Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 32

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 32

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″,  Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, halaman 72, 73, dan sebagian 74.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 31

***

Halaman 72

Nganjuk. Paham Muhammadiyah pertama kali disebarkan di Nganjuk oleh R. Sastrosudirjo, seorang pendatang.(103) Tebaran paham baru tentang Islam itu diterima oleh Gondoseputro, Sosrosubroto, Astrogono, Sumopande, Kartosentono, Harjoikromo, Sudirodirjo, R. Martoyudo, R. Marjunani, Atmohartono, Amatzarkoni, Moh. Dardiri, Suharto, dan Pawirojo.(104)

Mereka mendirikan Muhammadiyah di Nganjuk. Tidak ada catatan kapan tepatnya Ranting Muhammadiyah resmi berdiri. Baru pada 1933 Muhammadiyah Nganjuk tercatat dalam Suara Muhammadiyah dengan status bakal ranting,(105) dan baru pada rentang tahun 1939-1940 Muhammadiyah Nganjuk berstatus cabang, di bawah naungan daerah Kediri.(106)

Pacitan. Muhammadiyah di daerah Pacitan pertama kali berdiri di Lorok. Pada 1923 datang seorang mantan murid K.H. Ahmad Dahlan, bernama Sastrotenoyo dan istrinya, Surat Aisyah, di Lorok.

Tokoh ini yang menyebarkan paham Muhammadiyah sehingga Groep Muhammadiyah Lorok dapat didirikan. Berdirinya Muhammadiyah di tempat ini diperkirakan sebelum 1927, sebab namanya sudah tercantum dalam Berita Tahoenan Tahun 1927 dan keberadaannya di bawah urusan atau tilikan Pengurus Besar.(107)

Halaman 73

Sementara itu Groep Muhammadiyah Pacitan pada 1933 sudah eksis di bawah Cabang Muhammadiyah Madiun.(108)

Untuk mempertahankan eksistensi Muhammadiyah di Pacitan dibutuhkan dedikasi dan pengorbanan, mengingat kondisi geografisnya yang terdiri dari tanah bebatuan dan pegunungan. Muhammadiyah Lorok pun akhirnya mengalami keterputusan sejarah, ketika pada 1933 tidak lagi ada catatan keberadaannya.(109) Muhammadiyah Pacitan baru hidup kembali pada 1957.(110) Keterputusan sejarah itu mungkin sekali karena kehabisan tenaga pimpinan yang dapat menggerakkan roda organisasi dan keterpencilan kota Pacitan.

Tuban. Muhammadiyah sebagai persyarikatan berdiri di kota Tuban pada 1933 M/1346 H., dengan status ranting.(111) Para pendiri dan pengurus Groep Muhammadiyah adalah: Saleh Umar Bayasut (ketua), Aid El-Yamani (wakil ketua), Muhammad Munawir (sekretaris), Abdurrahman Martak (bendahara), Muh. Basalamah, Muh. Baswedan (pembantu).(112)

SMPM 5 Pucang SBY

Mojokerto. Benih paham Muhammadiyah mulai disebar melalui pengajian di beberapa langgar (mushalla), seperti mushalla Suranatan milik K.H. Hasan Basri dan mushalla Sinoman milik Kyai Kahmas, pada 1932. Pengajian itu dimotori selain oleh pemilik mushalla, juga oleh Kyai Qasim, Kyai Abu Amar dan isterinya. Pengajian itu dihadiri oleh muballigh-muballigh dari luar kota Mojokerto, seperti Kyai Jusman dari Solo, Kyai Abdul Rahim dari Porong, K.H. Marzuki Ilyas lulusan Tablighschool dari Surabaya.(113)

Pengajian tersebut berkembang meluas ke mushalla di Kalimati milik K.H. Marzuki dan mushalla milik Ny. Wongso, terletak di Jl. Empu Nala (sekarang). Dari pengajian inilah Muhammadiyah di Mojokerto berdiri. Hanya saja tidak diperoleh informasi dari sumber tertulis ataupun lisan kapan Muhammadiyah berdiri di Mojokerto.

Pada 1927, nama Mojokerto belum tercantum dalam BTMHT, tetapi pada 1933 sudah muncul dalam daftar cabang dan ranting Muhammadiyah se-Hindia Timur (Indonesia) dengan status ranting.(114) Berdasarkan catatan penyusun buku “Panti Asuhan Yatim (PAY) Muhammadiyah Jl. K.H. Mas Mansur No. 24 Mojokerto” (1978), Muhammadiyah Mojokerto berstatus Cabang pada 1935.

Halaman 74

Status Cabang untuk Muhammadiyah Mojokerto itu berdasarkan SK. Hoofdbestuur No. 536 tanggal 9 April 1935. Pelantikan Pimpinan Cabang Mojokerto dilakukan oleh K.H. Mas Mansur selaku Konsul Muhammadiyah Daerah Surabaya di Hotel Timur, Jl. Klenteng (sekarang Jl. Letkol Sumarjo).(115) Status Cabang untuk Muhammadiyah Mojokerto baru tercatat dalam SM tahun 1936. (116)

Sidoarjo. Sekalipun Sidoarjo berdekatan dengan Surabaya, tetapi keberadaan Muhammadiyah di tempat ini relatif tertinggal dibandingkan dengan beberapa tempat yang lebih jauh dari Surabaya. Pada 1933 Muhammadiyah Daerah Surabaya telah menjangkau tempat-tempat seperti Mojokerto, Jombang, Gresik, Pare, bahkan Tuban dan Nganjuk. Muhammadiyah di Sidoarjo baru eksis pada sekitar 1935-1936. Pada tahun itu, di Sidoarjo, telah berdiri Muhammadiyah di tiga tempat, yaitu Sepanjang, Krian dan Sidoarjo Jenggolo. Ketiganya masih berstatus sebagai ranting.(117)

Menurut ingatan tokoh tua yang sekarang masih hidup, Muhammadiyah di Sepanjang, pada masa awal berdirinya, digerakkan oleh tokoh yang bernama Marionani, Broto dan H. Manan.(118) Generasi kedua yang memimpin Ranting Muhammadiyah Sepanjang adalah H. Ridwan, H. Dahlan, dan H. Muhammad Isa Attamimi.

Berdirinya Muhammadiyah di Sidoarjo (Kecamatan) didahului dengan berdirinya Pandu Hizbul Wathan yang dipelopori oleh pemuda bernama Rasad. Setelah pandu HW yang dipimpinnya berkembang, ia mencoba mendekati tokoh-tokoh yang lebih tua, antara lain H. Ismail Fauzi, H. Yahya Mustahal, Mustofa Anwar, Anwar Yasin, Suud Dahlan dan Anwar Rauli. Mereka tergolong perintis berdirinya Muhammadiyah di Sidoarjo.(119)

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 04/06/2026 17:20
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu