Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 74, 75, dan sebagian 76.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 32
***
Halaman 74
- Aset Gerakan
Sampai dengan berakhirnya masa penjajahan Belanda di Indonesia (1942), Muhammadiyah di Jawa Timur telah tumbuh amat pesat. Tahun 1921, berdiri di dua tempat, yaitu Surabaya dengan status cabang dan Kepanjen (Malang) dengan status groep/gerombolan (sekarang disebut ranting). Pada 1941, di Jawa Timur
Halaman 75
telah tercatat enam Daerah, yaitu Surabaya, Madura, Besuki, Pasuruan, Madiun dan Kediri.
Daerah Surabaya mempunyai lima Cabang, yaitu Surabaya, Mojokerto, Gresik, Sidoarjo Jenggolo dan Malang. Di Daerah Surabaya terdapat 26 ranting. Daerah Madura mempunyai lima Cabang, yaitu Sumenep, Kalianget, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan. Sedangkan ranting-rantingnya ada di 11 tempat. Di Daerah Besuki terdapat empat Cabang, yaitu Situbondo, Jember, Bondowoso dan Banyuwangi. Adapun ranting-rantingnya tercatat di 27 tempat.
Daerah Pasuruan tercatat mempunyai lima Cabang, yaitu Pasuruan, Bangil, Singosari, Probolinggo dan Lumajang dengan 13 ranting; Daerah Madiun dengan tiga Cabang, yaitu Ponorogo, Ngawi dan Madiun, serta 20 ranting. Daerah Kediri mempunyai lima Cabang, yaitu Nganjuk, Pare, Kediri, Blitar, dan Tulungagung, dengan tiga ranting dan satu bakal ranting. Pada akhir pertumbuhan masa Penjajahan Belanda di Jawa Timur telah berdiri 28 cabang dan 90 ranting Muhammadiyah. Dengan demikian, Muhammadiyah di Jawa Timur telah berdiri di 118 tempat.(120)
Cabang Aisyiyah (dulu Muhammadiyah isteri) telah berdiri di 12 tempat, yaitu Surabaya, Probolinggo, Ponorogo, Ngawi, Madiun, Pasuruan, Situbondo, Jember, Bondowoso, Malang, Kraksaan, dan Blitar. Rantingnya tercatat baru di Uteran.(121)
- Struktur dan Tokoh
Berdasarkan Keputusan Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi (1930), Muhammadiyah dibagi ke dalam empat jenjang, yaitu pusat, daerah, cabang dan groep (ranting). Jenjang daerah ditentukan berdasarkan wilayah residentie (karesidenan). Pada 15 Juli 1933, cabang dan ranting Muhammadiyah di Jawa Timur sudah tergabung ke dalam lima daerah, yaitu Surabaya, Madura, Besuki, Pasuruan dan Madiun.
Cakupan cabang dan ranting untuk masing-masing daerah tidak mengikuti wilayah administrasi pemerintahan karesidenan yang ada. Daerah Surabaya tercatat memiliki 3 cabang dan 8 ranting. Cabang-cabanyanya adalah Surabaya dan Kediri, dan Bakal Cabang Nganjuk. Ranting-rantingnya adalah Jombang, Mojokerto, Kaliwaron, Gresik, Pare, Kurungrejo, Ngoro dan Tuban.
Halaman 76
Daerah Madura tercatat membawahi 5 Cabang dan 12 Ranting. Cabang-cabang tersebut adalah Sumenep, Sampang, Kalianget, Bangkalan dan Pamekasan. Ranting-rantingnya adalah Pakong, Bunder, Branta, Ketapang, Tlagabiru, Ganding, Ambunten, Pasongsongan, Socah, Plakpak dan Kangean.
Daerah Besuki membawahi 4 Cabang dan 7 Ranting. Cabang-cabangnya adalah Lumajang, Situbondo, Jember, dan Bondowoso. Ranting-rantingnya adalah Kalisat, Sukowono, Arjasa, Sukoreno, Kaliboto, Prajekan dan Banyuwangi.
Daerah Pasuruan membawahi 7 Cabang dan 15 Ranting. Cabang-cabang tersebut adalah Pasuruan, Bangil, Malang, Kraksaan, Blitar, Singosari dan Tulungagung. Sedangkan ranting-rantingnya adalah Probolinggo, Sumbermanjing, Mondoroko, Sumpil Purwodadi, Wlingi, Srengat, Bangsari, Trenggalek, Sumberpucung, Punten, Grati, Tanggung, Pogar, Batu dan Kepanjen.(122)
Daerah Madiun tercatat memiliki 3 Cabang dan 13 Ranting. Cabang-cabang itu adalah Ponorogo, Ngawi dan Madiun. Ranting-rantingnya adalah Pacitan, Walikukun, Uteran, Goranggareng, Magetan, Caruban, Glogog, Srengat, Barat, Jetis, Siman, Ngunut dan Maospati.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments