh hasil yang diharapkan.
Baginya, ruang kelas dan laboratorium bukanlah dua dunia yang terpisah. Penelitian memberikan bahan untuk pembelajaran, sedangkan interaksi dengan mahasiswa membuka peluang munculnya pertanyaan dan gagasan baru.
Di titik inilah ia menemukan ruang pengabdian yang sesuai dengan keyakinannya: mengembangkan ilmu sekaligus membagikannya kepada generasi berikutnya.






0 Tanggapan
Empty Comments