Dalam sejarah kepemimpinan Muhammadiyah, jarang ditemukan mertua-menantu yang sama-sama mencapai posisi puncak kepemimpinan organisasi. Namun, Jawa Timur memiliki catatan yang menarik. Di provinsi ini pernah ada mertua dan menantu yang dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM).
Dua tokoh tersebut adalah HM Saleh Ibrahim dan H Abdillah. Saleh Ibrahim dikenal sebagai Ketua PWM Jawa Timur yang kedua setelah KH Abdulhadi. Sementara Abdillah, yang merupakan menantunya, pernah menjabat Ketua PDM Kota Surabaya.
Saleh Ibrahim memimpin Muhammadiyah Jawa Timur selama dua periode. Yaitu 1959–1962 dan 1962–1965. Pada masa itu, struktur organisasi tingkat wilayah masih menggunakan nomenklatur Majelis Perwakilan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Wilayah. Dalam saat memimpin Jawa Timur itu pula, dia ikut merumuskan Kepribadian Muhammadiyah.
Sementara Abdillah dipercaya memimpin Muhammadiyah Kota Surabaya pada periode 1985–1990. Masa kepemimpinannya menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah organisasi karena untuk pertama kalinya digunakan istilah PDM). Sebelumnya, struktur di tingkat kota masih dikenal dengan nama Pimpinan Muhammadiyah Daerah (PMD).
Sebagai gambaran mudah, perkembangan struktur organisasi Muhammadiyah pertengahan abad ke-20 memang cukup unik. Di Surabaya, sejak dekade 1950-an hingga pertengahan 1960-an, juga terdapat Majelis Perwakilan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Daerah Surabaya. Ia membawahi wilayah eks-Keresidenan Surabaya.
Struktur ini merupakan pengembangan dari sistem Konsul Muhammadiyah atau Konsul Hoofdbestuur yang dibentuk berdasarkan keputusan Kongres ke-19. Fungsinya sebagai perpanjangan tangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di berbagai wilayah yang rerata mengikuti pembagian administratif keresidenan.
Konsul tidak mesti selalu berbasis Keresidenan, tapi terdiri beberapa cabang yang menjadi satu. Jika dikomparasikan kekinian, cabang saat itu biasanya berada di tingkat kota dan/atau kecamatan.
Di antara tokoh yang berperan penting dalam perkembangan struktur ini, Saleh Ibrahim menempati posisi yang istimewa. Pria ini lagir tahun 1901 di kawasan Tembok Sayuran, Surabaya, yang kini berada di sekitar Jalan Tidar. Sejak muda, aktif dalam gerakan Muhammadiyah dan menjadi salah satu rekan seperjuangan KH Mas Mansur.
Nama Saleh Ibrahim mulai banyak tercatat sejak terlibat dalam kelompok “Walirongpuluh” yang digagas KH Mas Mansur pada 1927. Kelompok ini menjadi wadah kaderisasi dan penguatan gerakan Islam modernis di Surabaya. Melalui aktivitas tersebut, Saleh semakin dikenal sebagai sosok yang konsisten mengabdikan diri untuk Persyarikatan.
Dalam perjalanan setelahnya, kiprah Saleh Ibrahim semakin menonjol. Pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia, ia dipercaya memimpin Panti Asuhan Muhammadiyah Surabaya. Lembaga sosial tersebut kemudian berkembang dan kini dikenal berlokasi di Jl. Gersikan, Surabaya.
Pengalaman panjang di berbagai bidang membuat Saleh Ibrahim dipercaya memegang sejumlah amanah di Persyarikatan. Ia tercatat sebagai Ketua Majelis Perwakilan PP Muhammadiyah Daerah Surabaya pada periode 1950–1953, 1953–1956, dan 1956-1959. Dari tingkat daerah inilah karier organisasinya berlanjut hingga dipercaya Ketua Majelis Perwakilan PP Provinsi Jawa Timur pada 1959–1962 dan 1962–1965.
Dalam perjalanan pengabdiannya, Saleh Ibrahim juga banyak berinteraksi dengan generasi kader berikutnya, termasuk Abdillah. Keduanya tidak hanya sama-sama aktif di lingkungan Muhammadiyah, tapi juga pernah bekerja bersama dalam sejumlah kegiatan organisasi.
Dokumen kepengurusan Muhammadiyah Cabang Surabaya periode 1953–1956 menunjukkan nama keduanya berada dalam satu struktur kepemimpinan. Saat itu cabang dipimpin oleh dr. Moh. Soewandhie, Saleh Ibrahim adalah Wakil Ketua I. Sementara Abdillah dipercaya mengemban tugas di Bagian Tabligh. Sebelumnya, keduanya juga tercatat terlibat dalam aktivitas Panti Asuhan Muhammadiyah Gersikan sejak pra-kemerdekaan.
Hubungan organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi hubungan keluarga. Saleh Ibrahim yang menikah dengan Siti Asyiyah dikaruniai delapan orang anak, yakni Siti Umiyah, Hidayatullah, Misdaroyah, Fuad Azizi, Makhsusiyah, Mudariyah, Nihayatul Hanum, dan Suyoso Rifqi.
Abdillah kemudian menikah dengan putri kelima Saleh Ibrahim, yaitu Makhsusiyah. Karena itulah, dalam aktivitas organisasi perempuan Muhammadiyah periode awal, baik di lingkungan Nasyiatul Aisyiyah maupun Aisyiyah, nama Makhsusiyah lebih dikenal sebagai Makhsusiyah Abdillah.
Seiring perjalanan waktu, Abdillah tumbuh menjadi salah satu tokoh penting Muhammadiyah Surabaya. Pada Musyawarah Daerah tahun 1985, ia dipercaya memimpin PDM Kota Surabaya menggantikan Drs. Ec. Lubis Arsyad Muthaher yang sebelumnya menjabat sejak 1978.
Meski demikian, ada satu hal yang tidak sempat terjadi. Ketika Abdillah akhirnya dipercaya menjadi Ketua PDM Kota Surabaya pada tahun 1985, Saleh Ibrahim tidak lagi dapat menyaksikan perjalanan menantunya tersebut.
Saleh Ibrahim telah wafat hampir dua dekade sebelum kepemimpinan Abdillah. Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur itu meninggal dunia pada Jumat, 1 Juli 1966, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1386 Hijriah atau hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
***
Biografi lebih lengkap tentang HM. Saleh Ibrahim bisa dibaca: M. Saleh Ibrahim, Ketua Muhammadiyah Jatim yang Ikut Rumuskan Kepribadian Muhammadiyah





0 Tanggapan
Empty Comments