Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 34

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 34

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″,  Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 76, 77, dan sebagian 78.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 33

***

Halaman 76

Tokoh-tokoh Muhammadiyah Cabang Surabaya adalah: Md. Saleh, Amien Bakri; Cabang Gresik: Md. Fakih Usman, H. Usman Aji; Cabang Kediri: M. Ruskhi (mungkin yang dimaksud Masrukhi, pen.), Muraji; tokoh-tokoh Ranting Tuban: Md.O. Bayasut; Ranting Pare: Abdurrahim; Ranting Mojokerto: K. Hasan; Ranting Kaliwaron: Atmowinito; dan Ranting Jombang: M. Dihni.

Di Daerah Madura, tokoh-tokoh Muhammadiyah Cabang Sumenep adalah: Muh.Ali; Cabang Bangkalan: Muh. Saleh, R. Cokropawiro, R. Abdulkarim, H. Manan dan M. Adnan; Cabang Pamekasan: M. Anwar Ahmad; Ranting Pakong: Umar bin Salim.(123)

Di Daerah Pasuruan, tokoh-tokoh Muhammadiyah Cabang Malang: R. Darim, Muhalil dan Sutarja; Cabang Bangil: Mulyosudarmo; Cabang Pasuruan: Sudiarjo; Cabang Singosari: Subagya; Cabang Tulungagung: Suham dan Sayudin; Cabang Blitar : Maksum; Ranting Kepanjen: Ramlan; Ranting Pogar: Ahmad; Ranting Batu: Suwandi; Ranting Probolinggo: R. Atmonotorejo.

Halaman 77

Di Daerah Madiun, tokoh-tokoh Muhammadiyah Cabang Ponorogo: Ridwan, H. Jenal, Ki Sediyawiyadi, Karsodiwirya dan Abubakar; Cabang Madiun: R. Singgih; Ranting Siman: Gondosuwiryo dan Manawi; Ranting Barat: H. Abdurrahim; Ranting Glodog: R. Singgih; Ranting Magetan: Sukisni; Ranting Ngunut: Suyuti; Ranting Nganjuk: Sastrasudirjo; Ranting Padas: R. Muhammadiyah; Ranting Goranggareng: Sukoco; Ranting Jetis: Harjowiyoto.

  1. Peta Gerak Pertumbuhan

Pertumbuhan Muhammadiyah di Jawa Timur dapat dipetakan secara kronikal. Pangkal tolak gerak pertumbuhan itu adalah berdirinya Muhammadiyah di Surabaya dan Kepanjen pada 1921. Sampai 1927, sekalipun belum terhitung banyak, Muhammadiyah telah berdiri secara merata di 31 tempat.

Setelah 1927, pertumbuhan Muhammadiyah mengalami pasang surut. Berdasarkan Soeara Moehammadijah yang terbit antara 1932 dan 1942, dapat diketahui perubahan jumlah cabang dan ranting Muhammadiyah di Jawa Timur dari tahun ke tahun. Ada kalanya cabang dan ranting bertambah, dan ada kalanya berkurang, karena ada yang mati, atau mati kemudian hidup kembali. Demikian pula, ada kalanya suatu cabang mati, kemudian hidup kembali, tetapi harus melalui proses awal lagi, yaitu menjadi ranting.

SMPM 5 Pucang SBY

Muhammadiyah Cabang Madiun pada 1932 bertambah dua ranting, yaitu Caruban dan Glodog. Sedangkan Muhammadiyah Cabang Blitar bertambah empat Ranting, yaitu Wlingi, Tulungagung, Srengat, dan Bangsari.(124)

Antara 1933–1934 telah terjadi perkembangan Cabang dan Ranting Muhammadiyah di Jawa Timur. Daerah Surabaya, satu ranting mati, yaitu Ranting Kurungreja, tetapi ada penambahan tiga ranting baru, yaitu Sepanjang, Krian, dan Mojosari. Di Daerah Madura terdapat tiga ranting yang mati, yaitu Ranting Tlagabiru, Kangean dan Waru, sedangkan tambahannya adalah satu ranting baru, yaitu Ranting Tanjung. Di Daerah Besuki, hanya ada satu ranting yang mati, yaitu Ranting Arjasa, tetapi ada empat ranting baru yang berdiri, yaitu Ranting Pakis Duren, Rogojampi, Olean, dan Kebalenan. Di Daerah Pasuruan, satu cabang mati, yaitu Cabang

Halaman 78

Kraksaan dan dua ranting mati, yaitu Ranting Punten dan Grati, tetapi satu ranting baru berdiri, yaitu Ranting Lawang. Di Daerah Madiun, satu cabang mati, yaitu Cabang Pacitan, tetapi bertambah satu ranting, yaitu Ranting Padas.(125)

Antara 1936–1937 telah terjadi perubahan jumlah cabang dan ranting Muhammadiyah, karena ada yang mati, dihapuskan, serta penglepasan dan penggabungan. Di Daerah Madura terdapat tiga ranting yang mati, yaitu Bunder, Branta, dan Blega.

Di Daerah Besuki satu ranting dihapus, yaitu Ranting Olean, terhitung mulai tanggal 31-1-1937. Selain yang mati dan dihapus, juga telah berdiri ranting dan bakal ranting baru di beberapa daerah. Di Daerah Pasuruan, berdiri Ranting Bangsari. Perubahan lain terjadi pada Cabang Malang. Cabang dan seluruh ranting-rantingnya dilepas dari Daerah Pasuruan dan digabungkan dengan Daerah Surabaya.(126)

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 04/06/2026 17:25
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu