Di balik aktivitas mengajar di ruang kelas, Guru Bahasa Indonesia SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models), Cici Arista Devi SPd menghadirkan sebuah gagasan yang mengundang pembaca melihat perempuan dari perspektif yang lebih luas.
Gagasannya yang dituangkan dalam artikel berjudul “Dapur, Gendongan, dan Nasyiah: Seni Shodaqoh Waktu Perempuan Berkemajuan” berhasil mengantarkannya meraih Juara I Lomba Menulis Artikel oleh Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Banyuwangi.
Penganugerahan diserahkan saat pertemuan Antar Cabang Nasyiatul Aisyiyah se-Kab. Banyuwangi di TK ABA Kalibaru, (12/7/2026).
Kompetisi tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Milad ke-95 Nasyiatul Aisyiyah dengan mengusung tema “Nyala Kartini Muda: dari Nasyiatul Aisyah untuk Indonesia.”
Melalui lomba ini, para kader diajak menyampaikan pemikiran mengenai perempuan, pendidikan, dan pengabdian dalam bentuk karya tulis.
Pengakuan Gagasan
Bagi Cici, kemenangan bukan sekadar penghargaan atas kemampuan menulis. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi pengakuan terhadap gagasan bahwa perempuan mampu menjalankan berbagai peran tanpa harus kehilangan jati dirinya.
Menurut Cici, pemilihan judul artikelnya lahir dari realitas yang dekat dengan kehidupan perempuan sehari-hari.
“Saya memilih judul ini karena ingin mengangkat realitas perempuan yang sering kali harus menjalankan banyak peran dalam waktu yang bersamaan. Kata ‘dapur’ melambangkan tanggung jawab domestik, ‘gendongan’ melambangkan peran sebagai ibu dan pengasuh, sedangkan ‘Nasyiah’ merepresentasikan ruang pengabdian, dakwah, dan pemberdayaan perempuan” terang Cici.
Ketiganya, lanjut Cici, bukanlah beban yang saling bertentangan, tetapi dapat berjalan berdampingan ketika dijalani dengan niat dan semangat berkemajuan.
“Karena itu, saya menggunakan frasa ‘sedekah waktu’ sebagai simbol keikhlasan perempuan yang mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk keluarga, organisasi, serta masyarakat” jelasnya.
Melalui gagasan tersebut, Cici ingin menunjukkan bahwa kontribusi perempuan tidak selalu diukur dari materi. Waktu, perhatian, tenaga, dan pikiran yang diberikan dengan ikhlas merupakan bentuk sedekah yang memiliki nilai besar bagi keluarga, organisasi, maupun masyarakat.
Artikel tersebut juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap perempuan. Menurut Cici, perempuan bukan hanya identik dengan peran domestik, tetapi juga memiliki kapasitas menjadi pemimpin, pendidik, penggerak organisasi, sekaligus agen perubahan.
“Saya ingin mengajak kita semua lebih menghargai peran perempuan. Perempuan berasal dari kata ‘Empu’. Empu adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki keahlian, kebijaksanaan, dan penguasaan yang sangat tinggi dalam suatu bidang sehingga dihormati karena karya, ilmu, maupun keteladanannya” ujar Cici.
Pendiskreditan Peran Perempuan
Namun menurutnya, perempuan sering dinafikan hanya menjadi trinitas fungsi, yaitu macak, masak, dan manak.
“Saya ingin mengurai itu semua lewat tulisan saya bahwa perempuan bisa menyeimbangkannya, dan terdapat ruang tumbuh organisasi perempuan Muhammadiyah yang bernama Nasyiatul Aisyiyah” tuturnya.
Gagasan yang dituliskan Cici bukan sekadar refleksi pribadi. Nilai-nilai tersebut telah ia praktikkan dalam kesehariannya sebagai pendidik. Selain mengajar Bahasa Indonesia, ia aktif membangun budaya literasi di lingkungan sekolah.
Pada tahun 2024, ia mendirikan Models Jurnalisme (MoJoer) sebagai wadah bagi peserta didik untuk belajar menulis, melakukan peliputan, serta mengembangkan kemampuan jurnalistik sejak di bangku sekolah.
Baginya, kemampuan literasi bukan hanya keterampilan akademik, tetapi juga sarana membangun keberanian menyampaikan gagasan dan menghadirkan perubahan melalui tulisan.
Prestasi Cici pun mendapat apresiasi dari dewan juri. Siti Fatimah Alaydrus, selaku juri lomba, menilai karya tersebut memiliki kualitas tulisan yang kuat sekaligus menawarkan sudut pandang yang berbeda dibandingkan karya peserta lainnya.
“Juara I memang pantas diraih karena kualitas tulisan dan sudut pandangnya berbeda dengan peserta lainnya. PDNA Banyuwangi ingin menjadi rumah sekaligus wadah bagi para kader untuk mengembangkan bakat menulis,” ujarnya.
Bagi Cici sendiri, penghargaan tersebut menjadi penyemangat untuk terus berkarya dan menyuarakan isu-isu yang dekat dengan pendidikan, literasi, serta pemberdayaan perempuan.
Bukti Perempuan Bukan Konco Wingking
Atas capaian tersebut, ia merasa sangat bersyukur dan bahagia. Ia berujar, penghargaan ini menjadi motivasi baginya untuk terus menulis dan menyuarakan gagasan-gagasan yang bermanfaat, khususnya tentang pendidikan, literasi, dan pemberdayaan perempuan.
“Juga bisa membuktikan bahwa perempuan tidak hanya menjadi konco wingking atau pelengkap, tetapi juga bisa berprestasi. Semoga dapat menginspirasi perempuan lain agar tidak ragu berkarya, karena setiap pengalaman hidup memiliki nilai dan layak untuk dituliskan” harapnya.
“Bagi saya, kemenangan ini bukan hanya milik pribadi, tetapi juga milik keluarga, teman-teman di Nasyiatul Aisyiyah Cabang Siliragung, dan SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, tempat saya tumbuh dan berkembang,” ungkap Cici.
Bagi Cici Arista Devi, kemenangan ini bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang untuk menumbuhkan budaya literasi.
Ia percaya, sebuah tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan media yang mampu mengubah cara pandang, menggerakkan kesadaran, serta menginspirasi lebih banyak perempuan agar berani menuliskan pengalaman, gagasan, dan pengabdiannya bagi masyarakat.





0 Tanggapan
Empty Comments