Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof Hilman Latief: Kembali ke UMY dan Mengabdi di Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Prof Hilman Latief: Kembali ke UMY dan Mengabdi di Muhammadiyah
Konsep Otomatis
Oleh : Iwan Setiawan Alumni HI UMY

Di sebuah sudut SM Tower Yogyakarta, Ahad (5/7/2026), suasana akhir pekan terasa tenang. Tidak ada protokoler berlapis, tidak terlihat iring-iringan pejabat, dan tidak pula atmosfer yang menunjukkan bahwa sosok yang akan ditemui pernah menduduki salah satu jabatan strategis di pemerintahan.

Prof. Hilman Latief datang seperti biasa. Senyumnya hangat, tutur katanya tenang, dan pembawaannya bersahaja. Bersama beberapa sahabat, saya telah membuat janji untuk bertemu dengannya. Pertemuan itu menjadi ruang berbagi cerita mengenai perjalanan hidup, pengabdian, dan pilihan yang kini ia jalani setelah menuntaskan amanah sebagai Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Republik Indonesia.

Bagi saya, Prof. Hilman bukan hanya seorang akademisi atau mantan pejabat negara. Ia adalah sahabat yang telah saya kenal cukup lama. Sapaan “Kang Hilman” terasa lebih akrab dibanding menyebut berbagai gelar akademik dan jabatan yang pernah disandangnya.

Hal yang paling membekas dalam ingatan bukanlah posisinya sebagai pejabat eselon I ataupun Bendahara Umum PP Muhammadiyah. Yang selalu saya ingat adalah kesederhanaannya.

Ketika masih memimpin Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, jadwalnya sangat padat. Persoalan penyelenggaraan ibadah haji melibatkan jutaan calon jamaah, koordinasi lintas kementerian, hingga hubungan diplomatik dengan Pemerintah Arab Saudi. Namun, di tengah padatnya aktivitas itu, pesan WhatsApp dari sahabat tetap berusaha ia balas.

Bukan karena tidak sibuk. Justru karena ia menghargai setiap orang yang berkomunikasi dengannya.

Sikap seperti inilah yang semakin langka ketika seseorang berada di puncak kekuasaan birokrasi.

Tidak sedikit orang memandang jabatan sebagai puncak karier. Ketika jabatan berakhir, sebagian merasa kehilangan panggung.

Namun, Prof. Hilman Latief menunjukkan jalan yang berbeda.

Usai menyelesaikan tugas sebagai Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, ia tidak sibuk mencari posisi baru atau memperpanjang pengaruh di ruang kekuasaan.

Ia memilih kembali ke dunia yang telah membentuk dirinya sejak awal, yakni kampus.

Kini sebagian besar waktunya dicurahkan untuk mengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mulai dari mahasiswa program sarjana, magister, hingga doktoral memperoleh kesempatan belajar langsung dari seorang akademisi yang juga memiliki pengalaman mengelola birokrasi nasional.

Pilihan ini memperlihatkan bahwa dunia akademik bukan batu loncatan menuju jabatan publik. Kampus merupakan rumah pengabdian yang selalu siap menerima kembali para intelektual untuk menanamkan ilmu kepada generasi berikutnya.

Pengalaman yang diperoleh selama berada di pemerintahan kini menjadi bekal berharga bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga memahami bagaimana kebijakan publik dijalankan, bagaimana diplomasi bekerja, serta bagaimana tata kelola pemerintahan menghadapi berbagai tantangan.

Banyak orang berubah ketika memperoleh jabatan tinggi.

Ada yang mulai menjaga jarak, ada yang sulit ditemui, bahkan ada yang merasa harus selalu dilayani.

Prof. Hilman justru memperlihatkan hal yang berbeda.

Kesederhanaannya tetap sama seperti ketika masih menjadi dosen.

Cara berbicara, cara menyapa, hingga cara memperlakukan sahabat tidak mengalami perubahan.

Sikap inilah yang membuat banyak orang merasa nyaman berada di dekatnya.

Kesederhanaan bukan pencitraan. Ia telah menjadi karakter.

Dalam tradisi Islam, sifat seperti ini sering dihubungkan dengan sikap zuhud, yaitu kemampuan menjaga hati agar tidak terikat oleh kekuasaan, harta, maupun kedudukan.

Selain kembali aktif mengajar, Prof. Hilman tetap mengemban amanah besar sebagai Bendahara Umum PP Muhammadiyah.

Posisi ini bukan jabatan administratif biasa. Muhammadiyah mengelola ribuan amal usaha yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan kemanusiaan. Nilai aset organisasi mencapai angka yang sangat besar.

SMPM 5 Pucang SBY

Mengelola amanah sebesar itu membutuhkan integritas tinggi.

Dalam dunia korporasi, posisi bendahara umum dapat dianalogikan sebagai direktur keuangan yang memastikan tata kelola organisasi berjalan sehat, transparan, dan akuntabel.

Namun, yang menarik dari Prof. Hilman bukanlah besarnya aset yang berada dalam tanggung jawab organisasi.

Yang mengesankan adalah cara ia memandang amanah tersebut. Tidak terlihat gaya hidup mewah. Tidak ada kesan bahwa jabatan organisasi menjadi simbol prestise.

Justru yang tampak adalah kesadaran bahwa setiap rupiah yang dikelola merupakan amanah umat yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada organisasi, melainkan juga kepada Allah SWT.

Perjalanan Prof. Hilman Latief memperlihatkan perpaduan yang tidak banyak dimiliki akademisi.

Ia menguasai dunia teori sekaligus memiliki pengalaman praktik di tingkat nasional.

Sebagai dosen, ia memahami pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan.

Sebagai birokrat, ia mengerti kompleksitas pengambilan keputusan.

Sebagai pengurus Muhammadiyah, ia mengetahui bagaimana organisasi besar membangun pelayanan kepada masyarakat.

Ketiga pengalaman tersebut saling melengkapi.

Mahasiswa yang belajar darinya tidak hanya memperoleh referensi akademik, tetapi juga kisah nyata mengenai kepemimpinan, pengelolaan lembaga, pelayanan publik, hingga etika dalam menjalankan amanah.

Di tengah kehidupan publik yang sering diwarnai perebutan jabatan, kisah Prof. Hilman Latief menghadirkan pelajaran penting tentang makna kepemimpinan.

Integritas tidak lahir ketika seseorang kehilangan jabatan, melainkan terlihat saat ia tetap rendah hati ketika berada di puncak kekuasaan.

Kesederhanaan bukan berarti hidup tanpa tanggung jawab besar. Justru di balik kesederhanaan itulah tersimpan kemampuan memikul amanah yang sangat besar tanpa kehilangan jati diri.

Pertemuan di SM Tower Yogyakarta sore itu menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan seseorang tidak selalu ditentukan oleh panjangnya daftar jabatan yang pernah disandang.

Keberhasilan juga diukur dari seberapa besar manfaat yang terus diberikan kepada masyarakat, seberapa banyak ilmu yang diwariskan kepada generasi penerus, dan seberapa teguh seseorang menjaga amanah tanpa tergoda gemerlap kekuasaan.

Prof. Hilman Latief memilih jalan itu.

Jalan seorang pendidik yang kembali ke ruang kelas.

Jalan seorang kader Muhammadiyah yang terus mengabdi.

Jalan seorang intelektual yang membuktikan bahwa jabatan dapat berakhir, tetapi pengabdian kepada ilmu, umat, dan bangsa tidak mengenal masa pensiun.

Revisi Oleh:
  • Satria - 06/07/2026 13:04
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu