Dukungan Ayah dan Pengakuan Dunia
Sanower lahir di Tangail, sebuah kota sekitar 100 kilometer di barat laut Dhaka, ibu kota Bangladesh.
Di keluarganya, ia menjadi satu-satunya orang yang berhasil meraih gelar doktor. Pencapaian itu tidak terlepas dari dukungan ayahnya, yang semasa hidup terus mendorongnya untuk belajar.
Sosok sang ayah tetap menjadi sumber motivasi bagi Sanower. Restu dan dukungan yang pernah diterimanya menjadi pegangan dalam menapaki perjalanan akademik,
Termasuk ketika ia harus meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan dan mengembangkan karier di luar negeri.
Semangat menjadi pembelajar sepanjang hayat itulah yang terus ia rawat. Selama dua tahun berturut-turut, Sanower masuk dalam daftar Top 2% Scientists in the World yang disusun oleh para peneliti dari Stanford University bersama Elsevier.
Pemeringkatan ini menggunakan data publikasi dan sitasi ilmiah, termasuk data Scopus yang disediakan Elsevier.
Pada 2025, ia menjadi satu-satunya dosen UMS yang masuk dalam daftar tersebut. Pada 2026, jumlah dosen UMS yang tercatat dalam daftar itu bertambah menjadi tiga orang.
Pengakuan tersebut menempatkan kiprahnya dalam peta penelitian internasional. Meski demikian, Sanower tidak menjadikan pencapaian itu sebagai alasan untuk berpuas diri.
Baginya, pengakuan akademik memang penting, tetapi bukan tujuan akhir penelitian. Dia lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana pengetahuan yang dihasilkan dari laboratorium dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat?
Pertanyaan itulah yang mengarahkan sejumlah penelitiannya, termasuk riset yang memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku produk bernilai tambah.
Ampas Tebu Menjadi Bahan Lipstik
Indonesia dan Malaysia memiliki beragam komoditas pertanian yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar.
Bagi Sanower, sisa produksi tersebut bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga peluang untuk mengembangkan material baru.
Bersama mahasiswa, ia meneliti pemanfaatan lignin yang diekstraksi dari limbah ampas tebu sebagai salah satu bahan dalam formulasi lipstik alami.
Lignin merupakan komponen yang terdapat dalam dinding sel tumbuhan. Dalam penelitian ini, bahan tersebut dieksplorasi karena memiliki potensi sebagai antioksidan bioaktif dan komponen pelindung terhadap sinar ultraviolet.
Formulasi lipstik yang dikembangkan juga menggunakan sejumlah bahan lain sebagaimana lazim ditemukan dalam produk kosmetik, antara lain minyak jarak, red iron oxide, isopropyl myristate, lilin lebah putih (white beeswax), candelilla wax, mika, dan carnauba wax.
Lignin dari ampas tebu menjadi komponen yang ditonjolkan dalam penelitian tersebut karena potensi sifat antioksidannya.
“Bahan tambahan utamanya adalah lignin dari ampas tebu. Komponen lainnya adalah bahan komersial lipstik pada umumnya. Karena kaya antioksidan, pemakai lipstik akan terlindung dari kemungkinan kanker akibat paparan sinar matahari,” bebernya.
Potensi tersebut menjadi alasan untuk terus mengembangkan penelitian. Meski demikian, manfaat perlindungan terhadap sinar ultraviolet dan implikasinya bagi kesehatan kulit tetap perlu dibuktikan melalui pengujian keamanan serta efektivitas yang sesuai.
Riset ini memperlihatkan bagaimana bahan yang selama ini dipandang sebagai sisa produksi dapat diteliti kembali untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah.
Di tangan peneliti, ampas tebu tidak berhenti sebagai limbah. Kandungan di dalamnya justru membuka kemungkinan baru bagi pengembangan kosmetik berbasis bahan alami.






0 Tanggapan
Empty Comments