Pagi itu, suasana kampus Universitas Muhammadiyah Sidoarjo terasa berbeda. Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa baru yang memulai perjalanan akademiknya, seorang pria berdiri tenang di podium. Dialah Hidayatulloh, rektor yang lebih sering berbicara tentang “jiwa pendidik” daripada sekadar angka-angka prestasi.
Bagi sebagian orang, jabatan rektor adalah puncak karier. Namun bagi Hidayatulloh, posisi tersebut justru menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
“Jabatan ini bukan soal posisi, tapi amanah untuk mempercepat kemajuan dan memberi manfaat,” ujarnya.
Perjalanan akademiknya dimulai dari UIN Sunan Ampel Surabaya (dulu IAIN Sunan Ampel), kemudian berlanjut ke Universitas Muhammadiyah Malang, hingga kembali menuntaskan pendidikan doktoralnya di UIN Sunan Ampel.
Kariernya tidak dibangun secara instan. Ia menapaki jalan panjang sebagai dosen, berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang, sekaligus menanamkan nilai bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan jiwa.
Dari pengalaman itulah lahir gagasan khas kepemimpinannya: arruhul mudarris—jiwa seorang pendidik.
Saat kembali dilantik sebagai Rektor Umsida periode 2022–2026 oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah pada November 2022, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan.
Alih-alih fokus pada ekspansi, Hidayatulloh memilih memperkuat kualitas.
“Yang menentukan positioning itu bukan PTN atau PTS, tetapi siapa yang menunjukkan kinerja dan prestasi terbaik,” tegasnya.
Di tengah arus globalisasi, ia menilai perguruan tinggi harus adaptif, relevan, dan memiliki daya saing. Langkah-langkah strategis pun dilakukan, mulai dari peningkatan akreditasi, penguatan tata kelola, hingga kerja sama internasional, termasuk dengan Guangzhou University di Tiongkok.
Di bawah kepemimpinannya, Umsida mencatat berbagai capaian penting. Salah satunya masuk dalam jajaran 10 perguruan tinggi terbaik di Indonesia tahun 2025 berdasarkan pemeringkatan tertentu. Pada 2026, Umsida juga menempati peringkat enam dari 10 kampus terbaik nasional versi Kemenristek.
Namun bagi Hidayatulloh, prestasi bukanlah tujuan akhir.
“Prestasi itu bukan kebetulan. Ia lahir dari sistem yang sehat dan budaya akademik yang kuat,” ungkapnya.
Dalam satu tahun, ratusan prestasi mahasiswa diraih, mulai dari tingkat regional hingga internasional—sebuah bukti bahwa sistem yang dibangun berjalan efektif.
Di balik strategi dan kebijakan, Hidayatulloh menekankan pentingnya pembentukan karakter.
Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki integritas, etika, dan tanggung jawab sosial.
“Kami ingin melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berakhlak dan bermanfaat,” katanya.
Karena itu, Umsida tidak hanya fokus pada pembelajaran, tetapi juga pengembangan kepemimpinan dan soft skills mahasiswa.
Selain menjabat sebagai rektor, Hidayatulloh juga aktif sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Perannya di Persyarikatan semakin memperkuat visinya tentang pendidikan sebagai alat perubahan sosial.
Meski demikian, ia tetap dikenal sebagai sosok sederhana, dekat dengan mahasiswa, dan tidak berjarak. Baginya, kepemimpinan adalah tentang kedekatan, bukan sekadar otoritas.
Dengan semboyan Umsida, “Dari Sini Pencerahan Bersemi”, Hidayatulloh meyakini bahwa kampus harus menjadi pusat lahirnya peradaban.
Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk membangun atmosfer akademik yang inklusif, dinamis, dan harmonis.
“Mari kita jalin kerja sama dan solidaritas. Kampus ini milik kita bersama,” pesannya.
Di tengah dunia yang terus berubah, langkah Hidayatulloh mungkin tidak selalu terlihat gemerlap. Namun melalui sistem yang ia bangun dan nilai yang ia tanamkan, ia tengah menulis jejak perubahan.
Bukan sekadar sebagai rektor, tetapi sebagai pendidik yang percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal sederhana: ilmu, karakter, dan keteladanan.





0 Tanggapan
Empty Comments