Guru Besar Sejarah Universitas Airlangga, Prof. Dr. Sarkawi B. Husain, S.S., M.Hum., mengingatkan bahwa seorang sejarawan tidak boleh langsung mempercayai setiap bukti yang ditemukan. Setiap sumber sejarah harus diverifikasi dengan sumber lain agar hasil penelitian memiliki tingkat akurasi yang tinggi.
Pesan tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam Sang Maestro: Jatim Historical Leadership Program yang diselenggarakan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) bersama Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya, Sabtu-Ahad (4–5/7/2026).
Dalam materinya mengenai metode penulisan sejarah, Prof. Sarkawi menjelaskan bahwa penulisan sejarah memiliki dua sisi. Pertama, aspek yang harus mengikuti kaidah ilmiah, terutama dalam proses penelitian. Kedua, aspek yang memberi ruang bagi penulis untuk mengembangkan gaya penyampaian ketika menyusun hasil penelitiannya.
“Wilayah yang harus sesuai aturan adalah proses penelitian di lapangan, sedangkan wilayah yang bisa kita sesuaikan adalah bagaimana kita menyampaikan sejarah tersebut dalam karya tulis,” ujarnya.
Menurutnya, setiap penulis memiliki karakter dan gaya bahasa yang berbeda. Karena itu, penulisan sejarah tidak harus selalu menggunakan gaya akademik yang kaku.
“Kita tidak mungkin menyamakan gaya bahasa untuk kepentingan akademis dengan gaya bahasa yang digunakan dalam organisasi atau untuk masyarakat umum,” jelasnya.
Prof. Sarkawi kemudian memaparkan enam tahapan penting dalam penelitian sejarah. Tahap pertama adalah konseptualisasi. Pada tahap ini, peneliti harus memahami secara mendalam objek penelitian sebelum mulai mencari sumber.
“Sebelum menentukan sumber, kita harus menempatkan diri sebagai orang yang paling memahami sumber tersebut. Misalnya, jika ingin melakukan penelusuran sumber lisan, kita harus lebih dahulu mengetahui latar belakang narasumber,” katanya.
Setelah itu, peneliti mengumpulkan bukti, kemudian melakukan verifikasi terhadap seluruh data yang diperoleh. Menurut Prof. Sarkawi, proses verifikasi merupakan salah satu tahapan paling penting dalam penelitian sejarah.
“Sebagai peneliti sejarah, kita tidak boleh begitu saja percaya pada sumber yang diperoleh. Kita harus mencari sumber lain yang berkaitan untuk menguji kebenarannya. Jangan sampai penelitian hanya bergantung pada satu sumber,” tegasnya.
Ia menambahkan, setelah proses verifikasi selesai, peneliti melakukan kategorisasi data, menyusun sintesis, dan menuliskan laporan penelitian.
“Pada tahap penulisan laporan, seorang penulis sejarah memiliki ruang untuk mengembangkan gaya bahasa agar hasil penelitiannya lebih mudah dipahami pembaca,” pungkas Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga tersebut.
Melalui pemaparannya, Prof. Sarkawi berharap para peserta Jatim Historical Leadership Program mampu menghasilkan karya sejarah yang tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga memiliki landasan ilmiah yang kuat melalui proses penelitian dan verifikasi sumber yang ketat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments