
PWMU.CO – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Hubungan dan Kerja Sama Luar Negeri serta Antaragama, Prof Dr H Syafiq Al Mughni MA, menjadi pembicara dalam Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan, Sidoarjo, di Masjid Baiturrahman, PRM Kemantren, Ahad (13/7/2025).
Ribuan jamaah dari unsur PRM, Aisyiyah, ortom, simpatisan, guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) memadati masjid sejak pukul 06.00 WIB. Mereka datang dari berbagai penjuru Ranting Muhammadiyah di kecamatan Tulangan Sidoarjo Jawa Timur.
Antusiasme mereka begitu tinggi untuk mendengar langsung pemikiran dari mantan Rektor UMSIDA dan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu. Yang menjadi magnet utama kajian ini adalah kehadiran Prof Dr H Syafiq Al Mughni MA, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Kerja Sama Luar Negeri dan Antaragama yang sengaja datang untuk menyampaikan kajian mendalam seputar toleransi antarumat Islam dan perjuangan kemerdekaan Palestina.
Dalam ceramahnya, Prof Syafiq mengangkat isu penting seputar “Syiah dan Yahudi Konflik, Dimana Posisi Ahlussunnah” termasuk perbedaan paham antara Sunni dan Syiah. Ia menegaskan bahwa Syiah tidak bisa serta-merta dianggap kafir.
“Ini bukan soal menyamakan Sunni dan Syiah, tapi soal penghormatan dan toleransi dalam keragaman umat Islam,” ujarnya.
Ia juga menyinggung sejarah Yahudi dan asal-usul Israel yang menurutnya berasal dari agama yang sama, yakni ajaran Nabi Ibrahim dan Musa yang diakui dalam Islam. Namun, karena penolakan terhadap Nabi Muhammad SAW, maka lahirlah perbedaan dan penyimpangan yang menjauh dari ajaran Islam yang murni.
Sejarah Panjang Bangsa Yahudi

Prof Syafiq menguraikan sejarah panjang bangsa Yahudi yang mengalami pengusiran, diaspora, hingga akhirnya didukung Barat mendirikan negara Israel di tanah Palestina pada 1948, saat wilayah itu berada di bawah mandat Inggris.
“Israel itu lahir dari konspirasi politik, bukan sekadar agama. Tahun 1948 mereka mendeklarasikan negara, dan sejak itu Palestina mengalami penjajahan yang luar biasa,” ungkapnya.
Menurutnya, berdirinya negara Israel sangat dipengaruhi oleh dukungan Amerika Serikat.
“Israel tanpa Amerika itu bukan siapa-siapa. Setiap keputusan PBB yang menguntungkan Palestina selalu diveto oleh Amerika,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti lemahnya solidaritas negara-negara Timur Tengah terhadap Palestina.
“Banyak pemimpin negara Islam yang tidak membela Palestina secara total. Bahkan hampir semuanya kini telah membuka hubungan diplomatik dengan Israel,” tambahnya.
Ia juga menyayangkan sikap negara-negara Timur Tengah yang menurutnya “setengah hati” dalam membela Palestina.
Terkait konflik sektarian antara Sunni dan Syiah, Prof Syafiq menjelaskan bahwa perpecahan lebih disebabkan oleh pemahaman sejarah yang tidak lengkap serta pengaruh sosial-politik di masing-masing wilayah.
Ia berharap umat Islam dapat bersatu dalam menghormati perbedaan, sambil terus mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Dalam penutupnya, Prof Syafiq mengajak seluruh jamaah untuk terus menumbuhkan empati dan dukungan terhadap rakyat Palestina yang masih memperjuangkan hak-haknya.
“Perjuangan mereka adalah perjuangan kita bersama. Mari terus kita dukung, dengan doa, bantuan, dan narasi yang mencerahkan.”pungkasnya. (*)
Penulis Zulkifli Editor Amanat Solikah





0 Tanggapan
Empty Comments