Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tiga Buku Diluncurkan pada Final Moment Spemdalas, Kasegu Jadi Simbol Tumbuhnya Tradisi Literasi

Iklan Landscape Smamda
Tiga Buku Diluncurkan pada Final Moment Spemdalas, Kasegu Jadi Simbol Tumbuhnya Tradisi Literasi
Tiga Buku Diluncurkan pada Final Moment Spemdalas, Kasegu Simbol Tradisi Literasi (Dina Hanif Mufidah/PWMU.CO)
pwmu.co -

Peluncuran tiga buku karya siswa dan guru mewarnai kegiatan Final Moment Angkatan ke-23 SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik yang berlangsung di Aston Gresik Hotel & Conference Center, Sabtu (20/6/2026). Prosesi peluncuran diawali penampilan tiga pendekar Tapak Suci yang membawa simbol literasi berupa Kasegu di hadapan ratusan siswa kelas IX, orang tua, guru, dan tamu undangan.

Tiga pendekar Tapak Suci membuka prosesi dengan berjalan menuju panggung utama. Di belakang mereka, pasukan pembawa nampan membawa tiga buku yang akan diluncurkan dalam kegiatan tersebut.

Prosesi berlangsung saat para pendekar menyerahkan Kasegu, senjata khas Tapak Suci ciptaan Pendekar Besar M. Barie Irsjad. Kasegu memiliki makna serbaguna serta melambangkan keteguhan dan akhlak mulia. Simbol tersebut diterima Ir. Dodik Priyambada dari Majelis Dikdasmen PDM Gresik didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik Dr. H. S. Hariyanto, S.Pd., M.M., Sekretaris PCM GKB Gresik Ir. Sugeng, M.M., dan Kepala Spemdalas Yugo Triawanto, M.Si.

Kasegu kemudian ditancapkan sebagai simbol penanaman nilai literasi yang diharapkan terus tumbuh dan mengakar di lingkungan sekolah.

Tiga buku yang diluncurkan terdiri atas antologi cerpen karya siswa kelas IX, antologi cerpen karya M. Nor Qomari, serta kumpulan opini pendidikan karya guru Spemdalas.

Penanggung Jawab Final Moment sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ichwan Arif, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa ketiga buku tersebut merupakan hasil proses kreatif yang melibatkan siswa dan guru sebagai bagian dari penguatan budaya literasi sekolah.

“Antologi cerpen siswa merupakan hasil ujian praktik mata pelajaran Bahasa Indonesia semester genap. Naskah dikumpulkan kepada guru mata pelajaran, kemudian disunting oleh tim editor guru hingga layak diterbitkan menjadi buku,” ujarnya.

Sementara itu, kumpulan opini pendidikan guru lahir dari kegiatan lokakarya menulis yang diikuti para pendidik. Berbagai pengalaman, refleksi, dan praktik pembelajaran kemudian dihimpun menjadi karya bersama.

Tiga Buku Diluncurkan pada Final Moment Spemdalas, Kasegu Jadi Simbol Tumbuhnya Tradisi Literasi
Final Moment Spemdalas Diwarnai Peluncuran Tiga Buku Karya Siswa dan Guru (Dina Hanif Mufidah/PWMU.CO)

Ketua Pelaksana Final Moment, Fitri Wulandari, M.Pd., menegaskan bahwa peluncuran buku bukan sekadar agenda seremonial dalam acara perpisahan.

“Launching buku ini merupakan wujud nyata hasil olah pikir, rasa, dan karsa seluruh elemen Spemdalas dalam menumbuhkan semangat literasi. Pada saat yang sama, ini menjadi kado manis atas kelulusan Angkatan ke-23,” tuturnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Menurut Wulan, antologi cerpen siswa mengangkat tema cita-cita, perjuangan, dan mimpi anak-anak dalam meraih masa depan. Adapun buku opini pendidikan guru berisi praktik baik serta refleksi para pendidik dalam mendampingi peserta didik.

Ia juga menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang diberikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, yang berkenan memberikan prakata pada buku karya guru. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi para guru untuk terus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi dunia pendidikan.

Salah satu penulis dalam buku opini pendidikan tersebut adalah Desy Suryani, M.Pd., guru Fisika Spemdalas. Dalam tulisannya yang berjudul Fisika Bukan Sekadar Kumpulan Rumus dan Angka, Tapi Juga Rasa, ia mengangkat pengalaman mengajar dan membangun kedekatan dengan peserta didik.

“Guru bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga membangun hubungan dan rasa dengan siswa. Saya pernah berada di fase menjadi ‘guru yang tak dirindukan’ karena mengajar mata pelajaran yang dianggap sulit oleh mereka,” ujarnya.

Pesan reflektif lainnya disampaikan Rohmawati, M.Pd., guru IPS Spemdalas. Dalam opininya, ia menekankan pentingnya keteladanan guru dalam membentuk karakter peserta didik.

“Guru adalah teladan bagi siswa, terutama dalam berakhlak dan berperilaku. Karena itu, guru laksana cermin bagi siswanya,” ungkap Rohmawati.

Dalam tulisannya, Rohmawati menjelaskan bahwa seorang guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, perilaku positif yang dilakukan secara konsisten akan memberikan pengaruh baik bagi lingkungan dan peserta didik.

Peluncuran tiga buku tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan budaya literasi di lingkungan Spemdalas. Kegiatan ini juga menampilkan hasil karya siswa dan guru yang telah melalui proses penulisan, penyuntingan, dan penerbitan sebagai bagian dari pembelajaran serta pengembangan literasi sekolah. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 22/06/2026 23:34
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu