Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hj. Muhaiyyah dan Jejak Dakwah Kultural yang Mengakar di Desa Randegan

Iklan Landscape Smamda
Hj. Muhaiyyah dan Jejak Dakwah Kultural yang Mengakar di Desa Randegan
Hj. Muhaiyyah dan Jejak Dakwah Kultural yang Mengakar di Desa Randegan

Perkembangan Muhammadiyah di Desa Randegan, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, tidak dapat dilepaskan dari peran seorang perempuan sederhana yang memiliki semangat dakwah luar biasa, yakni Hj. Muhaiyyah.

Pada awal 1972, ketika aktivitas keagamaan masyarakat masih banyak berpusat pada tradisi yasinan dari rumah ke rumah, Hj. Muhaiyyah melihat peluang untuk menghadirkan pemahaman agama yang lebih luas tanpa harus menghilangkan budaya yang telah mengakar di tengah masyarakat.

Kala itu, kegiatan yasinan umumnya hanya berisi pembacaan Surat Yasin secara bersama-sama. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat desa. Namun, menurut Hj. Muhaiyyah, pengajian tidak seharusnya berhenti pada pembacaan satu surat saja.

Ia ingin masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang Al-Qur’an dan ajaran Islam secara menyeluruh.

Alih-alih menghapus tradisi yang sudah berjalan, Hj. Muhaiyyah memilih pendekatan yang lebih bijaksana. Kegiatan yasinan tetap dilaksanakan sebagaimana biasanya, tetapi kemudian ditambah dengan pembacaan surat-surat Al-Qur’an lainnya yang dilanjutkan dengan kajian sederhana.

Melalui cara tersebut, masyarakat tidak merasa dipaksa menerima perubahan secara drastis.

“Ibu Muhaiyyah tidak pernah datang dengan cara menyalahkan tradisi yang sudah ada. Beliau tetap mengawali pertemuan dengan membaca Surat Yasin, tetapi kemudian ditambah membaca surat lain dan dijelaskan maknanya. Dari situ masyarakat perlahan memahami bahwa Al-Qur’an tidak hanya Surat Yasin saja, tetapi banyak ajaran lain yang perlu dipelajari,” ungkap Ketua PRM Randegan, Suhadi, yang juga merupakan menantu Hj. Muhaiyyah.

Yang menarik, Hj. Muhaiyyah bukanlah sosok yang lahir dari lingkungan pendidikan pesantren formal. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan pondok sebagaimana lazimnya tokoh agama pada umumnya.

Pengetahuan keagamaannya diperoleh melalui ketekunan belajar secara mandiri dan menghadiri berbagai pengajian yang diselenggarakan di musala maupun masjid sekitar desa.

Dari situlah wawasan keagamaannya terus berkembang.

Semangat belajar sepanjang hayat inilah yang kemudian membentuk karakter dakwahnya yang rendah hati sekaligus dekat dengan masyarakat.

Menurut Suhadi, pengalaman belajar yang diperoleh secara langsung dari berbagai majelis ilmu membuat Hj. Muhaiyyah memahami kondisi masyarakat akar rumput dengan sangat baik.

“Beliau tidak pernah mondok secara formal. Ilmu agama diperoleh dari mengikuti pengajian dari musala ke musala, dari masjid ke masjid. Karena itulah beliau tahu bagaimana cara menyampaikan agama kepada masyarakat dengan bahasa yang sederhana dan mudah diterima.”

Pengalaman tersebut membuat Hj. Muhaiyyah tidak menempatkan dirinya sebagai tokoh yang berjarak dengan masyarakat. Ia hadir sebagai bagian dari warga itu sendiri.

Pendekatan inilah yang kemudian menjadi kekuatan utama gerakan dakwah yang dibangunnya.

Keberhasilan pengajian yang dirintis Hj. Muhaiyyah tidak hanya terletak pada materi yang disampaikan, tetapi juga pada cara penyampaiannya.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia memahami bahwa dakwah tidak cukup hanya membawa pesan agama, tetapi juga harus menghargai budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.

Dalam setiap pengajian, bahasa Jawa inggil kerap digunakan sebagai media komunikasi. Pilihan bahasa tersebut membuat jamaah merasa dihormati sekaligus lebih mudah memahami materi yang disampaikan.

Sebagian besar masyarakat Randegan saat itu berprofesi sebagai petani dan pedagang. Karena itu, berbagai contoh yang diberikan dalam kajian selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Pengajian dilaksanakan secara bergiliran dari rumah ke rumah. Sistem tersebut tidak hanya memperkuat semangat belajar agama, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.

Rumah-rumah warga berubah menjadi ruang belajar bersama yang penuh kehangatan dan kekeluargaan.

“Yang ikut bukan hanya warga Muhammadiyah. Banyak masyarakat umum yang datang karena pengajiannya disampaikan dengan santun, menggunakan bahasa Jawa yang mereka pahami, dan tidak pernah menimbulkan kesan menggurui. Itulah yang membuat gerakan ini bertahan sampai sekarang,” kata Suhadi.

Perjuangan Hj. Muhaiyyah terus dikenang masyarakat Randegan bahkan setelah beliau wafat pada 4 Desember 2012.

Pengajian yang dirintisnya masih berlangsung hingga kini. Apa yang bermula dari ikhtiar sederhana untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap Al-Qur’an telah berkembang menjadi bagian dari tradisi keagamaan masyarakat Desa Randegan.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa perubahan sosial dan keagamaan tidak selalu harus dilakukan melalui pendekatan konfrontatif.

Hj. Muhaiyyah justru membuktikan bahwa dakwah yang menghargai budaya lokal mampu menghadirkan transformasi yang lebih mendalam dan berkelanjutan.

Warisan terbesarnya bukan hanya lahirnya kelompok-kelompok pengajian yang aktif, melainkan tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk terus belajar agama sepanjang hayat.

Melalui kesederhanaan, keteladanan, dan pendekatan yang penuh kearifan lokal, Hj. Muhaiyyah berhasil menanamkan nilai-nilai Muhammadiyah tanpa harus memutus akar budaya masyarakat yang telah hidup sebelumnya.

Kisah Hj. Muhaiyyah menjadi bukti bahwa seorang perempuan desa, meskipun tanpa latar pendidikan pesantren formal, mampu memainkan peran penting dalam perkembangan dakwah Islam.

Dari ruang-ruang sederhana di rumah warga, ia membangun gerakan dakwah kultural yang manfaatnya masih dirasakan hingga hari ini, melampaui batas-batas organisasi dan menjadi milik bersama masyarakat Desa Randegan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 22/06/2026 11:11
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu