Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 31

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 31

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″,  Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 69, 70, dan 71.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 30

***

Halaman 69

Banyuwangi. K.H. Ahmad Dahlan pertama kali berkunjung ke Banyuwangi pada 1919. Kehadirannya di Banyuwangi berkaitan dengan kegiatan berdagang batik dan menyampaikan dakwah di masjid dekat pasar. Di Banyuwangi memang terdapat jaringan pedagang-pedagang batik yang berasal dari Kotagede, Jogjakarta. Di kota ini K.H. Ahmad Dahlan mempunyai sahabat bernama Saleh Idris, pedagang yang tergolong kaya.

Pada pengajian yang pertama, agaknya ada seseorang yang tidak senang. Orang ini kemudian mengirim surat kaleng yang mengancam akan membunuh K.H. Ahmad Dahlan apabila berani datang lagi ke Banyuwangi. K.H. Ahmad Dahlan menyikapi ancaman itu dengan tawakkal, karena itu ia pun datang lagi ke Banyuwangi. Bahkan disertai dengan isterinya yang ikut diancam.

Kehadirannya yang kedua ini dimanfaatkan khusus untuk memberi pengajian. Pengajian dilaksanakan di tengah kota, tepatnya di Jalan Sudirman (sekarang), yang pada 1955 ditempati toko Liong Kie, dan tahun 1980 ditempati P.T. Megah Jaya. Peristiwa ini terjadi pada 7 Januari 1922. Sampai dengan selesainya pengajian tidak terjadi insiden apapun. Bahkan orang yang mengancam akan membunuhnya (bernama H.

Halaman 70

Muhammad Ali) di kemudian hari menjadi anggota Muhammadiyah di Banyuwangi.(96)

Setelah kejadian itu, beberapa orang yang mengikuti pengajian dan bersimpati kepada K.H. Ahmad Dahlan mulai menaruh kecenderungan kepada organisasi Muhammadiyah. Mereka itu antara lain Ramli, Ishak, H. Abu Ali, Burhanuddin Malaya, Saleh Idris, Muh. Ali, Arifin A.S., M. Bakri dan Asro’.

Setelah melalui persiapan yang agak lama, pada 1933, Cabang Muhammadiyah Banyuwangi dapat berdiri, dengan susunan pengurus: Abdul Hamid (Ketua), Burhanuddin Malaya (Wakil Ketua), Luqman el-Hakim (Sekretaris), dengan anggota: H. Abu Ali, Adnan, dan M. Ishak.(97)

SMPM 5 Pucang SBY

Magetan. Paham Muhammadiyah pertama kali diperkenalkan di daerah Magetan oleh asisten Wedono Katayong.(98) Seorang birokrat pribumi zaman Hindia Belanda itu memanfaatkan jaringan birokrasi yang ada untuk menyampaikan ide-ide pembaharuan Islam yang menjadi misi Muhammadiyah.

Selain itu juga ada seorang pegawai yang telah tertarik dengan paham pembaharuan, yaitu Moh. Mahdi, penilik sekolah rendah di daerah Magetan.(99) Kedua tokoh perintis itu berusaha memperkenalkan paham Muhammadiyah. Pada 1930, Bupati Magetan menyelenggarakan ceramah agama, tetapi yang dihadirkan adalah pemuka agama Kristen. Mahdi dan kawan-

Halaman 71

kawannya serta orang-orang Islam yang “bewust” (sadar sebagai muslim) bereaksi. Mereka tidak menyetujui kiat Bupati tersebut. Para pemuka umat Islam sepakat mengundang K.H. Abdul Mu’thi dari Madiun untuk meladeni ceramah pemuka agama Kristen itu. Mereka memilih K.H. Abdul Mu’thi karena dia seorang terpelajar yang kedalaman ilmu agamanya tidak disangsikan.(100) Pengajian itu meninggalkan kesan yang mendalam sekaligus menggerakkan kesadaran untuk secepatnya mendirikan Muhammadiyah di Magetan.

Muhammadiyah di Magetan diperkirakan baru berdiri antara pertengahan 1932 sampai dengan awal 1933. Begitu pula Muhammadiyah di Goranggareng (terletak di luar kota Magetan). Pada 1932, nama Magetan dan Goranggareng belum tercantum dalam tambahan ranting untuk Cabang Madiun. Baru pada Juli 1933 tercantum dalam deretan ranting-ranting wilayah Cabang Madiun.(101)

Tidak diperoleh data Pengurus pertama Ranting Magetan, tetapi untuk Ranting Muhammadiyah Goranggareng adalah Noto (Ketua), Sukoco (Sekretaris I), Sardi (Sekretaris II), Ny. Murti dan Sarbini (Anggota).(102)

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 04/06/2026 17:16
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu