Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

“Riuh Demo, Sunyi Isu”

Iklan Landscape Smamda
“Riuh Demo, Sunyi Isu”
Oleh : Anang Dony Irawan Dosen FH UMSURA dan Wakil Ketua PCM Sambikerep

Demonstrasi mahasiswa di Bundaran HI pada Jumat, 12 Juni, menghadirkan pemandangan yang sudah lama dirindukan dalam ruang publik Indonesia: mahasiswa turun ke jalan, menyampaikan kritik, dan menunjukkan bahwa tradisi kontrol sosial terhadap kekuasaan masih hidup.

Berdasarkan berbagai laporan yang beredar, aksi tersebut melibatkan mahasiswa dari sejumlah kampus tanpa terlihat adanya afiliasi politik yang dominan. Dalam konteks demokrasi, hal tersebut tentu merupakan perkembangan yang patut diapresiasi.

Namun, terdapat satu pertanyaan yang layak diajukan: mengapa perhatian publik begitu terkonsentrasi pada satu peristiwa, sementara sejumlah isu strategis lain justru nyaris luput dari perbincangan?

Pertanyaan ini bukan bermaksud untuk meragukan ketulusan gerakan mahasiswa.

Justru sebaliknya, gerakan yang lahir secara organik dalam politik sering kali menjadi momentum yang efektif bagi berbagai kepentingan untuk ikut masuk ke dalam ruang perdebatan publik.

Bukan karena aksi tersebut direkayasa, melainkan karena perhatian publik memiliki keterbatasan. Ketika satu isu mendominasi ruang informasi, isu lain berpotensi kehilangan ruang pembahasan dan perlahan tenggelam dari perhatian masyarakat.

Dalam beberapa hari terakhir, setidaknya terdapat sejumlah perkembangan yang semestinya memperoleh pengawasan publik dengan intensitas yang tidak kalah besar.

Pertama, dinamika terkait perubahan regulasi yang menyangkut institusi kepolisian.

Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai substansinya, perubahan yang berkaitan dengan struktur, kewenangan, maupun tata kelola lembaga keamanan negara selalu memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas demokrasi.

Sayangnya, diskusi publik mengenai isu tersebut belum berkembang secara seimbang jika bandingannya dengan perhatian besar terhadap aksi demonstrasi mahasiswa.

Kedua, munculnya informasi mengenai keterlibatan tokoh nasional dalam proyek energi dengan nilai yang sangat besar.

Di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tekanan, proyek bernilai puluhan triliun rupiah tentu bukan persoalan kecil.

Persoalannya bukan semata mengenai siapa yang memperoleh mandat tersebut, melainkan bagaimana mekanisme pengambilan keputusan, dan apa dasar pertimbangannya, serta sejauh mana transparansi publik dapat dijamin.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian penting dalam demokrasi, bukan bentuk kecurigaan yang berlebihan.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketiga, tekanan fiskal negara juga patut menjadi perhatian. Kewajiban pembayaran utang, beban bunga surat berharga negara, serta kebutuhan pembiayaan berbagai program strategis menempatkan pemerintah dalam posisi yang tidak mudah.

Situasi tersebut menuntut keterbukaan yang lebih besar mengenai kondisi fiskal dan prioritas pengeluaran negara. Tanpa pengawasan publik yang memadai, pembahasan mengenai kesehatan keuangan negara dapat dengan mudah tersisih oleh isu-isu yang lebih dramatis secara visual.

Keempat, berbagai pertanyaan terkait pelaksanaan program-program pemerintah bernilai besar juga masih membutuhkan jawaban.

Ketika muncul dugaan persoalan tata kelola, keterlambatan pelaksanaan, atau kontroversi dalam pengadaan, masyarakat berhak memperoleh penjelasan yang jelas dan berbasis data.

Transparansi bukan hanya bertujuan untuk membuktikan ada atau tidaknya kesalahan, tetapi juga menjadi cara untuk membangun kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Karena itu, persoalan utamanya bukan terletak pada apakah demonstrasi mahasiswa benar atau salah.

Persoalan yang lebih penting adalah apakah masyarakat mampu menjaga perhatian terhadap lebih dari satu isu dalam waktu yang bersamaan.

Demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan keberanian untuk turun ke jalan, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk terus mengawasi kebijakan publik yang dampaknya jauh lebih panjang daripada satu hari demonstrasi.

Dalam era banjir informasi, perhatian publik telah menjadi komoditas politik yang sangat berharga.

Pihak yang mampu menguasai perhatian tersebut akan lebih mudah menentukan isu mana yang menjadi pembicaraan utama dan isu mana yang perlahan menghilang dari percakapan nasional.

Oleh sebab itu, tugas warga negara bukan hanya menyaksikan peristiwa yang sedang ramai menjadi perbincangan, tetapi juga mempertanyakan: isu penting apa yang mungkin sedang luput dari perhatian kita?

Pertanyaan itulah yang seharusnya terus hidup, bahkan setelah kerumunan demonstrasi telah bubar dan jalanan kembali normal.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 14/06/2026 23:55
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu