Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengajak mahasiswa menerapkan digital mindfulness sebagai langkah menghadapi ancaman kelelahan mental akibat penggunaan gawai yang tidak terkendali.
Edukasi tersebut disampaikan dalam penutupan Kuliah Sabtu Subuh (KSS) Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum (MKWK) UMM yang berlangsung Sabtu (13/6/2026).
Mengusung tema “Mindfulness di Era Digital”, kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan mengelola penggunaan teknologi secara sehat agar terhindar dari berbagai dampak negatif dunia digital.
Psikolog Pendidikan sekaligus Ketua Korps Immawati DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Wilda Kumala Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa mahasiswa saat ini sangat rentan mengalami digital distress akibat fenomena FOMO (fear of missing out), kecemasan terhadap validasi sosial, hingga kebiasaan doomscrolling atau terus-menerus mengonsumsi informasi negatif di media digital.
“Gejalanya bisa muncul dalam berbagai bentuk. Secara psikologis seseorang menjadi sulit berkonsentrasi, gelisah, cemas saat jauh dari ponsel, mudah marah, hingga akhirnya mengalami burnout akademik,” ujarnya.
Menurut Wilda, kecemasan digital sering membuat seseorang kehilangan fokus terhadap kehidupan saat ini karena terlalu terpaku pada masa lalu atau terlalu khawatir terhadap masa depan.
“Sering kali kita terjebak pada masa lalu atau kecemasan tentang masa depan secara berlebihan. Karena itu, bersikap bijak terhadap masa lalu dan masa depan dimulai dengan kemampuan untuk hadir sepenuhnya di masa kini,” ungkapnya.
Dalam pemaparannya, Wilda menekankan pentingnya integrasi antara pendekatan psikologi dan nilai-nilai agama dalam membangun kesadaran digital yang sehat. Ia menjelaskan bahwa konsep khusyuk dapat membantu mahasiswa melatih fokus dan mengurangi distraksi dari gawai, sementara ihsan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap aktivitas, termasuk di ruang digital, selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.
“Ihsan membuat kita memiliki filter dalam berperilaku di media sosial. Dengan begitu, kita tidak akan melakukan cyberbullying, menyebarkan hoaks, atau melakukan plagiarisme digital,” tegasnya.
Sebagai langkah praktis, mahasiswa didorong untuk mulai mematikan notifikasi yang tidak penting, membiasakan monotasking dibanding multitasking, serta menerapkan teknik STOP (Stop, Take a Breath, Observe, Proceed) sebelum membuka media sosial.
Melalui teknik tersebut, mahasiswa diajak melakukan refleksi sederhana sebelum beraktivitas di dunia maya.
“Pada jeda tersebut, mahasiswa dapat bertanya kepada diri sendiri, ‘Apakah Allah rida dengan apa yang aku lakukan? Apakah ini membawa manfaat?’ sebelum memutuskan untuk berinteraksi di dunia maya,” jelasnya.
UMM berharap pembekalan ini mampu membantu mahasiswa menjadi pengguna teknologi yang lebih bijak, menjaga kesehatan mental dan spiritual, serta tidak terjebak menjadi budak algoritma di era digital.
Menurut Wilda, kemampuan mengelola penggunaan teknologi secara sehat merupakan bekal penting bagi mahasiswa untuk mencapai kesuksesan akademik sekaligus membangun kehidupan yang lebih seimbang dan menenangkan di masa depan.





0 Tanggapan
Empty Comments