Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Janji Suci dari Pertemuan Tak Sengaja KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Ahmad Surkati di Gerbong Kereta Api

Iklan Landscape Smamda
Janji Suci dari Pertemuan Tak Sengaja KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Ahmad Surkati di Gerbong Kereta Api
KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Syaikh Ahmad Surkati pendiri Al-Irsyad (Foto: repro/PWMU.CO)
Oleh : Muh Kholid AS

Sejarah pembaruan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 sungguh unik. Salah satunya lewat pertemuan-pertemuan intelektual yang meninggalkan pengaruh panjang. Bahkan pertemuan yang tak disengaja. Salah satu kisah monumental dalam tradisi Muhammadiyah dan Al-Irsyad adalah pertemuan KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Ahmad Surkati.

Pertemuan kedua tokoh ini terjadi secara tidak sengaja. Berawal dari tidak saling mengenal. Dipertemukan dalam perjalanan yang tidak sama pula. Tapi pertemuan itu justru menjadi pertemanan suci. Hingga melahirkan kesepahaman untuk menyebarkan pemikiran pembaruan Islam di nusantara.

Pada masa itu, Ahmad Dahlan sedang berada dalam pencarian intelektual yang sangat intens. Pada 1903, dia menimba ilmu di Makkah dan mengenal berbagai gagasan pembaruan Islam dari Timur Tengah. Setelah pulang ke Indonesia, ia tetap berusaha mencari saluran untuk memperluas wawasan. Termasuk memperoleh informasi tentang perkembangan dunia Islam.

Menurut MT Arifin dalam Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah (1987), Ahmad Dahlan melihat organisasi Jam’iyatul Khair yang berdiri sejak 1905 memiliki hubungan yang erat dengan Timur Tengah. Dahlan yang merasa sangat membutuhkan perbagai informasi dan pengalaman tentang keorganisasian dan perkembangan ilmu, kemudian memasuki organisasi itu.

Keputusan itu terbukti penting. Ketika Jam’iyatul Khair mendatangkan para guru dari Timur Tengah pada 1911. Di antara guru yang masuk ke Indonesia adalah ulama asal Sudan, Syaikh Ahmad Surkati. Di kemudian hari, Dahlan berkesempatan mengenal Surkati yang juga salah satu tokoh pembaruan Islam berpengaruh di Hindia Belanda.

Salah satu kisah paling menarik mengenai hubungan Ahmad Dahlan dan Ahmad Surkati dicatat oleh Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Dalam catatan kaki Bab I, Deliar Noer mengisahkan sebuah cerita yang populer di kalangan pimpinan Muhammadiyah dan Al-Irsyad.

Diceritakan bahwa suatu ketika Ahmad Dahlan dan Ahmad Surkati berada dalam satu gerbong kereta api di Jawa. Keduanya duduk berhadapan, tetapi belum saling mengenal. Untuk mengisi waktu perjalanan, Dahlan membaca Tafsir Al-Manar, karya yang sangat terkenal dari Rasyid Ridha.

Pemandangan itu menarik perhatian Surkati. Ia terkejut melihat seorang pribumi membaca kitab yang saat itu tergolong berat dan ilmiah. Pada masa kolonial, kemampuan mengakses literatur Islam modern dari Timur Tengah masih sangat terbatas. Karena itu, Surkati tidak menyangka akan menemukan seorang pembaca Al-Manar di dalam perjalanan kereta.

Rasa penasaran kemudian mendorong terjadinya percakapan di antara keduanya. Dari dialog itu mereka menemukan kesamaan pandangan mengenai pentingnya pembaruan Islam. Keduanya sama-sama mengagumi pemikiran Muhammad Abduh yang menekankan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, mendorong penggunaan akal, serta mengkritik praktik-praktik keagamaan yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni.

SMPM 5 Pucang SBY

Percakapan tersebut berkembang menjadi sebuah kesepakatan moral. Menurut kisah yang dikutip Deliar Noer, Dahlan dan Surkati berjanji akan bekerja sama menyebarkan pemikiran Abduh kepada masyarakat masing-masing. Surkati akan mengembangkannya di kalangan Arab, sedangkan Dahlan akan menyebarkannya di kalangan pribumi Indonesia.

Janji itu bukan sekadar percakapan singkat dalam perjalanan kereta. Dalam perkembangan berikutnya, keduanya benar-benar menjadi pelopor gerakan pembaruan Islam melalui organisasi yang mereka bangun.

Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912 dan menjadikannya sebagai gerakan dakwah, pendidikan, serta pembaruan sosial-keagamaan. Sementara itu, Ahmad Surkati menjadi tokoh sentral dalam lahirnya Al-Irsyad yang berpengaruh besar di kalangan masyarakat Arab di Indonesia.

Meski bergerak dalam lingkungan yang berbeda, kedua tokoh tersebut memiliki benang merah yang sama: menghidupkan semangat ijtihad, memperkuat pendidikan modern, serta mengajak umat Islam kembali kepada sumber ajaran yang autentik.

Namun, sebelum mendirikan Muhammadiyah, Dahlan bukanlah orang yang menutup diri pada gerakan nasional lainnya. MT Arifin mencatat bahwa Dahlan aktif di Boedi Oetomo sejak 1909, yang sekaligus memperkanalkannya pada pentingnya “organisasi”. Ia juga terlibat dalam Sarekat Islam yang berdiri di Solo pada 12 September 1912, sebagai rebranding dari Sarekat Dagang Islam (SDI).

Keterlibatan Dahlan di banyak pintu—Jam’iyatul Khair, Boedi Oetomo, hingga Sarekat Islam—menggambarkan satu hal. Dahlan adalah seorang arsitek pergerakan yang sangat kosmopolitan. Berbagai organisasi itu dijadikannya sebagai laboratorium besar untuk menguji ide-idenya tentang pembaruan.

Keterlibatan dalam berbagai organisasi tersebut menunjukkan luasnya pergaulan Dahlan. Ia tidak hanya bergerak di bidang dakwah, tetapi juga mengikuti perkembangan sosial, pendidikan, dan kebangsaan yang sedang berkembang di Hindia Belanda. Melalui jaringan-jaringan itulah gagasan pembaruan Islam menemukan ruang untuk berkembang.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 20/06/2026 18:28
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu