Tauhid bukan hanya menjadi dasar keimanan seorang muslim, tetapi juga menjadi cara memandang seluruh kehidupan.
Semakin kuat keyakinan seseorang kepada Allah SWT, semakin mudah ia menerima setiap nikmat maupun kehilangan sebagai bagian dari ketetapan-Nya.
Pesan tersebut disampaikan Ustadz H Ahmad Anas SAg dalam Kajian Islam Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mantup bertema “Merawat Keberuntungan Dunia Akhirat”.
Kajian tersebut berlangsung di Masjid Al Hajjah Sittul Banat Khalid Ali, Kompleks SMK Muhammadiyah 10 Mantup, Sabtu malam (11/07/2026).
Bukan tentang Mengagumi Nikmat
Mengawali ceramahnya, Ahmad Anas mengajak jamaah memaknai firman Allah SWT dalam Surah Al-Fatihah ayat 2, Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Menurutnya, kalimat Alhamdulillah bukan sekadar ucapan syukur, melainkan pengakuan bahwa seluruh pujian hanya milik Allah SWT.
“Alhamdulillah bukan hanya ucapan syukur, tetapi pengakuan bahwa seluruh pujian adalah milik Allah” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa manusia boleh mengagumi keindahan dan berbagai kenikmatan dunia. Namun, kekaguman itu tidak boleh berhenti pada makhluk, melainkan harus mengantarkan hati untuk mengingat Allah sebagai pemilik segala nikmat.
“Yang paling penting bukan mengagumi nikmatnya, tetapi mengingat siapa pemilik nikmat itu” katanya.
Ahmad Anas kemudian mengutip Surah Al-Baqarah ayat 284 yang menegaskan bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi adalah milik Allah SWT. Kesadaran tersebut, menurutnya, akan membentuk sikap yang lebih bijaksana dalam menyikapi kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa rumah, kendaraan, jabatan, harta, bahkan keluarga hanyalah titipan Allah SWT. Karena itu, ketika seseorang memahami hakikat kepemilikan tersebut, ia tidak akan larut dalam kesedihan saat menghadapi kehilangan.
“Semakin kuat tauhid seseorang, semakin ringan ia menghadapi kehilangan” tuturnya.
Tauhid sebagai Fondasi Berpikir
Lebih lanjut, Ahmad Anas mengingatkan bahwa setiap detik kehidupan selalu menghadirkan pilihan antara pahala dan dosa.
Aktivitas yang tampak sederhana, seperti bekerja, berkendara, melayani tamu, hingga menunggu seseorang, dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan syariat.
Menurutnya, Islam tidak hanya mengatur ibadah mahdhah, seperti salat dan puasa, tetapi juga membimbing umat dalam menjalani seluruh aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, seorang muslim perlu terus bermuhasabah agar tidak merasa cukup dengan amal yang telah dilakukan.
“Jangan merasa sudah beruntung dengan amal yang sedikit. Teruslah bermuhasabah dan memperbaiki diri” pesannya.
Menutup ceramahnya, Ahmad Anas mengajak jamaah menjadikan tauhid sebagai fondasi dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Ia menegaskan bahwa keberuntungan dunia dan akhirat bukan hanya diukur dari banyaknya harta atau kedudukan, melainkan dari keimanan yang melahirkan amal saleh dan kesadaran bahwa seluruh kehidupan merupakan amanah dari Allah SWT.
Kajian Islam PCM Mantup tersebut dihadiri ratusan warga Muhammadiyah dari berbagai ranting di Kecamatan Mantup.
Melalui tema Merawat Keberuntungan Dunia Akhirat, jamaah diajak memperkuat tauhid agar mampu menjalani kehidupan dengan penuh syukur, kesabaran, dan semangat beramal saleh.





0 Tanggapan
Empty Comments