Kesombongan tidak selalu tampak dalam bentuk meremehkan orang lain secara terang-terangan. Ada kesombongan yang lebih halus, lebih tersembunyi, dan justru lebih berbahaya karena sulit disadari.
Ia bisa muncul ketika seseorang merasa amalnya lebih banyak, ilmunya lebih tinggi, ibadahnya lebih baik, atau perjuangannya lebih besar daripada orang lain.
Di saat itulah hati mulai lupa bahwa semua kebaikan yang dimilikinya berasal dari Allah.
Padahal, jika Allah tidak memberi hidayah, kekuatan, kesehatan, dan kesempatan, kita tidak akan mampu melakukan satu pun kebaikan.
Kesombongan membuat seseorang mengagumi dirinya sendiri. Sedangkan orang yang rendah hati selalu melihat bahwa dirinya masih penuh kekurangan dan masih sangat membutuhkan pertolongan Allah.
Semakin tinggi pohon, semakin ia menunduk. Demikian pula seorang mukmin. Semakin bertambah ilmu dan amalnya, seharusnya semakin bertambah kerendahan hatinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kesombongan sering datang tanpa disadari.
Seorang yang rajin bersedekah, misalnya, mulai merasa dirinya lebih baik daripada mereka yang belum mampu memberi sebanyak dirinya. Padahal bisa jadi orang yang diberi sedekah justru lebih dekat kepada Allah karena kesabaran dan ketulusannya.
Ada pula orang yang aktif di masjid, rajin mengikuti kajian, bahkan terlibat dalam berbagai kegiatan dakwah.
Namun diam-diam muncul perasaan bahwa dirinya lebih saleh daripada orang lain. Hatinya mulai sibuk menghitung amal sendiri dan lupa melihat betapa banyak dosa serta kekurangan yang masih dimilikinya.
Kesombongan juga bisa menyelinap dalam dunia ilmu. Seseorang yang telah meraih gelar tinggi atau memiliki pengetahuan yang luas terkadang tanpa sadar meremehkan orang lain yang pendidikannya lebih rendah.
Padahal sejarah telah menunjukkan bahwa tidak sedikit orang sederhana yang justru memiliki kebijaksanaan, keikhlasan, dan kedekatan dengan Allah yang jauh lebih tinggi.
Dalam dunia pekerjaan pun demikian. Ada orang yang berhasil mencapai jabatan tertentu setelah melalui perjuangan panjang. Mula-mula ia bersyukur.
Namun sedikit demi sedikit muncul perasaan bahwa keberhasilan itu murni hasil kecerdasan dan kerja kerasnya. Ia lupa bahwa ada doa orang tua, bantuan banyak orang, kesehatan yang diberikan Allah, serta kesempatan yang tidak dimiliki semua orang.
Padahal kehidupan sering memberikan pelajaran bahwa manusia tidak memiliki alasan untuk menyombongkan diri.
Betapa banyak orang yang dahulu kaya kemudian jatuh miskin. Betapa banyak orang yang pernah kuat kemudian diuji dengan sakit.
Betapa banyak orang yang pernah dipuji dan dihormati, tetapi pada akhirnya dilupakan. Semua itu mengingatkan bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah dan segala yang dimilikinya hanyalah titipan.
Karena itu, jangan terlalu sibuk melihat apa yang sudah berhasil kita lakukan. Lihatlah betapa banyak nikmat Allah yang memungkinkan semua itu terjadi.
Jika kita mampu membaca Al-Qur’an, itu adalah karunia-Nya. Jika kita bisa bersedekah, itu karena Allah melapangkan rezeki. Jika kita dapat menolong orang lain, itu karena Allah memberi kemampuan.
Jika kita memperoleh ilmu, itu karena Allah membuka pintu pemahaman. Tidak ada satu pun yang benar-benar murni berasal dari diri kita.
Para ulama terdahulu justru semakin takut ketika amal mereka semakin banyak. Mereka khawatir jangan-jangan amal tersebut tidak diterima oleh Allah. Mereka lebih sibuk memperbaiki niat daripada menghitung jumlah amal.
Karena ketika hati mulai merasa hebat, saat itulah ia sedang berada dalam bahaya.
Maka jagalah hati dengan syukur, istighfar, dan kesadaran bahwa semua yang baik dalam diri kita hanyalah karunia Allah.
Saat orang lain memuji, ingatlah bahwa masih banyak kekurangan yang hanya diketahui oleh Allah.
Saat berhasil meraih sesuatu, ingatlah bahwa semuanya dapat hilang dalam sekejap jika Allah menghendaki.
Dan saat mampu melakukan berbagai kebaikan, jangan pernah berhenti berdoa agar Allah menjaga hati dari penyakit ujub dan kesombongan yang tersembunyi.
Sebab pada akhirnya, tidak ada yang lebih indah daripada menjadi hamba yang banyak beramal, tetapi tetap merasa kecil di hadapan Rabb-nya.
Tidak ada yang lebih menenangkan daripada hati yang selalu sadar bahwa dirinya hanyalah penerima karunia, bukan pemilik kehebatan.
Karena semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya. Dan semakin ia menyadari betapa kecil dirinya, semakin besar rasa syukur dan kerendahan hatinya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments