Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kata-Kata Soekarno saat Resmi Masuk Muhammadiyah pada 1938

Iklan Landscape Smamda
Kata-Kata Soekarno saat Resmi Masuk Muhammadiyah pada 1938
KH Mas Mansur berfoto dengan Soekarno saat menjenguknya di tempat pembuangan, Bengkulu (Foto: Repro/PWMU.CO)
Oleh : Muh Kholid AS

Bengkulu menjadi kota bersejarah bagi Muhammadiyah dan Presiden pertama Republik Indonesia (RI), Soekarno. Dalam sebuah acara resmi Muhammadiyah pada 1938, terlontar pidato Soekarno yang berisi kata-kata menyentuh. Sekaligus pernyataan bahwa Soekarno masuk Muhammadiyah.

Setelah beberapa tahun menjalani pembuangan oleh kolonial Belanda di Ende, Flores, Soekarno dipindahkan ke Bengkulu. Di kota inilah hubungan sang proklamator dengan Muhammadiyah berkembang semakin erat. Hingga akhirnya resmi menjadi anggota Muhammadiyah dan aktif dalam kegiatannya.

Momentum bersejarah itu berlangsung pada Agustus 1938. Pada tanggal 19-24 Agustus 1938, diselenggarakan konferensi. Pesertanya Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pengurus pendidikan serta para guru Muhammadiyah Bengkulu. Dalam forum itu, suasana penuh kegembiraan menyelimuti keluarga besar Muhammadiyah. Di antara salah satu sebabnya, adalah karena Soekarno mengikrarkan menjadi anggota Muhammadiyah.

Dalam berbagai pidato sambutan yang disampaikan dalam konferensi itu, para tokoh Muhammadiyah mengungkapkan rasa syukurnya. Kehadiran tokoh nasional yang telah dikenal luas di seluruh Hindia Belanda itu dipandang sebagai tambahan kekuatan. Terutama dalam menyebarluaskan gerakan dakwah dan pembaruan Islam yang sedang berkembang.

Pada kesempatan yang sama, Soekarno menyampaikan pidato sambutan yang kemudian menjadi salah satu pernyataan paling terkenal. Di hadapan para peserta konferensi, ia berkata dengan penuh ta’dzim.

“Saudara-saudara, terimalah saya sebagai saudara tuan seagama dan sebangsa, bawalah saya bekerja bersama tuan untuk berbakti kepada Allah. Saya serahkan diri saya kepada Perkumpulan Muhammadiyah. Saya percaya secukupnya tuan yang membawa saya kepada jalan saya di mana tuan merasa perlu,” kata Soekarno.

Pernyataan itu menunjukkan kerendahan hati Soekarno. Meski dikenal sebagai pemimpin pergerakan nasional dan tokoh berpengaruh besar di kalangan rakyat, ia datang ke Muhammadiyah bukan sebagai seorang pemimpin. Melainkan sebagai sosok yang bersedia untuk dibimbing dan bekerja bersama-sama dalam perjuangan yang dijalankan Muhammadiyah.

Dalam pidato yang sama, Soekarno juga menyebut sejumlah tokoh Muhammadiyah yang selama ini dikenalnya secara dekat. “Ketua-ketua Muhammadiyah yang memakai sarung, tuan K.H. Mas Mansur, tuan H. Yunus Djamaluddin dan Engku Sutan Mansyur saya kenali dekat, orang yang boleh dibawa berunding. Sekarang terimalah saya ……”

SMPM 5 Pucang SBY

Pilihan kata “orang yang boleh dibawa berunding” menunjukkan bahwa Soekarno menghargai budaya dialog yang ada di Muhammadiyah. Bagi Bung Karno, Muhammadiyah bukan organisasi yang kaku. Ia adalah laboratorium pemikiran tempat ia bisa bertukar gagasan, menguji dialektika keislaman, dan mencari formulasi terbaik bagi kebangkitan bangsa.

Ungkapan itu juga memperlihatkan penghormatan Soekarno kepada para pemimpin Muhammadiyah. Ia menilai mereka sebagai pribadi-pribadi yang terbuka untuk berdialog dan berdiskusi. Penyebutan nama-nama tokoh itu sekaligus menunjukkan bahwa hubungan Soekarno dengan Muhammadiyah sesungguhnya telah terjalin jauh hari.

Masuknya Soekarno ke Muhammadiyah tidak berhenti pada simbol keanggotaan. Selama tinggal di Bengkulu, ia terlibat aktif dalam berbagai kegiatan Persyarikatan. Ia tidak sekadar hadir dalam acara-acara resmi, tetapi juga mengambil peran langsung dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah.

Di Bengkulu, Soekarno bekerja bahu-membahu dengan tokoh-tokoh lokal. Salah satunya adalah Hasan Din, Konsul Muhammadiyah Daerah Bengkulu saat itu. Siapa sangka, melalui interaksi di Muhammadiyah inilah, Soekarno kelak akan bertemu dengan Fatmawati. Putri dari Hasan Din, yang kemudian menjadi pendamping hidupnya dan penjahit bendera Sang Saka Merah Putih.

Selain Hasan Din, ada pula sosok menarik lainnya. Oei Tjin Hin. Seorang warga keturunan Tionghoa yang telah memeluk Islam dan menjadi pengurus Muhammadiyah yang sangat aktif. Keberadaan Soekarno bersama Hasan Din dan Oei Tjin Hin di dalam satu majelis adalah potret mini dari Indonesia yang dicita-citakan oleh Bung Karno. Sebuah bangsa yang terdiri dari beragam latar belakang, tapi dipersatukan nilai-nilai Islam yang inklusif dan progresif.

Soekarno sendiri mulai kenal Muhammadiyah sejak tahun 1916, saat tinggal di Peneleh VII Surabaya. Saat dia berusia 15 tahun, dia mengikuti pengajian yang diisi KH Ahmad Dahlan. Pengajian diselenggarakan di bangunan yang berada tepat di depan rumah Tjokro.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 20/06/2026 08:25
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu