Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lima Lokasi Tabligh KH Ahmad Dahlan Saat Singgah di Surabaya

Iklan Landscape Smamda
Lima Lokasi Tabligh KH Ahmad Dahlan Saat Singgah di Surabaya
Bung Karno, kiri, berbincang dengan Abdul Latif Zain saat berkunjung ke Toko Buku Peneleh pada 18 Desember 1956. Bangunan ini pada 1916-an, dipakai sebagai tempat tabligh KH Ahmad Dahlan (Foto: Dokumentasi Keluarga)
Oleh : Muh Kholid AS

Surabaya memiliki posisi penting dalam perjalanan dakwah KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Jauh sebelum Muhammadiyah berkembang menjadi organisasi Islam modern terbesar, dia berulang kali datang ke Kota Pahlawan. Setidaknya tercatat lima lokasi kampung di Surabaya yang disinggahi KH Ahmad Dahlan untuk bertabligh.

Jejak kunjungan itu terekam dalam kesaksian sejumlah tokoh. Termasuk Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Penyebutan kawasan yang dikunjungi KH Ahmad Dahlan disebut Bung Karno saat menerima penyematan Bintang Muhammadiyah pada 10 April 1965, bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1385 Hijriah.

Pidato Bung Karno itu diabadikan dalam Almanak Muhammadijah Tahun 1385 H yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Madjlis Taman Pustaka. Tepatnya di halaman 3. Dalam kesempatan itu, Bung Karno mengenang masa mudanya ketika tinggal nge-kost di rumah HOS Tjokroaminoto di Peneleh Gang VII.

Dari tokoh Sarekat Islam itu, Bung Karno mengaku mulai sedikit demi sedikit memperoleh pemahaman mengenai agama Islam dan gerakan kebangkitan umat. “Saya sudah dapat sedikit-sedikit pelajaran agama Islam dari Pak Tjokro, saya sering kintil Pak Tjokro,” kata Bung Karno.

Kenangan itu kemudian berlanjut pada pertemuannya dengan KH Ahmad Dahlan. Bung Karno mengaku sering menghadiri tabligh yang disampaikan pendiri Muhammadiyah tersebut di berbagai kampung Surabaya.

“Pada waktu K.H.A. Dahlan mengadakan tabligh di Bubutan, Peneleh, Kapasari, Ngampel, saja diizinkan ngintil, supaya saya lebih jelas menerima uraian-uraian beliau tentang revival of Islam,” ujar Bung Karno.

Dari kesaksian itu, terdapat empat kampung yang secara langsung disebut pernah menjadi lokasi dakwah KH Ahmad Dahlan. Yaitu Bubutan, Peneleh, Kapasari, dan Ampel atau Ngampel. Kampung-kampung itu merupakan kawasan penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan Surabaya pada awal abad ke-20.

Bubutan saat itu dikenal sebagai salah satu pusat permukiman dan perdagangan. Kemudian Peneleh sangat erat dengan sejarah pergerakan nasional karena menjadi tempat tinggal HOS Tjokroaminoto. Rumah Tjokroaminoto bahkan dikenal sebagai tempat berkumpulnya banyak tokoh muda yang kemudian menjadi pemimpin bangsa.

Selanjutnya adalah Kapasari. Kawasan ini sejak masa kolonial dikenal sebagai daerah yang ramai dengan aktivitas masyarakat perkotaan. Adapun Ampel merupakan kawasan yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat Islam di Surabaya. Di daerah ini berdiri Masjid Ampel dan kompleks makam Sunan Ampel yang sejak lama menjadi tempat pertemuan para ulama Nusantara.

SMPM 5 Pucang SBY

Namun, jejak dakwah KH Ahmad Dahlan di Surabaya ternyata tidak berhenti pada empat kampung itu. Sumber lain menunjukkan adanya lokasi kelima yang juga pernah menjadi tempat tablighnya saat berkunjung ke Surabaya.

Informasi itu berasal dari kesaksian tokoh nasional Roeslan Abdulgani. Ditulis pada 9 Mei 1991 dan ditempel di Masjid Plampitan Gang VIII Surabaya. Dalam keterangannya, Roeslan mengaku memperoleh informasi dari para sesepuh kampung. Antara lain Achmad Jais, Achjab, Haji Ahmad Tayib, Abdul Samad, serta kedua orang tuanya, H. Abdulgani dan Hajah Siti Murad Abdulgani.

Kesaksian Roeslan membuka sejarah besar masjid yang kini persis berada di depan rumahnya. Menurutnya, pada 1920-an, masjid itu masih berupa bangunan langgar atau mushalla. Tapi, ia sering menjadi tempat penyelenggaraan tabligh tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Sarekat Islam.

“Pada tahun 1920-an, langgar ini sering menjadi tempat tabligh tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Sarikat Islam seperti KH Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, Bung Karno, KH Mas Mansur dan lain-lain pemimpin,” tulis Roeslan Abdulgani.

Keterangan itu menambah satu lokasi penting dalam peta dakwah KH Ahmad Dahlan di Surabaya. Yakni Kampung Plampitan. Dengan demikian, sedikitnya terdapat lima kampung yang dapat dilacak pernah disinggahi pendiri Muhammadiyah itu. Yaitu Bubutan, Peneleh, Kapasari, Ampel, dan Plampitan.

Jejak-jejak itu menunjukkan bahwa Surabaya bukan sekadar kota persinggahan bagi KH Ahmad Dahlan. Kota ini merupakan salah satu ruang penting penyebaran gagasan pembaruan Muhammadiyah yang dibawanya. Karena itu, sepertinya tidak mengherankan jika Cabang Muhammadiyah yang pertama berdiri di luar Yogyakarta adalah Kota Surabaya. Tepatnya pada 1 November 1921.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 18/06/2026 09:18
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu