Suasana penuh keceriaan mewarnai hari pertama masuk sekolah di SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Senin (13/7/2026). Mengawali Tahun Ajaran 2026/2027, sekolah yang daftar indennya telah mencapai tahun 2034 ini menggelar kegiatan First Day School (FDS) bertema “MPLS Ramah – Srawung Bocah Riangtara”.
Kegiatan ini dirancang untuk menyambut murid baru kelas I sekaligus menyapa kembali murid kelas II hingga VI setelah libur panjang. Sejak pagi, ratusan murid mengikuti berbagai aktivitas yang dikemas dalam suasana hangat, inklusif, dan menyenangkan.
Sejak pukul 06.30 WIB, para ustaz dan ustazah telah bersiap di gerbang sekolah untuk menyambut kedatangan murid dengan senyum dan jabat tangan. Penyambutan semakin semarak dengan kehadiran tiga Singa Barong lengkap dengan Dadak Merak yang berdiri megah di pintu masuk sekolah.
Srawung Bocah Riangtara
Konsep Srawung Bocah Riangtara menghadirkan ruang interaksi yang mendorong anak-anak saling mengenal dan berbaur tanpa rasa canggung. Sentuhan budaya khas Jawa Timur menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang ramah dan menyenangkan.
Kegiatan First Day School dibuka secara resmi oleh Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Arif Jamali Muis, M.Pd., didampingi Kepala UPT LPABK Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Renyta Yuniarti Ningtyas, M.Pd.
Pada kesempatan tersebut, SDMM juga meluncurkan beberapa inovasi sebagai bentuk komitmen mewujudkan sekolah ramah anak dan inklusif. Melalui sesi Pentas Riangtara, sekolah meresmikan buku karya Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) serta membuka Galeri “Dunia di Atas Roda”, ruang pamer karya seni kreatif para murid. Selain itu, sekolah juga meluncurkan Ruang Terapi TEACCH yang dirancang untuk mendukung proses belajar dan meningkatkan kemandirian murid berkebutuhan khusus secara lebih terstruktur.
Berbagai aktivitas edukatif turut memeriahkan hari pertama sekolah. Di area Rindang Impian, para murid menuliskan harapan dan cita-cita mereka pada enam replika pohon yang telah disiapkan. Sementara di kawasan Gebyok Kuliner, murid menikmati aneka makanan tradisional dan camilan sehat.
Kemeriahan semakin terasa saat komunitas seni Giri Seru Budoyo Gresik menampilkan pertunjukan Reog. Penampilan Singa Barong, Bujang Ganong, dan penari Jathilan sukses memukau perhatian seluruh murid. Bahkan, beberapa murid dan guru berkesempatan merasakan pengalaman unik dengan menaiki kepala Singa Barong.
Interaktif, Humanis, dan Bernuansa Budaya Lokal
Ketua Panitia First Day School sekaligus Koordinator Kesiswaan SDMM, Niswatul Mujtahidah, S.E., mengatakan bahwa konsep MPLS tahun ini sengaja dirancang lebih interaktif, humanis, dan sarat nuansa budaya lokal.
“Kami ingin hari pertama sekolah menjadi momen yang dinantikan, bukan ditakuti. Melalui berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari Srawung Bocah Riangtara, pentas seni, hingga pengenalan fasilitas terapi baru, kami menghadirkan ruang-ruang edukatif yang menyenangkan. Tujuannya agar anak-anak merasa nyaman, aman, dan langsung merasakan bahwa SDMM adalah rumah kedua yang penuh kegembiraan,” ujarnya.
Kepala SD Muhammadiyah Manyar, Athiq Amiliyah, S.Pd., menegaskan bahwa tema MPLS Ramah bukan sekadar slogan, melainkan bagian dari komitmen sekolah dalam membangun lingkungan belajar yang aman dan berpihak kepada seluruh anak.
“Peluncuran ruang terapi dan buku karya anak-anak hebat kita hari ini merupakan wujud nyata visi sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman secara psikologis bagi semua anak tanpa terkecuali. Melihat semangat dan keceriaan mereka sepanjang kegiatan, kami optimistis tahun ajaran baru ini akan dipenuhi prestasi dan keberkahan,” ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PRM PPI, Ir. Hon Jaelani. Ia menilai pendekatan MPLS yang ramah anak dan inklusif menjadi fondasi penting dalam membangun karakter serta semangat belajar murid sejak hari pertama sekolah.
“Kami sangat mendukung pelaksanaan MPLS yang ramah anak seperti ini. Kehadiran fasilitas pendukung, seperti Ruang Terapi TEACCH, menjadi langkah strategis dalam membangun layanan pendidikan yang semakin berkualitas. Kami berharap sinergi antara sekolah, orang tua, dan majelis terus terjaga demi mencetak generasi Islami yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” tuturnya.
Rangkaian First Day School ditutup dengan sesi foto bersama setiap kelas bersama Singa Barong dan Dadak Merak. Momen tersebut menjadi penanda dimulainya perjalanan belajar baru yang ramah, kreatif, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh keluarga besar SD Muhammadiyah Manyar. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments