Angka Pengguna Internet di Indonesia
Berdasarkan survei tingkat penetrasi internet tahun 2026, jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 235 juta jiwa dari total populasi sekitar 287 juta penduduk. Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen masyarakat Indonesia telah terkoneksi dengan internet.
Menariknya, kelompok pengguna internet terbesar berasal dari kalangan Generasi Z yang kemudian disusul oleh generasi milenial.
Sementara itu, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu antara empat hingga enam jam per hari untuk mengakses internet, dengan smartphone sebagai perangkat yang paling banyak digunakan.
Data tersebut, menurutnya, menjadi isyarat bahwa dakwah digital bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Jika masjid ingin tetap relevan dengan perkembangan zaman dan dekat dengan generasi muda, maka kehadirannya juga harus terasa di ruang digital.
“Jangan sampai anak-anak muda lebih banyak mengonsumsi konten yang tidak mendidik, sementara masjid tidak hadir di ruang yang setiap hari mereka akses” tegasnya.
Sebagai penguat argumentasi, Ustaz Tri mengangkat kisah dialog antara Khalifah Umar bin Khattab dan Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan Imam Bukhari.
Dalam peristiwa tersebut, Umar memberikan kesempatan kepada Ibnu Abbas yang masih berusia muda untuk terlibat dalam majelis ilmiah bersama para sahabat senior yang pernah mengikuti Perang Badar.
Pada awalnya, sebagian sahabat mempertanyakan keputusan tersebut karena menganggap Ibnu Abbas masih terlalu muda.
Namun setelah menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap makna Surah An-Nashr, Ibnu Abbas berhasil membuktikan kapasitas intelektualnya. Umar pun menegaskan bahwa kualitas seseorang tidak selalu ditentukan oleh faktor usia.
Menurut Tri, kisah tersebut memberikan pelajaran penting tentang urgensi kaderisasi dalam Islam. Generasi muda harus diberi ruang untuk belajar, berpendapat, dan mengambil peran dalam berbagai aktivitas dakwah serta organisasi.
Kaderisasi bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi proses menyiapkan generasi penerus yang memiliki kompetensi, wawasan, dan keberanian untuk melanjutkan perjuangan umat di masa depan.
Mewujudkan Peradaban Berkemajuan
Menjelang akhir kajian, Tri mengajak jamaah untuk memahami bahwa ibadah tidak hanya berdampak pada kehidupan akhirat, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Salat yang ditegakkan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, menurutnya, bukan sekadar sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Melainkan juga fondasi penting dalam membentuk karakter, etos kerja, serta kualitas kehidupan umat. Karena itu, masjid harus mengambil peran yang lebih luas sebagai pusat pembinaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam penjelasannya, ia merujuk Surah An-Nahl ayat 97 yang menjanjikan hayatan thayyibah atau kehidupan yang baik bagi setiap mukmin yang beriman dan beramal saleh.
Kehidupan yang baik tersebut tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta atau kemewahan materi. Melainkan mencakup ketenteraman jiwa, keberkahan hidup, rasa syukur, dan kecukupan yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya.
Menurutnya, kemajuan sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau pesatnya pembangunan fisik.
“Peradaban berkemajuan tidak lahir dari teknologi semata. Peradaban yang kuat dibangun oleh manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, memakmurkan masjid, serta mampu melahirkan generasi yang lebih baik daripada dirinya” tegasnya.
Melalui momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, jamaah diajak menjadikan tiga agenda besar sebagai resolusi bersama, yakni memakmurkan masjid, mencerahkan generasi, dan mewujudkan peradaban berkemajuan.
<p>Ketiga agenda tersebut dinilai sebagai fondasi strategis untuk menghadirkan masyarakat Islam yang unggul, berdaya saing, dan berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa. Sekaligus memperkuat peran Persyarikatan Muhammadiyah dalam mewujudkan Islam yang berkemajuan.





0 Tanggapan
Empty Comments