Warna biru telah lama melekat pada berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Mulai dari papan nama sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, dan lainnya, warna ini tampak dominan. Apakah warna biru AUM berasal dari inspirasi seragam KH Ahmad Dahlan di deklarasi Muhammadiyah 28 Desember 1912?
Hingga kini belum ditemukan penjelasan kenapa warna biru identik dengan Muhammadiyah. Berbagai dokumen dan catatan lebih banyak menjelaskan perkembangan organisasi, amal usaha, serta pemikiran para tokohnya. Sementara asal-usul kesejarahan pemilihan warna biru belum banyak dibahas secara khusus. Hanya pernah ada panduan pembuatan papan nama atau plang AUM, yang salah satunya memuat warna biru itu.
Di tengah minimnya keterangan sejarah itu, biru dalam kesejarahannya memang telah muncul bersamaan dengan lahirnya Muhammadiyah. Warna biru begitu menonjol dalam acara deklarasi Muhammadiyah di Gedung Loodge Gebouw Malioboro, 28 Desember 1912. Sebab, KH Ahmad Dahlan yang sekaligus Ketua Muhammadiyah mengenakan jubah berwarna hangguri blau.
Sebagaimana yang dicatat salah satu murid Kyai Dahlan, M. Syuja’, diceritakan asal warna biru itu. Setelah mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Hindia Belanda 18 November 1912, para pengurus Muhammadiyah segera mengadakan rapat. Selain pengurus, rapat juga mengundang dua pengurus Boedi Oetomo. Yaitu Raden Dwijosewoyo dan Raden Budiharjo.
Agenda rapat tersebut sangat penting. Para peserta membahas bagaimana Muhammadiyah akan diperkenalkan kepada masyarakat umum. Termasuk lokasi yang dianggap paling tepat untuk deklarasi.
“Setelah dibicarakan dengan semangat yang ramai mengenai soal tempat, karena pada waktu itu belum ada tempat yang tersedia untuk berkumpul orang banyak,” tulis M. Syuja’
Dalam rapat itulah Raden Dwijosewoyo mengusulkan acara berlokasi di Loodge Gebouw di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Gedung tersebut dinilai cukup representatif untuk menampung para tamu yang akan hadir. Lebih dari itu, Dwijosewoyo menyatakan kesediaannya untuk membantu mengurus penggunaan gedung tersebut.
“…akhirnya Raden Dwijosewoyo memberi petunjuk, kalau dapat disetujui, dimajukan usul hendaknya perkumpulan itu diselenggarakan di Loodge Gebouw Malioboro dan beliau sanggup menguruskannya, dan waktunya hari Sabtu malam Minggu terakhir bulan Desember 1912,” lanjut Syuja’.
Usulan itu akhirnya diterima. Rapat juga menetapkan waktu pelaksanaan pada Sabtu malam Minggu terakhir bulan Desember 1912 atau 28 Desember 1912. Menariknya, acara itu dirancang sebagai pertemuan terbuka. Artinya, tidak hanya mereka yang memperoleh undangan resmi yang boleh hadir. Tapi masyarakat umum juga diperkenankan datang dan menyaksikan langsung peresmian organisasi baru tersebut.
Di tengah berbagai persiapan itu, para pengurus juga memikirkan penampilan mereka saat tampil di depan publik. Busana yang dipilih bukan sekadar pakaian biasa. Setiap jenis pakaian mencerminkan status, pengalaman keagamaan, sekaligus karakter gerakan.
Sebagai ketua, KH Ahmad Dahlan mengenakan pakaian yang paling khas. Penampilan tersebut mencerminkan sosok ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus wibawa kepemimpinan. Ia tampil dengan surban puteran, gamis, dan jubah berwarna hangguri blau.
“Para pengurus diatur dengan berpakaian uniform secara dahulu yang mirib akan jiwanya Muhammadiyah, yaitu ketua KHA. Dahlan bersurban puteran bergamis dan berjubah Hangguri Blau,” tulis Syuja’.
Adapun para pengurus lain yang telah menunaikan haji mengenakan surban biasa, berbaju hitam tertutup, memakai kain panjang atau nyamping, serta berterumpah. Sementara itu, para pengurus yang belum berhaji mengenakan destar atau ikat kepala. Juga baju putih terbuka dengan dasi, berkain panjang, dan memakai selop.
“Bagi yang belum berhaji memakai destar, baju putih buka memakai dasi, berkain panjang, pakai selop,” kenang Syuja’.
Keberadaan KH Ahmad Dahlan yang bergamis blau atau biru itu tentu saja cukup mendominasi. Sebab, dia satu-satunya pengurus Muhammadiyah yang memakai pakaian warna itu. Sementara pengurus lainnya berseragam warna hitam dan putih.
Belum ada bukti yang dapat memastikan hubungan langsung antara deklarasi Muhammadiyah dengan warna biru AUM. Tapi fakta mengenai jubah hangguri blau yang dikenakan KH Ahmad Dahlan membuka ruang kajian menarik. Bisa jadi, warna biru bukan sekadar pilihan estetika. Tapi bisa jadi jejak simbolik yang berakar pada masa-masa awal berdirinya Muhammadiyah.





0 Tanggapan
Empty Comments