Karena bersikap negatif seperti itu dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beberapa sikap usil dan suka mengolok- olok yang dilarang sebagai berikut:
Usil dan olok-olok keyakinan
Keyakinan, apalagi yang berkaitan dengan keyakinan agama dilarang dijadikan bahan olok- olok. Selain itu tidak pula untuk diusili dengan cara-cara apapun.
Usil dan olok-olok pada Allah dan ayat-ayat Nya sungguh dilarang. Hal ini secara tegas dilarang oleh Allah Azza Wa Jalla dalam firman Nya.
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, tentu mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’
Katakanlah, ‘Apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Janganlah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman…” (QS. At-Taubah: 65-66).
Begitu pula pada sesembahan agama lain dilarang, sesuai firman Allah Azza Wa Jalla. “Dan janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena nanti mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan…” (QS. Al An’am:108).
Selain itu pada kitab Nya. sesuai firman Nya. “Dan apabila kamu melihat orang- orang memperolok-olokkan ayat-ayat (kitab) Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain”. (QS. Al An’am:68).
Larangan usil dan olok-olok juga dilakukan kepada Rasul-rasul. Sebagaimana disebutkan dalam firman Nya,
“Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu (usil) memperolok-olokkannya.” (QS Yasin:30).
Demikian pula usil pada keluarga Rasulullah. Sesuai larangan yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah melarang masuk surga terhadap orang yang menganiaya ahlu baitku, atau orang yang memerangi mereka, atau orang yang membantu orang yang memerangi mereka, atau orang yang memaki-maki mereka.” (HR. Imam Ahmad).
Termasuk usil pada sahabat Rasulullah, juga dilarang sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
“Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka itu tidak bisa menandingi satu mud infak sahabat, bahkan tidak pula separuhnya” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540).
Usil pada pribadi dan keluarga
Usil kepada orang tua atau ibu bapak sendiri juga dilarang. Sebab perbuatan itu adalah dosa besar, termasuk durhaka pada mereka. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya.” Para sahabat heran dan bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang mencela kedua orang tuanya sendiri?”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Dia mencela ayah orang lain, kemudian orang itu membalas mencela ayahnya; dan dia mencela ibu orang lain, kemudian orang itu membalas mencela ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Demikian pula usil dan olok-olok pada keadaan fisik orang. Sebagaimana para sahabat mentertawakan Ibnu Mas’ud alaihi sallam yang betis kakinya kecil. Hal ini ditegaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
“Apa yang membuat kalian tertawa?” Mereka menjawab, “Wahai Nabi Allah, karena kedua betisnya yang kurus.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betis itu lebih berat di timbangan (kebaikan hari kiamat) daripada gunung Uhud.” (HR. Ahmad).
Apalagi usil dan olok-olok pada orang miskin dan yang tertimpa kemiskinan dan penderitaan orang lain sangatlah dilarang.
Sebab nasib dan kehidupan seorang manusia bukanlah manusia yang menentukan, melainkan hanyalah Allah Azza Wa Jalla. (QS: Al-Kahfi:28).
Terhadap mereka harusnya diberikan pertolongan bukan diusili dan diolok-olok.
Sesuai sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa yang membantu para janda dan kaum fakir miskin, maka ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang rutin shalat malam dan berpuasa siang.” (HR. Al-Bukhari no. 5353 dan Muslim no. 2982)
Kemudian juga dilarang usil pada semua orang. Apakah terhadap orang gila, difabel, kaum duafa, suku dan bangsa lain, gender dan siapa saja. Karena selain mereka itu makhluk ciptaan Allah Azza Wa Jalla yang tidak dibeda-bedakan, kecuali ketaqwaannya. (QS. Al Hujurat:13).
Larangan usil dan olok-olok pada mereka ini sesuai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka (yang diperolok- olokkan) lebih baik daripada mereka…” (QS. Al-Hujurat: 11).
Selain itu larangan usil dan olok-olok juga dilakukan pada sesama mukmin. Sebab sesama mukmin adalah bersaudara dan jikan berselisih atau konflik harus disampaikan. (QS. Al Hujurat: 10).
Larangan usil dan olok-olok pada mereka karena selain dapat menyakiti dirinya dan juga termasuk perbuatan dosa. Sesuai firman Allah Azza Wa Jalla.
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminah tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58).






0 Tanggapan
Empty Comments