Lebih dari sekadar menghasilkan formulasi produk, penelitian ini juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa.
Mereka berkesempatan terlibat dalam proses ilmiah, mulai dari mengeksplorasi bahan baku, mengembangkan formulasi, hingga memikirkan potensi pemanfaatan hasil penelitian.
Jauh sebelum meneliti lignin ampas tebu di UMS, Sanower juga mengeksplorasi pemanfaatan limbah nanas dalam pengembangan kemasan makanan antibakteri. Penelitian tersebut ia kerjakan ketika mengikuti program postdoctoral fellowship di bawah supervisi Dr. Jun Haslinda Shariffuddin.
Dalam riset itu, limbah nanas dimanfaatkan untuk membantu proses sintesis hijau nanopartikel seng oksida. Nanopartikel tersebut kemudian dikombinasikan dengan film polimer yang dapat terurai secara alami.
Material yang dikembangkan berpotensi digunakan sebagai kemasan makanan dengan sifat antimikroba. Selain membantu melindungi produk dari kelembapan, material tersebut diteliti untuk menghambat pertumbuhan bakteri.
Harapannya, teknologi ini dapat membantu mempertahankan kualitas produk pangan dan memperpanjang masa simpannya.
“Jadi itu berarti umur simpan sayuran atau buah-buahan akan meningkat,” katanya.
Penelitian tersebut memperlihatkan arah pengembangan ilmu yang menjadi perhatian Sanower. Ia tidak hanya tertarik pada material baru, tetapi juga pada bagaimana material itu dapat menjawab persoalan praktis.
Limbah nanas yang semula kurang dimanfaatkan berpotensi menjadi bahan untuk mengembangkan teknologi kemasan. Sementara itu, ampas tebu membuka peluang penelitian kosmetik berbasis bahan alami.
Keduanya menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berangkat dari bahan mahal atau teknologi yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sumber gagasan juga dapat ditemukan pada persoalan yang ada di sekitar masyarakat.
Tentu, setiap potensi tersebut masih memerlukan tahapan pengujian untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan kelayakan penerapannya.
Namun, penelitian menjadi pintu awal untuk mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi sumber pengetahuan dan kemungkinan baru.
Penelitian yang Tidak Berhenti di Publikasi
Perjalanan Sanower dari Bangladesh, Malaysia, hingga Indonesia memperlihatkan satu benang merah: keinginan untuk terus belajar dan menghasilkan penelitian yang berguna.
Penghargaan mahasiswa terbaik, pengalaman penelitian pascadoktoral, hingga pengakuan sebagai salah satu ilmuwan dalam daftar Top 2% Scientists in the World merupakan bagian dari perjalanan tersebut.
Namun, pencapaian akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan yang ia pegang.
Sanower ingin penelitian memberikan manfaat yang melampaui laboratorium dan jurnal ilmiah. Temuan yang dihasilkan harus membuka kemungkinan baru bagi pengembangan ilmu, menjawab persoalan praktis, atau menjadi pijakan bagi penelitian berikutnya.
Karena itu, ia tidak ingin mahasiswa sekadar mengejar publikasi atau angka sitasi. Ia ingin mereka memiliki rasa ingin tahu, berani memeriksa sesuatu yang janggal, dan memahami bahwa setiap penelitian mengandung tanggung jawab ilmiah.
Pengalaman ketika menemukan kesalahan perhitungan dalam penelitian doktoralnya menjadi pengingat bahwa proses ilmiah tidak selalu berjalan mulus. Justru melalui persoalan semacam itulah seorang peneliti belajar menguji pemahamannya dan memperbaiki pendekatan yang digunakan.






0 Tanggapan
Empty Comments