Nama HOS Tjokroaminoto selama ini lebih banyak dikenang sebagai “guru bangsa” yang melahirkan banyak tokoh besar Indonesia. Namun, di balik reputasi itu, ada satu sisi sejarah yang jarang disorot. Yaitu kontribusinya pada pengembangan model dakwah atau tabligh Muhammadiyah pada masa-masa awal berdirinya.
Jejak sejarah itu kembali diangkat dalam kegiatan Fun Walk for Philanthropy in Historical Area di Peneleh, Sabtu (4/7/2026). Acara ini adalah rangkaian dari Milad ke-24 Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadakah Muhammadiyah (Lazismu) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Salah satu titik penting yang dikunjungi adalah Rumah Tjokroaminoto di kawasan Peneleh, Surabaya.
Di lokasi itu, inisiator Begandring Soerabaia sekaligus guide fun walk, Kuncarsono Prasetyo, mengajak peserta membaca kembali hubungan historis Tjokroaminoto dan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, hubungan keduanya bukan sekadar pertemanan antartokoh pergerakan. Tapi juga berkaitan dengan transformasi metode penyebaran gagasan pembaruan Islam.
“Rumah ini memang dikenal sebagai Rumah HOS Tjokroaminoto, tetapi sebenarnya bukan milik Tjokro. Tjokro hanya mengontrak rumah ini,” jelas Kuncar mengawali penjelasan kepada peserta.
Kuncar menjelaskan, sejak datang ke Surabaya pada 1907, Tjokroaminoto tercatat beberapa kali berpindah tempat tinggal. Ia pernah menetap di Plampitan Gang III, kemudian Peneleh Gang VII, dan selanjutnya Plampitan Gang VIII. Di rumah Tjokroaminoto yang Peneleh inilah Presiden Soekarno sempat kos saat bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya.
Kuncar juga menuturkan bahwa pada masa awal namanya masih Tjokrominoto. Gelar kebangsawanan “Raden Mas” sengaja ditinggalkan sebagai bentuk penolakan terhadap sistem feodal yang membedakan derajat manusia.
“Tjokro melakukan bunuh diri kelas dengan membuang gelar kebangsawanannya. Adapun tambahan Haji Oemar Said atau HOS diperoleh setelah menunaikan ibadah haji pada 1926 ketika sudah tinggal di Kauman, Yogyakarta,” ujarnya.
Namun, bagi warga Muhammadiyah, nilai penting Tjokroaminoto tidak berhenti pada kisah kehidupannya. Perannya sebagai Ketua Central Sarekat Islam justru membuka ruang baru bagi penyebaran gagasan pembaruan Islam yang diperjuangkan Ahmad Dahlan.
Tjokroaminoto yang terpilih sebagai Ketua Central Sarekat Islam, memindahkan pusat kegiatan organisasinya ke Surabaya pada 1914. Pada saat yang hampir bersamaan, Ahmad Dahlan mulai aktif di dalam organisasi tersebut setelah bergabung sekitar pertengahan 1913.
Masuknya Ahmad Dahlan ke Sarekat Islam ternyata mendapat perhatian serius pemerintah kolonial Belanda. Langkah itu bahkan tercatat dalam dokumen intelijen rahasia Politieke Inlichtingen Dienst (PID) yang dipimpin Dr. Douwe Adolf Rinkes.
“Dalam Mailrapport No. 1761/13 yang tersimpan di Arsip Nasional Belanda, disebutkan bahwa Kyai Dahlan dari Yogyakarta telah bergabung dengan Sarekat Islam,” jelas Kuncar.
Laporan rahasia itu memberikan gambaran mengenai alasan strategis di balik keputusan Ahmad Dahlan bergabung ke Sarekat Islam. Pemerintah kolonial menilai Ahmad Dahlan memahami bahwa Muhammadiyah yang didirikannya masih dibatasi izin operasionalnya sehingga belum dapat berkembang bebas ke luar Yogyakarta.
Karena itu, Sarekat Islam dipandang sebagai panggung yang telah memiliki ribuan anggota dan jaringan luas. Sehingga memungkinkan gagasan pembaruan Islam disampaikan kepada masyarakat yang lebih besar. Pandangan aparat kolonial tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara Muhammadiyah dan Sarekat Islam bersifat saling melengkapi.
Di sinilah peran Tjokroaminoto menjadi penting. Sebagai Ketua Sarekat Islam, ia dikenal gemar mengadakan rapat-rapat akbar yang mampu menghadirkan ribuan orang. “Pertemuan besar itu dalam istilah Belanda disebut vergadering. Sedangkan masyarakat Surabaya lebih akrab menyebutnya begandring,” jelas Kuncar.
Forum-forum inilah yang kemudian menjadi ruang baru bagi Ahmad Dahlan menyampaikan gagasan pembaruan Islam. Dakwah lebih tersampaikan kepada masyarakat yang lebih luas. Tabligh akbar berbeda dengan pola dakwah yang umumnya berlangsung di langgar, surau, atau pengajian kecil dengan jumlah jamaah terbatas. Rapat akbar Sarekat Islam menghadirkan audiens dalam skala yang jauh lebih besar.
Model inilah yang kemudian memberi inspirasi terhadap perkembangan tabligh Muhammadiyah. Dalam laporan Keresidenan Yogyakarta tahun 1914–1915, Asisten Residen Yogyakarta mencatat Ahmad Dahlan beberapa kali memanfaatkan rapat umum Sarekat Islam maupun mimbar-mimbar masjid untuk berbicara mengenai persoalan agama sekaligus kondisi ekonomi masyarakat bumiputra.
Perubahan metode ini menjadi salah satu fase penting dalam sejarah dakwah Muhammadiyah. Sebelum itu, aktivitas dakwah Muhammadiyah lebih banyak berlangsung melalui kelompok-kelompok pengajian yang jumlah pesertanya relatif terbatas.

Setelah mengenal model rapat akbar, Muhammadiyah mulai mengembangkan tabligh massal. Tentu tanpa meninggalkan pola pengajian kecil yang selama ini menjadi ciri pembinaan kader. Kedua model tersebut berjalan berdampingan.
Satu sisi berfungsi memperluas jangkauan dakwah kepada masyarakat umum. Sementara sisi lainnya tetap menjaga pendalaman ilmu melalui kelompok-kelompok pengajian yang lebih intim.
Gambaran mengenai model pengajian kecil ini juga pernah direkam oleh Soekarno ketika masih tinggal di Peneleh, Surabaya. Dalam catatan autobiografinya, Soekarno mengenang bagaimana Ahmad Dahlan mengisi pengajian di rumah ayahnya Abdullatif Zain, tahun 1916.
Pengajian tersebut berlangsung setiap bulan mulai pukul delapan malam hingga jauh melewati tengah malam. Sekitar seratus orang hadir memenuhi rumah untuk mendengarkan pelajaran agama yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
Kesaksian Soekarno menunjukkan bahwa Ahmad Dahlan tidak pernah meninggalkan tradisi pengajian yang bersifat dialogis. Sebaliknya, ia memadukan dua pendekatan sekaligus. Yaitu tabligh akbar melalui panggung-panggung besar dengan audiens massal dan pengajian mendalam dalam kelompok yang lebih terbatas.
Perpaduan itulah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan Muhammadiyah dalam mengembangkan dakwah modern. Rapat-rapat besar mampu memperkenalkan ide pembaruan kepada masyarakat luas. Sedangkan pengajian rutin menjadi tempat pembentukan pemahaman keagamaan yang lebih mendalam.
Dengan demikian, hubungan Tjokroaminoto dan Muhammadiyah tidak berbentuk hubungan organisasi ataupun kepemimpinan langsung. “Pengaruhnya justru tampak melalui terbukanya ruang publik yang memungkinkan Ahmad Dahlan menyampaikan gagasan-gagasan tajdid kepada khalayak dalam jumlah besar,” jelas Kuncar sambil mengutip beberapa laporan intelejen Belanda 1913-1919, yang didapatkannya dari Arsip Nasional Belanda.
Dari panggung-panggung vergadering Sarekat Islam itulah model tabligh Muhammadiyah mengalami perluasan. Dakwah tidak lagi hanya berlangsung di ruang-ruang kecil. “Tetapi hadir di tengah ratusan atau ribuan masyarakat yang berkumpul mendengarkan pidato-pidato kebangsaan dan pembaruan Islam,” jelas Kuncar lagi
Jejak sejarah itu menjadi pengingat bahwa perkembangan Muhammadiyah pada masa awal tidak dapat dipisahkan dari dinamika pergerakan nasional. Pertemuan antara Ahmad Dahlan dan Tjokroaminoto melahirkan sinergi yang bukan hanya memperkuat gerakan kebangsaan. Tapi juga membentuk cara baru Muhammadiyah menyampaikan dakwah kepada masyarakat Indonesia.





0 Tanggapan
Empty Comments