Penguatan kerja sama di kawasan ASEAN tidak cukup hanya mengandalkan diplomasi antarnegara. Dibutuhkan pula dukungan riset akademik yang mampu melahirkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) bagi para pengambil keputusan.
Berangkat dari semangat tersebut, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) menjajaki kolaborasi strategis dalam pengembangan riset, penyusunan policy recommendation, serta policy brief.
Peluang kerja sama itu dibahas dalam Courtesy Meeting antara Rektor UMY dan Secretary-General AIPA, H.E. Dr. Chem Widhya, pada Senin (29/6/2026).
Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., menjelaskan bahwa UMY selama ini telah berkontribusi dalam memperkuat komunitas ASEAN melalui implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Sejumlah program yang telah dijalankan antara lain pemberian beasiswa internasional bagi mahasiswa dari berbagai negara ASEAN, pendampingan peningkatan mutu pendidikan di Bangsamoro, Filipina Selatan, termasuk penguatan kurikulum pendidikan Islam, serta pengembangan ASEAN Studies Center (ASC) UMY sebagai pusat kajian kawasan yang aktif menghasilkan berbagai penelitian,” katanya.
Menurut Nurmandi, kolaborasi dengan AIPA akan semakin memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan rekomendasi kebijakan yang relevan bagi parlemen negara-negara ASEAN.
“Kami memiliki ASEAN Studies Center yang aktif melakukan berbagai kajian regional. Kami akan sangat senang apabila ASC UMY dapat berkolaborasi dengan AIPA, terutama dalam penyusunan riset dan policy brief yang dapat menjadi masukan berharga bagi agenda parlemen ASEAN,” ujarnya.
Sementara itu, Secretary-General AIPA, H.E. Dr. Chem Widhya, mengapresiasi kiprah internasional UMY dalam mendukung penguatan kerja sama kawasan.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai penyedia gagasan dan kajian ilmiah yang dapat memperkuat perdamaian, stabilitas, dan tata kelola kawasan ASEAN.
“Kami berharap hubungan yang terbangun hari ini tidak berhenti pada dialog sesaat, melainkan berlanjut pada aksi nyata di masa depan. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung ASEAN melalui penguatan pengetahuan, pemahaman, dan penghormatan terhadap hukum sebagai fondasi ketertiban kawasan,” kata Chem Widhya.
Dia menambahkan, parlemen regional memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan hukum tidak hanya menjadi aturan di atas kertas, tetapi benar-benar diimplementasikan.
Karena itu, hasil riset dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan sebagai sumber perspektif baru dalam memperkaya proses penyusunan kebijakan sekaligus mendukung berbagai agenda strategis ASEAN.
Pertemuan tersebut menjadi langkah awal bagi UMY dan AIPA untuk membangun kolaborasi yang lebih erat antara dunia akademik dan lembaga legislatif kawasan.
Sinergi ini diharapkan mampu menghasilkan riset-riset yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi penguatan integrasi dan pembangunan berkelanjutan di kawasan ASEAN. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments