Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Penggerak Dosa, Penghambat Perubahan Diri di Tahun Baru Hijriah

Iklan Landscape Smamda
Penggerak Dosa, Penghambat Perubahan Diri di Tahun Baru Hijriah
Oleh : Moh. Helman Sueb Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat, Lamongan

Tahun Baru Hijriah selalu menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi sekaligus memperbaiki diri. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw. dari Makkah ke Madinah bukan hanya perpindahan tempat, melainkan simbol perubahan menuju keadaan yang lebih baik.

Kesungguhan Rasulullah Saw. dalam berdakwah, meskipun menghadapi berbagai tekanan dan permusuhan dari kaum kafir Quraisy, menjadi teladan bagi umat Islam. Setelah mendapatkan izin dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, beliau berhijrah ke Madinah yang saat itu telah dipersiapkan oleh kaum Anshar untuk menerima dan mendukung perjuangan Islam.

Hijrah menjadi lambang perubahan, berpindah dari keadaan yang kurang baik menuju yang lebih baik, dari kemalasan menuju semangat, dari keputusasaan menuju optimisme, serta dari berbagai keburukan menuju kebaikan yang diridhai Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Hijrah sebagai Simbol Perubahan

Memasuki Tahun Baru Hijriah 1448 H, setiap Muslim diharapkan menjadikannya sebagai titik awal untuk memperbaiki kualitas diri. Namun, proses perubahan tentu tidak selalu mudah. Dibutuhkan kesungguhan, perjuangan, dan kecintaan yang kuat terhadap kebaikan agar cita-cita tersebut dapat terwujud.

Di sisi lain, setiap usaha perubahan pasti menghadapi berbagai hambatan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri sendiri. Salah satu hambatan terbesar adalah sifat-sifat yang menjadi penggerak dosa dan dapat menghalangi seseorang dalam mewujudkan perubahan menuju pribadi yang lebih baik.

Empat Sifat Penggerak Dosa

1. Sifat Mulkiyah atau Rububiyah

Sifat ini muncul ketika seorang hamba berusaha meniru sifat-sifat yang hanya layak dimiliki Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Bentuknya antara lain kesombongan, takabur, gemar dipuji, mencari popularitas, serta merasa diri lebih tinggi daripada orang lain.

Padahal sifat sombong hanyalah milik Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Orang yang mempertahankan kesombongan dalam dirinya mendapat ancaman sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 40:

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.”

Karena itu, sifat mulkiyah harus dihilangkan agar tidak menjadi penghalang dalam beramal saleh dan meraih ketakwaan.

2. Sifat Syaithoniyah

Sifat syaithoniyah merupakan perangai yang menyerupai perilaku setan, yaitu mengajak kepada keburukan dan kemaksiatan. Sifat ini dapat berupa kedengkian, kebohongan, kemunafikan, tipu daya, serta upaya memecah belah persaudaraan.

Selain itu, sifat syaithoniyah juga mendorong seseorang untuk meremehkan ketaatan dan memperindah perbuatan maksiat. Jika dibiarkan tumbuh, sifat ini akan menghambat setiap usaha perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

3. Sifat Bahimiyah

SMPM 5 Pucang SBY

Sifat bahimiyah adalah perangai yang menyerupai binatang, yaitu hanya mengikuti hawa nafsu tanpa mempertimbangkan nilai agama dan moral.

Bentuknya antara lain tidak peduli terhadap halal dan haram, memperturutkan syahwat, tamak, kikir, bakhil, mencuri, hingga memakan harta yang bukan haknya.

Perilaku seperti ini dapat merusak kualitas amal saleh dan menjauhkan seseorang dari tujuan hidup sebagai hamba Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

4. Sifat Sabu’iyah

Sifat sabu’iyah merupakan perangai yang menyerupai binatang buas. Sifat ini ditandai dengan kebengisan, dendam, kekerasan, permusuhan, serta kecenderungan menyakiti orang lain.

Perbuatan merusak, menindas yang lemah, dan merampas hak orang lain termasuk bentuk perilaku yang tidak disukai Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Qashash ayat 77 disebutkan:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Muhasabah di Tahun Baru Hijriah

Tahun Baru Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Sebagaimana umat Islam dianjurkan membaca istighfar setelah menunaikan salat wajib sebagai bentuk pengakuan atas kekurangan dalam beribadah, demikian pula dalam kehidupan sehari-hari setiap orang perlu menyadari kelemahan dan kekurangannya.

Melalui muhasabah, seseorang dapat mengenali berbagai sifat buruk yang masih melekat dalam dirinya dan berusaha memperbaikinya secara bertahap.

Niat untuk berubah menjadi lebih baik juga harus dijaga agar tidak disertai rasa bangga diri, merasa paling benar, atau sikap yang dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan terhadap sesama.

Pada akhirnya, tujuan utama dari hijrah dan perubahan diri adalah meraih keselamatan hidup di dunia maupun akhirat dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Revisi Oleh:
  • Satria - 18/06/2026 02:24
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu