Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menguatkan Pergaulan Islami Menyongsong HARGANAS 2026

Iklan Landscape Smamda
Menguatkan Pergaulan Islami Menyongsong HARGANAS 2026
Oleh : Muhammad Umar Abdurrohman Mahasiswa prodi HKI Umsura

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola interaksi dan pergaulan masyarakat secara cepat serta melampaui batas geografis. Arus informasi yang tidak tersaring menghadirkan berbagai budaya dan tren yang perlu kita sikapi secara kritis agar tetap selaras dengan nilai agama, moral, dan kebudayaan bangsa.

Pengaruh Media Digital Terhadap Kehidupan Sosial

Arus informasi yang semakin tidak terbendung kini membanjiri media sosial.

Kondisi ini memperoleh dukungan berupa kemudahan masyarakat dalam memperoleh perangkat digital, seperti HP, tablet, laptop, dan berbagai perangkat lain yang dapat mengakses internet.

Hampir seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua, telah menggunakan gawai dalam aktivitas sehari-hari.

Ketergantungan terhadap gawai menyebabkan sebagian orang merasa kesulitan ketika harus berhenti menggunakannya meskipun hanya sesaat.

Kondisi ini terjadi karena beragam tawaran fasilitas dan kemudahan oleh perangkat tersebut.

Akibatnya, sebagian masyarakat lebih memprioritaskan dunia digital sehingga berpotensi mengurangi kualitas interaksi sosial dalam kehidupan nyata.

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya secara mandiri.

Oleh karena itu, interaksi dan pergaulan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Pergaulan tersebut mencakup hubungan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya, orang tua dengan anak, sesama saudara, maupun anak dengan teman-temannya.

Karena pergaulan hampir pasti dialami oleh setiap individu, lingkungan pergaulan dapat membentuk sifat dan perilaku seseorang.

Dalam kondisi tertentu, pergaulan bahkan dapat menentukan arah masa depan seseorang.

Pentingnya Pergaulan yang Baik Guna Menjaga Keharmonisan Keluarga

Terdapat banyak perbedaan antara pola pergaulan saat ini dengan pergaulan pada masa lalu.

Sebagian besar generasi muda, khususnya generasi Z, cenderung mengikuti berbagai tren yang mereka temukan melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube.

Banyak di antara mereka mengikuti tren yang kurang sejalan dengan nilai moral, agama, dan budaya bangsa.

Mereka sering menganggap hal tersebut sebagai bentuk modernitas atau gaya pergaulan yang menarik, bahkan sebagian menganggapnya sebagai bentuk kebebasan berekspresi.

Sebagian kalangan mengikuti tren tersebut karena fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari sesuatu yang sedang populer.

Kondisi ini sering muncul karena kurangnya pemahaman mengenai batasan etika dalam kehidupan sosial dan agama.

Namun, tidak sedikit pula yang sebenarnya telah mengetahui bahwa perilaku tertentu tidak sesuai dengan norma agama dan etika sosial.

Pada titik inilah keluarga memiliki peran sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak.

Setiap orang tua, baik atau buruk kondisinya, tentu menginginkan kebaikan bagi anak-anaknya.

Keinginan tersebut dapat diwujudkan dengan mengajarkan agama dan etika sejak dini serta menanamkan prinsip-prinsip kebaikan yang akan melekat kuat dalam diri anak hingga dewasa.

Orang tua dapat memulai dengan mengajarkan Al-Qur’an dan hadis karena keduanya mengandung banyak contoh kebaikan yang dapat diteladani dan diajarkan kepada anak-anak.

SMPM 5 Pucang SBY

Selain itu, orang tua juga perlu memilihkan lingkungan pertemanan yang baik, bukan hanya berdasarkan kedekatan, tetapi juga memperhatikan etika dan nilai keagamaan.

Dengan demikian, anak dapat berkembang sesuai dengan nilai moral dan keagamaan yang baik.

Langkah-Langkah Dalam Menjaga Pergaulan

Upaya menjaga pergaulan dapat dimulai dengan membatasi hingga mengatur penggunaan gawai bagi anak yang masih berada dalam fase perkembangan emosional dan kognitif.

Sebab, meskipun gawai memberikan banyak manfaat, penggunaannya tetap memiliki potensi dampak negatif apabila tidak mendapatkan pengawasan yang tepat.

Orang tua juga tidak seharusnya menjadikan gawai sebagai solusi instan ketika anak mengalami ketidaknyamanan atau kesulitan mengendalikan emosi.

Jika hal tersebut terus dilakukan, anak dapat mengalami ketergantungan yang berpotensi menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan keluarga.

Selain menghindari kecanduan gawai, ilmu dan etika memiliki peran penting dalam membangun pola pikir serta cara pandang anak di masa depan.

Fase kanak-kanak sering dianggap sebagai masa bermain dan eksplorasi.

Namun, periode tersebut justru menjadi tahap perkembangan kognitif yang sangat baik untuk menanamkan pengetahuan dan nilai moral.

Oleh karena itu, orang tua perlu menyisipkan ilmu dan nilai kebaikan dalam permainan serta aktivitas sehari-hari agar tertanam kuat dalam diri anak.

Peran Penting Orang Tua Dalam Mengokohkan Keharmonisan Rumah Tangga

Sebagian orang tua merasa bahwa pengawasan terhadap anak hanya berlaku selama masa kanak-kanak hingga masa sekolah berakhir.

Setelah itu, mereka memberikan kebebasan penuh dengan anggapan bahwa anak telah dewasa dan mampu menentukan pilihan baik atau buruk.

Padahal, pendampingan dan pemberian nasihat perlu terus dilakukan secara berkelanjutan meskipun anak telah memasuki usia dewasa.

Hal tersebut penting untuk memastikan anak memiliki ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan serta tetap berada dalam nilai agama, moral, dan etika yang telah ditanamkan sejak kecil.

Orang tua tidak perlu mengekang dan membatasi anak secara berlebihan agar mereka menjadi pribadi yang baik dan bahagia.

Masa perkembangan anak merupakan waktu untuk mengasah kemampuan, melatih mental, dan membangun kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan bermasyarakat.

Orang tua perlu memberikan pendampingan dan pengawasan secara proporsional melalui komunikasi yang efektif, pengelolaan emosi, serta sikap tidak mudah menyimpulkan sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan pribadi anak.

Dukungan positif dan konstruktif menjadi bentuk kasih sayang yang sangat penting.

Selama anak tetap berada dalam ajaran kebaikan, tidak melanggar ketentuan syariat agama, dan menjaga etika sosial, orang tua perlu terus memberikan doa serta nasihat sebagai bentuk pengawasan dan cinta.

Dengan cara tersebut, insyaallah hubungan keluarga dapat terbangun secara harmonis dan menjadi fondasi ketahanan keluarga.

Wallahu A’lam.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu