Bagaimana cara kita kaum Muslimin menjalankan 5 rukun Islam, di masa yang lalu dan masa sekarang??
Dalam menjalankan rukun Islam yang lima perkara itu, haruslah kita ketahui cara bagaimana yang semestinya, agar perbuatan dan amal yang kita kerjakan tiada sia-sia, tetapi seyogyanya membuktikan benar-benar sebagai perbuatan atau amal yang menunjukkan peribadatan kepada Allah Ta’ala.
Sebenarnya acapkali terdapat kejanggalan atau kurang sempurna cara menjalankan rukun-rukun Islam, yang telah lazim dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin.
Marilah kita bentangkan dengan perbandingan di masa yang lalu dan bagaimana hendaknya di masa sekarang ini.
Umumnya dimasa yang lalu, adalah sebagai berikut:
- Dua kalimat syahadat: cukup diucapkan (dilafadzkan) saja, meskipun ia tidak mengerti akan artinya atau tidak faham akan maksudnya. Ada juga yang mengerti sekedar lafadz maksudnya saja, akan tetapi kadang-kadang hanya diucapkan dan dimaknakan di waktu akan ‘aqad nikah.
- Sembahyang lima waktu: biasanya cukup dikerjakan dengan cepat dan lekas (terburu-buru) dan menurut seenaknya saja, asal sudah ….., kemudian ia merasa senang, puas sebab anggapannya ia telah menjalankan kewajibannya, melunaskan dan merampungkannya dengan beres.
- Puasa: cukup dikerjakan dan dijalankan dengan menderita lapar dan haus di waktu siang hari, dan diwaktu malam (sehabis berbuka puasa) tak habis-habisnya makan minum serta merokok (kalau ia merokok). Demikianlah perilaku semacam itu dilakukan terus sampai satu bulan puasa. Kemudian ia telah merasa amat gembira karena telah berpuasa, dan lebih amat bergembira lagi ketika memasuki hari Lebaran.
- Zakat: cukup dikerjakan setahun sekali. Biasa juga ada yang mengerjakan di halaman rumah (bagi yang hartawan) atau dimuka toko (bagi saudagar), kemudian ia merasa gembira dengan riangnya, karena ditonton orang banyak dan ia harapkan pujian semata.
- Haji: biasa dicukupkan dengan mengundang handai, teman sejawat, kawan sahabat dan beramai-ramai diantar serta dipuji-puji. Sekembalinya dari Tanah Suci mendapat gelaran Haji, pun tidak kurang diramaikan, dijemput bahkan disanjung beramai-ramai. Dan kalau masih banyak rejeki atau simpanan harta akan dihabiskan untuk pergi sekali lagi mendua, mentiga kali dan berkali-kali, hanya kemegahan semata.
Demikianlah jalannya kaum Muslimin melakukan rukun-rukun Islam di masa yang lalu itu.
Adapun dimasa sekarang ini seharusnya begini:
- Dua kalimat syahadat: hendaklah kita mengerti sungguh-sungguh akan maknanya serta faham akan maksudnya, hingga menumbuhkan keteguhan tauhid dan kuat kokohnya iman kepada Tuhan Allah, serta ikhlas dengan setia menuruti petunjuk Rasul (Nabi Muhammad).
- Sembahyang lima waktu: hendaklah kita kerjakan dengan khusu’, tenang tetapi sopan, hingga berbuah kebersihan badan, pakaian, tempat, rumahtangga aman tenteram, dan menumbuhkan kekuatan jiwa serta tebal dan kuatnya semangat, lagi cerdas, cakap dan giat bekerja.
- Puasa: hendaklah kita jalankan dengan ikhlas lagi setia dan menyerah diwaktu siang hari, dan perlahan-lahan makan minum serta tenang pikiran diwaktu malam, sehingga kita menang dan mendapat ujian: untuk menjadi sesuatu, kita sudah terlatih tahan menderita lapar dan haus.
- Zakat: hendaklah kita jadikan pokok di atas garis besar, terutama dasar menolong kepada kebaikan, yang harus menumbuhkan kepada cabang-cabang dan ranting-rantingnya, yaitu: Derma…., derma…. sekali lagi DERMA yang menuntun seseorang supaya menjadi dermawan: derma segala kebaikan dan derma untuk semua jalan Allah.
- Haji: hendaklah kita jalankan dengan pengetahuan yang cukup dan pikiran yang sempurna. Karena hakekatnya supaya sampai kita bisa berkenal-kenalan (kenal mengenali) dan berhubungan dengan seluruh kaum Muslimin yang ketika itu berkumpul di tanah (kharamain) Mekkah dan Madinah.
Demikian itulah petunjuk cara menjalankan rukun-rukun Islam, sebagai langkah pertama dimasa sekarang ini. Apa yang tersebut itu supaya dibaca dengan tenang, dipikir dengan jujur, kemudian diserukan dan disiarkan kepada umum. Lagi pula dianjur-anjurkan dengan ajakan mengamalkannya sampai merata. Apabila sudah kita jalankan atau amalkan, maka insya Allah kita para kaum Muslimin dimasa sekarang ini bisa menjadi anggota utama dalam pembangunan negeri kita. Insya Allah. Amien.
***
Artikel ini pertama kali diterbitkan Majalah “Suara Muslimin Indonesia” No. 2 Thn. II – 15 Januari – 1944. Kemudian dibukukan oleh Drs H. Amir Hamzah Wiryosukarto dalam “Kiyai Haji Mas Mansur Kumpulan Karangan Tersebar”, halaman 5-7.





0 Tanggapan
Empty Comments