Dengan demikian, dampak dari berbuat usil dan olok-olok itu menimbulkan dosa besar. Dan jika penyakit hati itu tidak segera dicegah dan dibiarkan, maka akan terbawa dosanya hingga yaumil akhir. Karena itu perlu adanya ikhtiar buat melakukan pencegahan dan penyembuhan.
Cara Mencegah Sikap Usil
Karena usil dan mengolok-olok itu perbuatan yang dilarang dan dapat menjadi dosa bagi yang melakukannya, maka penyakit hati ini haruslah dicegah atau dilakukan usaha pencegahan agar tidak menjangkiti seseorang, apalagi di kalangan sesama muslim. Pencegahan dapat dilakukan diantaranya sebagai berikut:
1. Lebih baik diam.
Dari pada berbuat usil dan olok-olok, maka dalam bergaul dengan sesama lebih baik diam. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diam lah.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).
2. Ingat Allah sebelum bicara.
Lalu perlu ingat Allah Azza Wa Jalla sebelum bicara atau berkomentar saat berkomunikasi agar tidak usil dan olok-olok orang lain. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
“Janganlah kalian banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah. Karena, banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah akan membuat hati menjadi keras, dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.” (HR. Tirmidzi)
3. Berdoa dan beristighfar.
Maka segeralah beristighfar jika pada saat bicara usil dan olok-olok sebelum panjang dan besar dosanya. Sebagaimana diingatkan dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
“Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak perkataan yang sia-sianya (usil/gurauan yang tak berguna), kemudian sebelum bangkit dari majelis itu ia mengucapkan:
‘Subhaanakallahum- ma wa bihamdika, asyhadu al laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik’ (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampunan -Mu dan bertaubat kepada-Mu); melainkan akan diampuni baginya apa yang terjadi di majelis tersebut.” (HR. Tirmidzi)
4. Minta maaf jika salah.
Segera pula minta maaf kepada orang yang diusili dan di olok-olok agar dihalalkan dan dosa nya dihapuskan oleh Allah Azza Wa Jalla. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
“Barang siapa pernah berbuat zhalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaknya meminta orang tersebut menghalalkan dirinya (memaafkan) dari perbuatan aniaya tersebut hari ini sebelum datang hari tidak ada uang dinar dan dirham (hari kiamat)…” (HR. Bukhari no. 2269).
5. Saling Menasehati.
Saling nasehati sedemikian diperlukan pada sesama muslim agar tidak usil dan olok-olok pada sesama apalagi pada saat sedang bicara dan berbincang-bincang. Sesuai tuntunan dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, ‘Bagi kami amal- amal kami dan bagimu amal-amal agamamu, salam sejahtera bagi kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.'” (QS. Al Qashash:55).
6. Bacalah Al-Qur’an
Selalu membaca Al-Qur’an juga menjadi cara ampuh untuk mencegahnya berbuat usil dan olok -olok pada orang lain. Dari pada disibukkan oleh berbuat usil dan olok-olok lebih baik melakukan aktivitas dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.
Sesuai pesan dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Bacalah Al-Qur’an selama ia dapat mencegahmu (dari perbuatan buruk). Jika Al-Qur’an tidak mencegahmu, berarti engkau tidaklah (benar-benar) membacanya”. (HR. Ahmad dan Thabrani)
7. Berkata yang mulia
Ucapan dan kata-kata mulia yang menjadi kebiasaan seseorang juga dapat mencegah diri nya dari berbuat usil dan olok-olok pada sesama manusia. Hal ini sesuai dengan tuntunan Allah Azza Wa Jalla dalam firman Nya.
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salam’ (kata- kata mulia yang membawa keselamatan/damai”. (QS Al Furqan:63)
8. Tidak Benci dan Dendam
Mencegah sikap usil dan olok-olok orang lain pada diri muslim tidak harus dibalas dengan cara membenci dan membalas dendam. Sebagaimana yang dilakukan oleh para Rasul dan Nabi setelah mereka diusili dan diolok–olok.
Sesuai hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. “Janganlah kalian saling dengki- mendengki, jangan saling benci-membenci, jangan saling memutus hubungan, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim No. 2564/Muttafaq ‘Alaih)
9. Balas dengan Berbuat Baik.
Apabila ada orang-orang yang berbuat usil dan olok-olok kepada diri pribadi, maka akan lebih baik disikapi dan dihadapi dengan cara berbuat baik pada mereka. Sebagaimana tuntunan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fushshilat: 34).
10. Mengingatkan sunnah Rasullullah.
Kadangkala untuk mengatasi orang yang berbuat usil dan olok-olok yang menyebabkan hidupnya terganggu, perlu memperhatikan dan mengikuti nasehat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya,
“Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Seorang berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah saya punya tetangga yang menggangguku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata padanya :
“Pulanglah dan keluarkanlah barang milikmu ke jalan.” Orang itu lalu pulang dan mengeluarkan barang miliknya ke jalan. Maka orang-orang berkumpul padanya dan bertanya. “Apa yang terjadi padamu?” Orang itu menjawab : “Tetanggaku mengganggu, lalu kuceritakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata: Pulanglah dan keluarkanlah barang milikmu.”
Orang-orang lalu berkata : “Ya Allah laknat dan hinakanlah dia”. Rupanya hal itu terdengar oleh tetangganya. Maka berangkatlah ia untuk menemuinya dan berkata : “Kembalilah ke rumahmu, demi Allah saya tidak akan mengganggumu lagi.” (Hasan Shahih riwayat Bukhori di kitab Adabul Mufrad no. 124. Lihat juga At Ta’liq Ar Raghib 3/235, Abu Dawud : 40-Kitab Al Adab, 123).






0 Tanggapan
Empty Comments