Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pertemuan Wali Santri Warnai Perpulangan, Riwayat Warsy Jadi Sorotan

Iklan Landscape Smamda
Pertemuan Wali Santri Warnai Perpulangan, Riwayat Warsy Jadi Sorotan
Bacaan Riwayat Warsy 'An Nafi' mengiringi Perpulangan Santri Menjadi Momentum Silaturahmi, Penguatan Sinergi, dan Apresiasi Pembelajaran Al-Qur’an (Mabafaza Al Quluqi/PWMU.CO)
pwmu.co -

Menjelang masa perpulangan santri, Pondok Pesantren Muhammadiyah An-Nur Sidoarjo menggelar pertemuan bersama seluruh wali santri sebagai bagian dari penguatan komunikasi antara keluarga dan lingkungan pendidikan. Kegiatan yang berlangsung pada Ahad (28/6/2026) di Masjid Asrama Putra tersebut menjadi momentum untuk menyampaikan perkembangan santri sekaligus mempererat sinergi antara orang tua, ustaz, dan ustazah dalam mendampingi proses pendidikan.

Pertemuan dihadiri oleh seluruh wali santri bersama keluarga besar Pondok Pesantren Muhammadiyah An-Nur Sidoarjo. Sejak awal kegiatan, suasana kekeluargaan mewarnai jalannya acara. Selain menjadi ajang silaturahmi, forum tersebut dimanfaatkan untuk menyampaikan hasil pembinaan santri selama satu semester, meliputi perkembangan akademik, pembentukan karakter, serta kehidupan sehari-hari di lingkungan asrama.

Dalam sistem pendidikan Pondok Pesantren Muhammadiyah An-Nur Sidoarjo, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pembentukan karakter, kedisiplinan, dan pembiasaan ibadah juga menjadi bagian penting yang memerlukan dukungan dari keluarga. Karena itu, pertemuan wali santri menjadi sarana menyamakan langkah antara pesantren dan orang tua agar proses pendidikan tetap berkesinambungan ketika santri kembali ke rumah.

Salah satu agenda yang menarik perhatian peserta adalah pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Muhammad Zidan, santri kelas XII. Ia melantunkan Surah Al-A’la menggunakan Riwayat Warsy ‘an Nafi’. Penampilan tersebut tidak hanya memperlihatkan kemampuan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memperkenalkan salah satu khazanah qiraah yang masih lestari di dunia Islam.

Riwayat Warsy ‘an Nafi’ merupakan salah satu riwayat dari sepuluh qiraah mutawatir yang memiliki sanad bersambung hingga Rasulullah saw. Riwayat ini dinisbatkan kepada Imam Warsy, Abu Sa’id Utsman bin Sa’id Al-Mishri, murid dari Imam Nafi’ Al-Madani, salah seorang imam qiraah yang dikenal luas di Madinah.

Sejak abad ke-2 Hijriah, Riwayat Warsy berkembang di kawasan Afrika Utara dan hingga kini digunakan sebagai bacaan resmi di sejumlah negara, seperti Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, serta sebagian wilayah Afrika Barat.

Pertemuan Wali Santri Warnai Perpulangan, Riwayat Warsy Jadi Sorotan
Pertemuan Wali Santri Warnai Perpulangan, Riwayat Warsy Jadi Sorotan

Riwayat Warsy memiliki karakteristik bacaan yang berbeda dengan riwayat Hafs yang umum digunakan di Indonesia. Salah satu cirinya adalah penggunaan imalah, yaitu pelafalan huruf alif yang condong ke bunyi “e”. Selain itu, terdapat kaidah naql, yakni pemindahan harakat hamzah kepada huruf sebelumnya, serta perubahan hamzah sukun menjadi huruf mad. Riwayat ini juga memberikan beberapa pilihan panjang bacaan pada mad badal, yaitu dua, empat, atau enam harakat.

Penampilan Muhammad Zidan menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an di Pondok Pesantren Muhammadiyah An-Nur Sidoarjo tidak hanya menekankan aspek hafalan, tetapi juga memperkenalkan sejarah, sanad, dan keragaman qiraah yang diwariskan para ulama dari generasi ke generasi.

SMPM 5 Pucang SBY

Direktur Pondok Pesantren Muhammadiyah An-Nur Sidoarjo, Munif Hasan, M.Ag., menjelaskan bahwa pengenalan berbagai riwayat qiraah merupakan bagian dari kurikulum pembelajaran Al-Qur’an di pesantren. Menurutnya, para santri perlu memahami bahwa Al-Qur’an memiliki keragaman bacaan yang semuanya bersumber dari sanad yang sahih.

“Dengan beragam metode dan bacaan yang diajarkan di pesantren, semua bertujuan agar anak-anak banyak mengenal tradisi qiraah,” tegasnya.

Munif menambahkan bahwa keberhasilan pendidikan santri memerlukan sinergi yang berkesinambungan antara pesantren dan keluarga.

“Pendidikan santri tidak bisa hanya diserahkan kepada pesantren. Orang tua, ustaz, dan ustazah harus berjalan bersama agar mampu membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan mencintai Al-Qur’an,” ujarnya.

Usai kegiatan bersama di masjid, para wali santri diarahkan menuju kelas masing-masing untuk menerima hasil penilaian semester genap sekaligus berdialog dengan wali kelas mengenai perkembangan putra-putri mereka. Setelah itu, santri diperkenankan kembali ke rumah bersama keluarga untuk menjalani masa liburan.

Melalui pertemuan tersebut, Pondok Pesantren Muhammadiyah An-Nur Sidoarjo berharap masa perpulangan tidak hanya menjadi waktu beristirahat, tetapi juga kesempatan bagi santri untuk mempererat hubungan dengan keluarga sambil tetap menjaga kebiasaan baik yang telah dibangun selama berada di asrama. Sinergi antara pesantren, orang tua, dan para pendidik diharapkan terus terjalin agar proses pembentukan generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, serta mencintai Al-Qur’an dapat berlangsung secara berkesinambungan. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 28/06/2026 19:01
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu