Dari pesantren menuju Senayan. Semangat menyuarakan gagasan dan kepedulian terhadap persoalan generasi muda mengantarkan Thera Thahira Tzar Tahrirataqa, siswa kelas XI SMA Plus Amanah Muhammadiyah Kota Tasikmalaya, lolos sebagai peserta Parlemen Remaja 2026 mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat XI, meliputi Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya
Thera akan mengikuti rangkaian kegiatan Parlemen Remaja pada 28 September hingga 3 Oktober 2026 di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta.
Keberhasilan tersebut diraih setelah Thera melewati sejumlah tahapan seleksi, mulai dari administrasi, penulisan esai dan pembuatan video, psikotes, hingga wawancara sebagai tahap akhir.
Gagasan yang dibawa Thera pun tidak jauh dari realitas kehidupannya sebagai seorang santri. Dalam esainya, ia mengangkat tema “Bijak Bersenioritas, Optimalkan Kepemimpinan: Ciptakan Ruang Aman Bebas Perundungan di Lingkungan Pesantren.”
Thera menyoroti budaya senioritas yang sejatinya dapat menjadi sarana pembentukan karakter dan kepemimpinan, tetapi dapat bergeser menjadi perundungan apabila tidak dibangun dengan etika, keteladanan, dan rasa saling menghargai.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan memberikan hukuman kepada pelaku. Diperlukan perubahan cara pandang dan penguatan kepemimpinan santri agar hubungan senior dan junior menjadi ruang pembelajaran yang sehat.
Dalam esainya, Thera menawarkan sejumlah gagasan, antara lain pelatihan kepemimpinan bagi santri tingkat atas, membangun budaya pesantren yang ramah, melakukan pendekatan intensif kepada santri baru, serta menyusun program tindak lanjut pencegahan perundungan.
Belajar Menjadi Anggota Parlemen
Parlemen Remaja menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat demokrasi, parlemen, proses legislasi, serta tugas dan fungsi DPR RI.
Selama berada di Jakarta, para peserta akan mendapatkan pengalaman mengikuti berbagai aktivitas kepemimpinan dan keparlemenan, termasuk pembelajaran mengenai proses persidangan, rapat kerja, rapat paripurna, pembahasan isu publik, serta kegiatan lain yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung mengenai kehidupan parlemen.
Program tersebut juga mempertemukan pelajar dari berbagai daerah pemilihan di Indonesia. Bagi peserta, kesempatan ini bukan hanya menjadi ajang belajar tentang lembaga legislatif, tetapi juga ruang bertukar gagasan dan membangun jejaring antargenerasi muda dari berbagai daerah.
Bagi Thera, kesempatan tersebut menjadi momentum untuk membawa perspektif santri ke ruang kebangsaan.
“Saya sangat bersyukur bisa lolos dan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Parlemen Remaja 2026 di Senayan. Saya berharap bisa menjalankan seperti apa yang saya tuliskan dalam esai, terutama bagaimana menciptakan lingkungan pesantren yang aman, ramah, dan bebas dari perundungan.”
Ia berharap pengalaman di Senayan dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, berpikir kritis, menyampaikan aspirasi, sekaligus memahami bagaimana sebuah persoalan masyarakat dapat diperjuangkan melalui kebijakan.
Kepala Sekolah: Kesempatan Belajar dan Membentuk Kepemimpinan
Keberhasilan Thera mendapat apresiasi dari Kepala SMA Plus Amanah Muhammadiyah Kota Tasikmalaya, Ust. Yudi Purwanto, A.S., S.Pd.I.
Menurut Yudi, keberhasilan Thera merupakan capaian yang membanggakan sekaligus kesempatan berharga bagi seorang pelajar untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam memahami demokrasi dan kehidupan parlemen.
“Kami sangat bersyukur dan bangga atas capaian Thera. Lolosnya Thera ke Parlemen Remaja 2026 menjadi kesempatan yang sangat baik untuk belajar langsung tentang demokrasi, kepemimpinan, dan proses kehidupan di parlemen. Kami berharap pengalaman ini dapat membentuk keberanian, kemampuan berpikir kritis, serta kepedulian Thera terhadap berbagai persoalan masyarakat dan bangsa.”
Yudi juga berharap Thera dapat memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin dan membawa nama baik sekolah, pesantren, serta daerah yang diwakilinya.
Mudir: Santri Harus Berani Mengambil Peran
Dukungan juga disampaikan oleh Mudir Pondok Pesantren Amanah Muhammadiyah Kota Tasikmalaya, K.H. Arip Somantri, M.Ag.
Menurutnya, keberhasilan Thera menunjukkan bahwa santri memiliki kesempatan yang luas untuk berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam ruang demokrasi dan kebangsaan.
“Kami memberikan apresiasi dan dukungan kepada Thera. Sebagai santri, ia tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama pesantren. Kami berharap pengalaman di Parlemen Remaja menjadi sarana pembelajaran untuk memperkuat kepemimpinan, tanggung jawab, keberanian menyampaikan aspirasi, dan kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.”
K.H. Arip menilai keberanian generasi muda untuk menyampaikan gagasan merupakan bagian penting dari pendidikan.
Santri, menurutnya, tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga perlu memiliki wawasan kebangsaan, kemampuan berkomunikasi, serta keberanian mengambil peran di tengah masyarakat.
Membawa Suara Santri ke Senayan
Gagasan Thera mengenai pencegahan perundungan di pesantren memiliki relevansi kuat dengan persoalan pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
Dalam esainya, Thera menegaskan bahwa senioritas seharusnya menjadi sarana melahirkan teladan. Seorang senior tidak semestinya menjadi sosok yang ditakuti, melainkan menjadi kakak, pembimbing, sekaligus pemimpin yang membantu junior tumbuh dan berkembang.
Ia juga mendorong adanya penguatan regulasi, dukungan terhadap pendidikan karakter dan kepemimpinan santri, layanan konseling, sistem pelaporan yang aman, serta pengawasan terhadap kebijakan perlindungan santri.
Bagi Thera, pesantren harus menjadi ruang pendidikan yang aman untuk membentuk generasi berilmu, berakhlak, berkarakter, sekaligus memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan.
Kini, dari Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya menuju Senayan, Thera bersiap membawa suara generasi muda Jawa Barat XI.
Ia tidak hanya membawa nama daerah pemilihan, sekolah, dan pesantren, tetapi juga membawa sebuah gagasan tentang kepemimpinan yang berorientasi pada kemanusiaan: pemimpin bukanlah mereka yang membuat orang lain takut, melainkan mereka yang mampu membuat orang lain merasa aman, tumbuh, dan berdaya.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments