Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tetap Eksis Selama Tiga Dekade, Ini Kenangan Pemred PWMU.CO bersama Majalah Arba’a Mudipat

Iklan Landscape Smamda
Tetap Eksis Selama Tiga Dekade, Ini Kenangan Pemred PWMU.CO bersama Majalah Arba’a Mudipat
Agus Wahyudi saat menjadi pembicara dalam peluncuran dan bedah buku massal di Auditorium The Millennium Building, Kamis (18/6/2026). Foto: Mudipat

Ada rasa haru yang selalu muncul setiap kali Agus Wahyudi melihat perkembangan Majalah Arba’a, media yang diterbitkan SD Muhammadiyah 4 Surabaya (Mudipat). Bagi Pemimpin Redaksi PWMU.CO itu, Arba’a bukan sekadar majalah sekolah. Di dalamnya tersimpan jejak persahabatan, semangat jurnalistik, sekaligus kenangan masa muda yang tak terlupakan.

“Saya sempat ikut membantu Majalah Arba’a ini,” ungkap pria yang akrab disapa Yudi tersebut saat menghadiri peluncuran dan bedah buku massal di Auditorium The Millennium Building (TMB) lantai 4 Gedung Din Syamsuddin, Kamis (18/6/2026).

Hadir dalam acara itu, Kepala SD Mudipat Edy Susanto, M.Pd, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel Ah Zaini MPd, Ketua Majelis Dikdasmen PCM Ngagel Surabaya Suyatno SPd MPsi, dan Dosen Vokasi Unair & Pemerhati Karya Sastra Anak Dr Elsyea Adia Tunggadewi MT.

Ucapan itu seolah membuka kembali lembaran kenangan lebih dari tiga dekade silam, tepatnya pada tahun 1994. Saat itu Yudi masih berstatus mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dunia tulis-menulis dan jurnalistik menjadi salah satu kegemarannya.

Pada masa itulah ia dipertemukan dengan Suli Da’im yang ketika itu menjadi guru sekaligus humas SD Muhammadiyah 4 Surabaya. Sosok yang kini menjabat anggota Komisi E DPRD Jawa Timur itu memiliki minat yang sama terhadap dunia jurnalistik.

“Saya diajak Cak Suli waktu itu untuk membantu memperbaiki isi Majalah Arba’a,” kenang Yudi, yang kemudian berkiprah sebagai Pemimpin Redaksi Radar Surabaya.

Persahabatan keduanya bertumbuh dari kecintaan terhadap dunia tulis-menulis. Tulisan mereka kerap menghiasi sejumlah surat kabar yang terbit pada masa itu. Dari situlah lahir berbagai diskusi mengenai masa depan Majalah Arba’a yang saat itu masih sangat muda.

Pada tahun 1994, usia Majalah Arba’a baru sekitar satu tahun. Penampilannya tentu sangat berbeda dibandingkan sekarang.

“Kalau dibandingkan dengan sekarang, Arba’a saat itu masih sangat sederhana,” tutur Yudi sambil tersenyum mengenang masa lalu.

Majalah itu masih berukuran setengah folio. Kualitas kertasnya pun belum sebagus saat ini. Tata letak dan desain masih sangat sederhana. Bahkan, sebagian naskah ketika itu dikerjakan menggunakan mesin ketik manual.

Tetap Eksis Selama Tiga Dekade, Ini Kenangan Pemred PWMU.CO bersama Majalah Arba’a Mudipat
Para kuru Majalah Arba’a. Foto: Mudipat

Namun, segala keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para pengelolanya untuk menghadirkan media yang edukatif dan menarik bagi warga sekolah.

Kala itu, SD Muhammadiyah 4 Surabaya juga belum dikenal luas dengan nama Mudipat seperti sekarang. Masyarakat lebih akrab menyebutnya SD Muhammadiyah Pucang.

Belum ada bangunan megah seperti The Millennium Building maupun Ahmad Dahlan Education Center (ADEC). Sekolah tersebut tumbuh sedikit demi sedikit, sama seperti Majalah Arba’a yang berkembang secara bertahap mengikuti perjalanan zaman.

Saat itu, kepemimpinan SD Muhammadiyah 4 Surabaya berada di tangan Drs. Djoko Purwantoro yang kini telah berpulang. Sosok kepala sekolah tersebut dikenal memberikan perhatian besar terhadap pengembangan sekolah, termasuk media publikasi.

SMPM 5 Pucang SBY

Yudi masih mengingat beberapa guru yang dikenalnya pada masa itu. Selain Suli Da’im, ada nama Ismadi Retty yang kini juga telah almarhum, kemudian Heru Tjahyono, Ahmad Zaini, dan Mulyana AZ.

Mereka tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga memiliki perhatian besar terhadap keberadaan Majalah Arba’a.

“Saya sering diajak Cak Suli berdiskusi. Mulai isi majalah, perwajahan, tata letak, sampai bagaimana membuat Arba’a lebih menarik untuk dibaca,” ujar Yudi.

Semangat yang dibangun kala itu sesungguhnya sederhana. Mereka ingin sebuah majalah sekolah menjadi ruang belajar, sekaligus media yang dapat membanggakan sekolah.

Di era ketika komputer dan perangkat desain belum secanggih sekarang, proses penerbitan sebuah majalah membutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Banyak pekerjaan dilakukan secara manual. Tetapi justru dari keterbatasan itu lahir kreativitas dan idealisme.

Menurut Yudi, kecintaan para guru terhadap dunia jurnalistik telah ikut menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah.

“Mereka sadar tentang pentingnya majalah sekolah. Karena itulah, Majalah Arba’a tidak hanya menjadi sarana dokumentasi berbagai kegiatan sekolah, tetapi juga menjadi media promosi yang efektif bagi SD Muhammadiyah 4 Surabaya,” terang Yudi.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade berlalu, Yudi melihat perkembangan luar biasa yang dialami sekolah tersebut. SD Muhammadiyah 4 Surabaya telah menjelma menjadi salah satu sekolah unggulan dengan fasilitas modern dan reputasi yang dikenal luas.

Sementara itu, Majalah Arba’a tetap mampu bertahan di tengah derasnya arus digitalisasi yang membuat tidak sedikit media cetak berguguran.

“Arba’a masih eksis sampai sekarang. Itu tentu membanggakan. Berarti ada komitmen yang kuat untuk terus merawat tradisi literasi,” ujarnya.

Bagi Yudi, keberlangsungan Majalah Arba’a merupakan kabar yang membahagiakan. Sebab, ia pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan panjang media tersebut.

“Ada kebanggaan tersendiri melihat majalah yang dahulu hanya berukuran setengah folio dengan kualitas cetak yang sederhana, kini terus hidup dan berkembang,” tuturnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 19/06/2026 22:14
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu