Pertanyaan sederhana, “Setelah Bapak tiada, apa yang engkau lakukan Nak?” menggema dalam Kajian Rutin Ahad Pagi yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan di Masjid Nurul Huda, PRM Kepunten, Tulangan, Ahad (12/7/2026). Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan membutuhkan generasi penerus yang akan melanjutkannya.
Kajian menghadirkan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PDM Sidoarjo, Ustadz Yunan Daris, M.Pd.I., yang mengajak jamaah merenungkan pentingnya kaderisasi, baik di lingkungan keluarga, masjid, maupun Persyarikatan Muhammadiyah.
Mengawali kajiannya, Ustadz Yunan mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki batas usia. Karena itu, setiap amal, dakwah, dan perjuangan yang telah dirintis harus dipastikan memiliki penerus yang akan melanjutkannya.
Ia kemudian mengutip firman Allah Swt. dalam Surat Al-Baqarah ayat 133 yang mengisahkan detik-detik terakhir Nabi Ya’qub AS. Menurutnya, kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa yang paling dikhawatirkan seorang nabi bukanlah urusan dunia, melainkan keberlanjutan keimanan generasi setelahnya.
“Pertanyaan Nabi Ya’qub bukan tentang pekerjaan, harta, ataupun tempat tinggal anak-anaknya. Yang beliau pastikan adalah, siapa yang akan kalian sembah setelah aku tiada,” jelasnya.
Menurut Ustadz Yunan, pesan Al-Qur’an tersebut tetap relevan hingga saat ini. Orang tua maupun para penggerak dakwah tidak hanya bertugas membangun masjid, menghidupkan pengajian, atau mengembangkan amal usaha, tetapi juga memastikan hadirnya generasi yang siap melanjutkan estafet perjuangan Islam.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Yunan menekankan bahwa proses kaderisasi harus dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab menanamkan nilai-nilai keimanan sekaligus membiasakan anak mencintai masjid dan aktivitas dakwah sejak usia dini.
“Jangan sampai setelah orang tua meninggal, anak-anak justru menjauh dari masjid. Mereka harus tumbuh menjadi generasi yang mencintai Al-Qur’an, shalat berjamaah, dan siap melanjutkan perjuangan Islam,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa kaderisasi tidak boleh menunggu usia senja. Semakin dini dilakukan, semakin besar peluang lahirnya generasi yang siap melanjutkan perjuangan dakwah.
Selain membina anak kandung, Ustadz Yunan mengajak seluruh jamaah menyiapkan putra-putri ideologis melalui pembinaan di masjid, sekolah, dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Menurutnya, guru, takmir masjid, mubaligh, hingga aktivis Muhammadiyah memiliki tanggung jawab yang sama dalam mencetak kader-kader yang kelak menjadi pemimpin umat.
“Kita mungkin tidak melahirkan mereka, tetapi kita mendidik mereka. Mereka inilah yang kelak akan melanjutkan perjuangan dakwah,” ungkapnya.
Ia juga mendorong agar masjid Muhammadiyah terus menjadi pusat pembinaan umat. Selain menghadirkan kegiatan keagamaan, masjid diharapkan mampu mengembangkan tata kelola yang baik, menjaga kebersihan, serta memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari penguatan dakwah.
Menutup kajiannya, Ustadz Yunan mengajak jamaah menjadikan setiap amal sebagai investasi akhirat yang terus mengalir manfaatnya.
“Kebaikan yang kita mulai hari ini jangan berhenti ketika kita meninggal. Biarlah terus hidup melalui anak-anak saleh, kader-kader dakwah, dan amal usaha yang terus memberi manfaat,” tuturnya.
Kajian Ahad Pagi PCM Tulangan berlangsung khidmat dan diikuti jamaah dari berbagai ranting Muhammadiyah, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta organisasi otonom di wilayah Tulangan. Setelah kajian, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan silaturahmi antarpeserta.





0 Tanggapan
Empty Comments